nkri

Seruan Perkuat NKRI dari Seluruh Negeri

 

BERITAPLATMERAH – Serangkaian peristiwa sepanjang November 2016 menjadi pelajaran berharga bagi seluruh rakyat Indonesia. Ujian bagi kedewasaan demokrasi yang dipegang teguh negeri ini. Bulan ini dibuka dengan situasi yang memanas setelah Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau akrab disapa Ahok mengeluarkan pernyataan yang dinilai sebagai bentuk penodaaan atau penistaan terhadap agama tertentu, dalam hal ini Islam. Ahok mengaitkan pemilihan kepala daerah dengan ayat Alquran yang membuat marah umat muslim.

Kemarahan itu langsung disampaikan dalam bentuk aksi demonstrasi pada 4 November 2016. Jantung Kota Jakarta lumpuh, ribuan orang dari berbagai organisasi keagamaan turun ke jalan, berujuk rasa sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin. Unjuk rasa yang semula berjalan damai berakhir ricuh setelah terjadi bentrokan antara massa aksi dengan petugas kepolisian.

Setelah peristiwa itu, isu Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) yang selama ini selalu dihindari demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, justru muncul ke permukaan. Jagat dunia maya, khususnya media sosial dipenuhi kebencian dan beragam unggahan bernada provokatif yang dengan mudah mengacak-acak emosi masyarakat. Belum lagi muncul isu adanya upaya makar atau menjatuhkan pemerintahan yang sah. Semua pihak baik pemerintah, politisi, pemuka agama, kepolisian, hingga tentara dibuat sibuk meredam suhu politik nasional yang semakin memanas.

Hingga akhirnya di penghujung bulan, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo melontarkan gagasan menggelar aksi serentak di seluruh negeri. Gerakan aksi Nusantara Satu, bentuknya beragam mulai dari apel kebangsaan, parade kebudayaan, doa bersama. Namun dengan satu ciri khas, ikat kepala berwarna merah putih. “Tanggal 30 pagi mari bersama sama dengan ikat kepala merah putih dengan judul nusantara satu. Temanya Indonesia milikku, Indonesia milikmu, Indonesia milik kita bersama,” ujar Gatot di Gedung C Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat (24/11).

Gagasan ini disambut positif semua daerah di Indonesia. Tepat 30 November 2016, sebagian besar daerah di Indonesia melakukan aksi Nusantara Satu. Pemerintah daerah, kepolisian daerah, perwakilan TNI di daerah, PNS, pelajar hingga seniman bersatu padu. Mereka kompak menyerukan semangat memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia. DI ibu kota Jakarta, apel Nusantara Satu digelar di Silang Monas. Panglima TNI Jenderal Gatot, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian serta Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono hadir dengan ikat kepala merah putih.

“Kita meyakini hanya dengan bersatu kita bisa pertahankan NKRI. Semua perbedaan yang kita punya harus menjadi kekuatan bagi kita, bukan jadi pemecah,” tegas Kapolri Jenderal Tito.

Plt Gubernur DKI Sumarsono mengingatkan, memelihara dan menjaga persatuan bangsa adalah kewajiban setiap warga negara, bukan hanya sebagian kelompok saja.

“Semua yang hadir di sini ada pemuda, ada mahasiswa, ada pelajar, dan semua tokoh agama kumpul disini untuk kembali meneguhkan bahwa kita semua bersaudara, kita berbhineka, bahwa kita Inddonesia. Indonesia milikku, indonesia milikmu, dan indonesia milik semuanya,” ujar Sumarsono atau yang akrab disapa Soni.

Tiga pemimpin muda di Tangerang Raya yakni Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar, Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah dan Wali Kota Tangsel Airin Rachmi Diany kompak menyerukan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan demi NKRI. Hal tersebut disampaikan para kepala daerah se-Tangerang Raya dihadapan ribuan masyarakat dari berbagai elemen, tokoh agama, TNI/Polri se-Tangerang Raya yang mengikuti Apel Nusantara Bersatu di Lapangan Citra Raya, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang.

