Arifin Ilham

Sindiran Sumanto Al Qurtuby Ke Ustad Arifin Ilham,Hebohkan Netizen

Postingan itu pun menjadi viral dan dikomentari netizen. Saat berita ini diturunkan, postingan itu sudah dibagikan 1.442 kali, dikomentari sebanyak 1 ribu lebih netizen, dan 6,9 ribu like.

Berikut postingan Sumanto Al Qurtuby tersebut:

Imajinasi Jihad di Jalan Allah

Kalau dilihat dari foto ini (itupun kalau bukan hoax alias “foto editan” he he), sepertinya Pak Ustad Arifin Ilham sedang semangat latihan perang-perangan menggunakan parang. Ciaattt ciaaatttt. Mungkin ia sedang kangen dan merindukan suasana masa lampau Islam. Pak ustad yang hobi mewek dan nangis-nangis kalau ceramah ini juga beberapa kali menyerukan “jihad” (maksudnya “perang”) dengan heroiknya dan “gagah perkasa”.

Jihad melawan siapa? Mau jihad dimana? Jihad melawan Pak Jokowi dan pemerintah? Itu mah bukan jihad namanya bro. Kalian baru “valid” melakukan jihad di Indonesia, kalau hak-hak seorang Muslim untuk beribadah dan berekspresi dibatasi dan diberangus seperti dulu zaman pemerintah kolonial. Lah sekarang, kalian bebas-merdeka mau melakukan apa saja gak ada masalah. Mau haji atau umrah puluhan kali silakan. Mau bikin masjid / musalla di tiap gang silakan. Mau bengak-bengok ceramah silakan. Bahkan sangking bebasnya, kalian bisa salat seenaknya di jalan raya, kan? Yang itu susah terjadi kalau bukan di Indonesia mas bro. Jihad itu kalau melihat pemerintah telah berbuat jahat dan kekerasan serta korup dan menindas rakyat. Itupun tidak perlu pakai pedang kaleee. Jadul amat.

Atau jangan-jangan mau ikut perang di Irak dan Suriah bergabung dengan gerombolan preman ISIS dan komplotannya? Hanya orang pikun dan rabun atau mereka yang “mabuk agama” saja yang menganggap perang di Irak atau Suriah itu sebagai “jihad di jalan Allah”. Anggapan berperang di Irak atau Suriah sebagai “jihad di jalan Allah” itu hanyalah imajinasi belaka yang mungkin lantaran kebanyakan baca komik dan main game.

Buka mata Anda lebar-lebar, jembreng telinga kalian lebar-lebar, baca tulisan-tulisan akademik sebanyak-banyaknya, perang di Irak, Suriah dan dimanapun itu bukanlah masalah agama atau akidah tapi soal perseteruan geo-politik, perkelahian rebutan sumber-sumber ekonomi, gegeran soal batas-batas teritori, perebutan otoritas suku dan klan, perebutan supremasi etnik, dlsb. Tidak ada perang antara masyarakat Sunni dan Syiah.

Yang ada dan terjadi saat ini adalah perang oleh sejumlah kelompok kepentingan (dari mana saja dan ideologi apa saja) yang “ereksi” alias “ngaceng” ingin menguasai aset-aset politik, ekonomi, teritori / geografi, dlsb. Karena sudah “ereksi”, mereka pun membabi buta memerangi dan membunuh siapa saja yang dianggap sebagai penghalang niat busuk mereka, sebuah tragedi yang hanya mengakibatkan penderitaan bagi rakyat biasa–apakah itu Sunni, Syiah, Arab, Kurdi, dlsb, yang kini terlunta-lunta hidup dalam kelaparan dan keterbatasan di berbagai tempat pengungsian.

Jadi kalau niatnya berangkat ke kawasan ini itu untuk ikut berperang, maka itu sama sekali bukan “jihad di jalan Allah” tapi “jihad di jalan setan teroris-ektrimis”, dan kalau mati jelas bukan mati syahid tapi “mati sangit” alias “abu gosong”. Itulah sebabnya kenapa sebagian pemuda Saudi yang dulu ikut berperang di Irak dan Suriah dengan niat awal “jihad di jalan Allah” banyak yang mudik dan kapok karena mereka menyaksikan berbagai kejahatan kemanusiaan di lapangan yang dilakukan oleh kelompok yang mengaku “berjihad” tadi, jauh dari nilai-nilai dan norma-norma keislaman.

Kalau mau “berjihad di jalan Allah”, maka bantulah para pengungsi itu, tolonglah rakyat (orang tua, anak-anak, perempuan, dlsb) yang tidak tahu menahu tentang konflik dan kekerasan itu tapi kemudian ikut menjadi korban ganasnya perang.

Bahkan kalau mau berjihad di jalan Allah tidak perlu capek-capek dan jauh-jauh ke Timur Tengah tapi cukup dilakukan di Indonesia dengan membantu pengentasan kemiskinan, memerangi kebodohan, menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan, membantu meningkatkan kualitas pendidikan, membantu memberantas praktek korupsi, membantu mengatasi kejahatan kemanusiaan, dlsb.

