Wartawan Online di Medan Diancam Akan Dibunuh

0
4

Seorang jurnalis sebuah media online di Medan, Muhammad Arief Tampubolon, diancam akan dibunuh gara-gara karya jurnalistiknya. Arief menginvestigasi laporan seputar seorang pejabat Pemerintah Provinsi Sumatra Utara yang ditangkap gara-gara kedapatan berjudi.

Penyelidikan Arief bermula ketika seorang penjabat wali kota di salah kota di Sumatra Utara tertangkap main judi di sebuah hotel di Medan pada Mei 2018. Belum lagi tulisan investigasinya siap ditulis, Arief diteror oleh orang diduga suruhan si pejabat.

Arief sudah melaporkan ancaman itu kepada polisi. Dalam konferensi pers di Medan pada Senin malam, 9 Juli 2018, Arief menceritakan pengungkapan kasus perjudian seorang pejabat bersama lima rekannya yang diduga dalang teror.

Mulanya, Arief mendapat informasi bahwa telah ditangkap seorang pejabat berinisial SH karena bermain judi. SH ditangkap bersama lima orang rekannya, masing-masing berinisial OD (kontraktor), AH (pejabat eselon tiga Pemprov Sumut), PS (kontraktor), Srh (pegiat politik), dan RD (pegiat politik).

Arief kemudian berinisiatif mengumpulkan data dan dokumentasi tentang penangkapan itu. Sebab enam orang yang ditangkap diduga dilepaskan dari jerat hukum oleh oknum aparat pada 21 Mei, sehari setelah penangkapan.

Setelah sebulan penyelidikan, Arief pun menemukan informasi yang lebih terang. Dia mendapat sejumlah data dan dokumentasi saat penangkapan enam orang itu, di antaranya foto SH saat di ruang penyidikan, foto KTP elektronik milik SH, dan foto saat keenam orang itu ditangkap di dalam kamar hotel. Arief juga mendapat bukti penting, yakni rekaman video saat penggerebekan.

Dalam video terlihat lima orang yang ditangkap. Lalu petugas memperlihatkan kartu remi dan mengutip uang yang ada di atas tempat tidur.

“Saya kenal semua yang ada di video tersebut. Yang menangkap itu polisi. Saya kenal mereka,” kata Arief sembari menyebut beberapa nama polisi yang ada dalam video.

Upaya konfirmasi

Arief tidak langsung menuliskan berita dan mempublikasikan video itu lantaran menimbang dalam video diduga terekam beberapa aparat penegak hukum. Dia pun masih memperkuat informasi agar beritanya tidak membuatnya tersandung hukum.

Setelah mendapat informasi dan bukti terkait pelepasan enam orang itu dari jerat hukum, Arief mengonfirmasi sejumlah pihak, di antaranya SH dan polisi.

Bukannya mendapat jawaban atas konfirmasi, Arief malah dihubungi oleh sejumlah pihak yang mengaku orang suruhan SH. Pihak yang menghubungi itu juga berniat untuk bertemu Arief.

Arief mengaku mereka yang menghubunginya diperintahkan agar bernegosiasi dengannya untuk tidak menerbitkan berita hasil investigasinya. Orang suruhan yang menghubungi dan menemui Arief bukan sembarang orang; mereka berlatar belakang profesi politikus, pejabat pemerintahan, akademisi dan pengurus organisasi kepemudaan.

Orang-orang itu pun menawarkan sejumlah uang agar Arief tidak menyebarkan video penggerebekan dan tidak membuat beritanya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here