Stasiun Antariksa China Rusak, Diprediksi Hantam Wilayah Indonesia

0
6

Stasiun antariksa milik China Tiangong-1 dilaporkan akan jatuh ke Bumi dan diprediksikan menghantam wilayah Indonesia. Diketahui oleh otoritas antariksa China, Tiangong-1 telah mengalami kerusakan dan tidak dapat dikontrol lagi sejak 16 Maret 2016.

Stasiun luar angkasa pertama miliki Negeri Tirai Bambu itu dalam masa operasionalnya telah memberikan kontribuasi kepada penelitian antariksa bagi China sejak diluncurkan 30 September 2011 dari Jiuquan Satellite Launch Center, China.

Prediksi ini tak terlepas dari hasil litbang kepunyaan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang memiliki sistem pemantau benda jatuh dari luar angkasa secara real time. Laman situs orbit.sains.lapang.go.id ini mampu memuat berbagai macam informasi daftar benda beserta identitas, karakteristik, dan tanggal prediksi jatuhnya.

LAPAN menuturkan pada 4 Mei 2017, China menyampaikan kepada Komite PBB untuk penggunaan aktivitas antariksa secara damai (United Nations Committee ont the Peaceful Uses of Outer Space – UNCOPUOS) mengenai laboratorium antariksa mereka akan mengalami re-entry atau masuk kembali ke atmosfer Bumi.

Tiangong-1 memiliki inklinasi orbit 43 derajat sehingga seluruh daerah di Bumi mulai dari 43 derajat LU hingga 43 derajat LS memiliki peluang untuk kejatuhan satelit ini seperti yang ditunjukkan pada gambar. Satelit dikatakan mengalami re-entry jika telah melewati ketinggian di bawah 120 kilometer.

LAPAN mengatakan, dari ukuran dan massa Tiangong-1 diperkirakan akan ada bagian dari satelit tersebut yang akan tersisa hingga ke permukaan Bumi saat satelit tersebut terbakar memasuki lapisan atmosfer.

Bagian yang kemungkinan besar tersisa adalah tangki bahan bakar sehingga sangat berbahaya jika disentuh langsung. Tangki bahan bakar tersebut kemungkinan masih mengandung Hidrazine yang merupakan bahan beracun dan bersifat korosif.

Tiangong-1 dalam masa operasionalnya telah mengalami setidaknya 14 kali penyesuaian ketinggian dengan menaikkan kembali ketinggian menggunakan mesin roketnya. Penyesuaian ketinggian terakhir dilakukan pada 16 Desember 2015. Gambar 3 menunjukkan profil ketinggian Tiangong-1 sejak diluncurkan hingga tanggal 9 Maret 2018 menggunakan data elemen orbit Tiangong-1 milik NORAD Amerika Serikat (www.space-track.org).

Peristiwa akan jatuhnya Tiangong-1 ini sangat penting untuk dilakukan monitoring mengingat ukurannya yang cukup besar. Selain itu, faktor terpenting lainnya adalah satelit ini sudah tidak dapat dikontrol lagi dan letak Indonesia yang memanjang di ekuator akan memberikan peluang sangat besar untuk kejatuhan satelit tersebut.

Berdasarkan data elemen orbit per tanggal 9 Maret 2018, diperkirakan Tiangong-1 akan mengalami re-entry sekitar kurang lebih 10 April 2018. Prediksi ini, kata LAPAN, masih dapat berubah, mengingat aktivitas Matahari dan geomagnet yang akan mempengaruhi kondisi kerapatan atmosfer yang dilalui satelit tersebut.

Disebutkan aktivitas Matahari dan geomagnet sangat rendah, diperkirakan proses re-entry ini akan terjadi lebih lama daripada waktu yang telah diprediksikan sebelumnya.

Tiangong-1, berdasarkan sistem LAPAN, mempunyai deskripsi sebagai berikut:

Type : Payload
Kode Internasional : 2011-053A
No. Katalog NORAD : 37820
Waktu Peluncuran : 2011 September 30 @ 03:16:03.507 UTC
Tempat Peluncuran : Jiuquan Satellite Launch Center, China
Misi : Tiangong-1, Stasiun Luar Angkasa Pertama Cina
Massa : 8500 kg saat diluncurkan
Panjang : 10.5 m
Diameter : 3.4 m
Panel Surya : 2 panels (7 m x 3 m)

Proses re-entry Tiangong-1 ini nantinya dapat diikuti dari situs resmi Pemantauan Realtime Benda Jatuh Antariksa Buatan milik LAPAN di alamat https://orbit.sains.lapan.go.id serta twitter @OrbsatLAPAN.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here