Jadi, saudaraku, insaflah, bertaubatlah, kembailah ke jalan yang benar, yaitu jalan yang diridlai Allah, bukan yang diridlai setan teroris-ekstrimis. Pintu taubat selalu terbuka buat siapa saja yang ingin memperbaiki kualitas hidupnya dan pemahaman agamanya…

Netizen pun mengomentari postingan tersebut. Berikut beberapa komentar netizen:

Juli Abet Simbolon, “Hal yg simpel sajalah Prof. Kalo mau ber jihad dimulailah dari dalam keluarga. Sebagai kepala keluarga, harusnya bekerja keras menghidupi nafkah anak & istri. Cari pekerjaan yg halal. Jangan malas. Ajari anak2 agar hidup ber sosialiasi dgn siapa saja. Itu contoh jihad kecil yg sgt bernilai. Hidup gak cukup hanya dengan membaca dan membahas kitab suci. Tapi implementasi nilai2 ajaran agama, itu yg lebih penting.”

Delma Alin, “Inilah orang yg sedikit ilmu pengetahuan, mencoba menjadi uztad, dan melakukan hal yg salah, kasihan umat yg kadung percaya dan mengidolakan mewek2 beliau.. ijin share ya Prof. Agar umat bnyk yg paham dgn membaca tulisan Prof.”

Siscaria V Simamora, “Memerangi kebodohan itu yg terpenting, dengan pengetahuan maka kemiskinan dapat di tekan dan kesejahteraan dapat ditingkatkan. Sayangnya masih banyak yg gak sadar dgn kebodohannya dan orang2 banyak yg memanfaatkan org2 yg bodoh itu unt kepentingannya.”

Ivan Ali Jihad, “sekarang jauh lebih berat karena yang diperangi hawa nafsu diri sendiri, yang tidak kuat telepon Kak Emma.”

Harlan Hakim, “Berjihad di Indonesia,,,, Masih banyak wilayah Indonesia yang membuturhkan bantuan tenaga dan pikiran dari warga Indonesia lainnya… Ayo ayo ayo.”

Della MIla Alfasya, “mengenai perang di arab sono gara2 rebutan sumber ekonomi dan perebutan wilayah dll.. yg bukan perkara akidah saya sependapat dgn pak sumanto. tapi pemaparan njenengan dengan mengejek seseorg itu yg sgt saya sesalkan. bagaimanapun ustadz arifin ilham byk memberikan contoh kebaikan. cblah datang ke addzikra… adakah yg salah ketika beliau bedzikir menyebut asma Alloh dengan rasa cinta, rindu dan takut sehingga beliau menitikkan air mata. saya pribadipun akan luluh hati ketika asmaNya dikumandangkan. kalaupun beliau salah (menurut njenengan) dlm pandangan jihad. sampaikanlah dgn baik. tanpa perlu mencela terlebih dahulu. Kembali lagi saya sampaikan ke pak sumanto, sebagai seorg yg bergelut dibidang akademis, sampaikanlah segala sesuatu dgn cara yg lbh santun. jgn lah pak sumanto ikut2an melabeli seseorg dgn sebutan ustd mewek ato lain2. spt ketika anda dilabeli sbg seorg liberal ato yg lain2… itupun sgt tdk menyenangkan.”

Angela Chris, “Pertobatan memang perlu sekali bagi orang2 beriman. Satu orang bertobat dunia ini akan bertambah terang. Sadarlah dan kita mulai dari diri kita masing2. Semakin banyak orang melaksanakan pertobatan kedamaian akan menggema dimuka bumi ini.”

Hasan Mohammad Nur, “Kenapa harus merendahkan orang lain prof. Belum tentu anda lebih mulia dibanding dg orang anda ghibah kali ini. Relakah anda memakan bangkai saudara sendiri prof ?”

Erisman K. Gultom, “Klo keluar kagak berani Kang Prof….beraninya memerangi bangsa sendiri dengan atas nama agama dan gema takbirnya. Surga mereka pasti berbeda dengan surga yg akan disediakan buat kita.”

Nadzir Aldi, “Masih relevankah jihad dg mengangkat pedang ato senjata apalagi jihad di indonssia…apa yang dijihadkan….aturan hkm indonesia tdk ada yg melarang umat islam utk mlksankn ajaran islam…bhkn negara memberikan perlindungan….jihad yg pas d indonesia adlh jihad mlwn nafsu….kyk nafsu korupsi, nafsu paling benar yg lain salah, nafsu syahwat …menikahi janda dg alasan mengikuti rasul…Nabi mah yg d nikahi janda yg udah nggak menarik…kalo janda muda dan xantik ue jg mau…dan jihad snjata udah lewt…msh kita adlh kebodohan kita syahwat kta….jk jihad d indonesia pake senjata bkn jijad tapi bughat yg hrs dilenyapkan dr bumi peetiwi….”

Sumanto al-Qurtubi merupakan staf pengajar di Saudi, tepatnya kampus King Fahd University of Petroleum and Minerals. Pria yang mengaku bercita -cita “MengIndonesiakan Arab” ini mengaku menolak mengajar di kampus barat dan memilih Saudi. (by/Sumber: akun facebookSumanto Al Qurtuby)