052517-afp

Waspadai Konflik Marawi, Indonesia-Austalia Gelar Pertemuan

BERITAPLATMERAH, MANADO-Konflik akibat serangan militan Maute yang berbaiat kepada ISIS di Marawi, Filipina, membuat negara-negara sekitar khawatir akan ancaman serupa.

Dengan pertempuran yang masih berlangsung hingga hari ini, Indonesia dan negara-negara sekitarnya menggelar pertemuan di Manado untuk membahas antisipasi terorisme lintas batas.

Pertemuan yang digelar pemerintah Indonesia dan Australia, Sabtu (29/7), turut menghadirkan perwakilan dari Filipina, Selandia Baru, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Jaksa Agung Australia George Brandis mengatakan konflik di Marawi membuat pihaknya menyadari ancaman teror semacam itu mesti diantisipasi.

“Konflik Marawi langsung mengingatkan kita pada pentingnya dan dekatnya ancaman ini pada kita. Dan pantas, karena itu, fokus pertemuan ini untuk membahas terorisme lintas batas dan strategi pasukan teroris asing,” ujarnya dalam pidato pembukaan di Hotel Four Points Manado.

Pertempuran di Marawi masih berlangsung hingga hari ini, dua bulan setelah militan Islamis melancarkan serangan terhadap salah satu kota terbesar di Filipina itu. Presiden Rodrigo Duterte pun menyatakan siap jika konflik mesti berjalan hingga setahun lamanya.

Para petinggi pertahanan negara tersebut mengakui telah meremehkan para militan pro ISIS yang sangat terorganisir itu. Mereka menyapu kota pada 23 Mei lalu dan masih menguasai sebagian daerahnya meski terus digempur oleh ratusan tentara yang dibantu serangan udara dan artileri.

Kongres Filipina telah menyetujui permintaan Duterte untuk memperpanjang darurat militer hingga akhir tahun di Mindanao. Dengan demikian, pasukan keamanan sekaligus mendapatkan kewenangan lebih besar untuk mengejar para ekstemis hingga ke luar Marawi.

Brandis tidak menjelaskan secara rinci kerja sama seperti apa yang bakal dihasilkan dari pertemuan sub-kawasan ini. Dalam kesempatan ini, wartawan belum diperkenankan untuk mengajukan pertanyaan.

Dia hanya mengatakan “kita berkumpul hari ini sebagai mitra di kawasan, sebagai teman, untuk berbagi pengalaman kerja sama, berkolaborasi untuk lebih meningkatkan respons kita memerangi kejahatan terorisme.”

“Pertemuan ini bukan hanya sekadar untuk bicara. Ini adalah pertemuan untuk bekerja. Pertemuan yang akan memproduksi potensi hasil yang bisa kita sama-sama gunakan untuk menghadapi kejahatan terorisme,” ujarnya.

Selain Brandis, pertemuan juga dihadiri delegasi dari negara-negara terkait yang masing-masing dipimpin Penasihat Keamanan Nasional Filipina Hermogenes Esperon, Menteri Luar Negeri Selandia Baru Gerry Brownlee, Wakil Menteri Dalam Negeri Malaysia Datuk Masit Kujat dan wakil Menteri pada Kantor Perdana Menteri Brunei Datuk Hamdan bin Abu Bakar.

Sementara dari Indonesia, delegasi dipimpin oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto, diikuti Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Komisaris Jenderal Suhardi Aliyus.

Sama seperti Brandis, Wiranto tidak menjelaskan secara rinci soal pertemuan ini. Dia hanya mengatakan pertemuan sub-kawasan pertama ini adalah bentuk komitmen menghadapi ancaman terorisme yang semakin nyata.

“Saya harap pertemuan ini dapat kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya dalam membahas isu-isu yang berkaitan dengan pemberantasan terorisme, termasuk upaya kita mengatasi ancaman di laut Sulawesi dan Laut Sulu,” ujarnya.(cnn)