“Kita yang ada disini adalah saudara, oleh karenanya jangan mudah dipecah belah,” kata Wali Kota Tangerang Arief R. Wismansyah.

Ribuan massa terdiri dari pelajar, mahasiswa, organisasi massa (ormas) dan warga Purwakarta ikut memeriahkan silaturahmi nusantara bersatu. Mereka melakukan longmarch dipimpin Bupati Dedi Mulyadi, Kapolres AKBP Trunoyudo Wisnu Andiko, Dandim 0617 Letkol Inf Arrie Depia Maulana Mapangara. Sepanjang jalan, massa bernyanyi lagu-lagu nasional.

“Ini adalah aksi untuk memperteguh jiwa kebangsaan kita bahwa Indonesia negara besar, bangsa yang menghormati perbedaan dan bangsa Indonesia dibangun oleh keringat dan darah. Karenanya, ini sekaligus mengingatkan kita semua bahwa Indonesia harus tetap tegak berdiri takkan pernah runtuh,” kata Bupati Dedi didampingi Kapolres dan Dandim.

Aksi Nusantara Bersatu juga digelar di Lapangan Gasibu, Bandung, Jawa Barat. Warga tumpah ruah di lapangan yang lokasinya tepat berada di depan Gedung Sate, Kota Bandung. Mereka kompak menggunakan ikat merah putih di kepala.

“Saya mewakili umat Budha di Provinsi Jabar sangat senang tinggal di sini. Yang paling penting saya sukai kerukunan antar umat beragama di sini, semoga kedaiamaian tetap terjaga di sini, dan ini adalah bagian dari upaya NKRI,” ujar Biksu Duta Ratano dalam orasinya mewakili umat Budha.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyebut Indonesia itu unik. Dengan 17.000 pulau dan 680 bahasa daerah, Indonesia dianugerahi satu wadah Bhineka Tunggal Ika melalui Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Indonesia jadi negeri unik dengan keperluan terbesar di dunia, jumlah pulau dikita ada 17 ribu, bahasa daerah kita ada 680 bahasa daerah dan ada berbagai etnis, agama dan suku bangsa. Coba adakah bangsa yang memiliki keragaman tersebut?,” kata pria yang akrab disapa Aher tersebut.

Karena itu penting bagi semua pihak untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan. “Kita sepakat negara kita ialah NKRI. NKRI adalah harga mati. Jangan sampai kita mau dipecah belah oleh pihak tertentu, kita harus membela bangsa ini demi terwujudnya NKRI,” tegasnya.

Di Jawa Tengah, warga berkumpul di Lapangan Simpang Lima, Semarang untuk mengikuti apel Nusantara Satu. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan musisi legendaris Iwan Fals tampak hadir di tengah ratusan warga. Secara tegas Ganjar berpesan agar semua warganya memegang teguh dasar negara Indonesia.

“Dasar negara Pancasila sudah final. Indonesia jangan sampai dilukai. Harus dijaga kebhinekaan,” kata Ganjar.

“Jateng harus jadi benteng Pancasila, jadi palu dan paku untuk menjaga semuanya,” tegasnya.

Aksi Bhinneka Tunggal Ika Nusantara Bersatu juga digelar di Malioboro, Yogyakarta, Rabu (30/11). Warga memadati sepanjang Jalan Malioboro hingga membuat jalan protokol itu ditutup. Aksi ini diikuti berbagai elemen masyarakat baik dari organisasi sosial kemasyarakatan, ormas kepemudaan, pejuang veteran, Rohaniawan Lintas Iman, asrama daerah, kelompok bregada rakyat, hingga seniman.

Koordinator Seniman Yogya yang mengikuti aksi Bhinneka Tunggal Ika, Totok Buchori mengatakan para perupa prihatin dengan isu dan berita bohong yang memecah belah kesatuan bangsa. Mereka tidak ingin Yogya yang penuh dengan keberagaman rusak karena isu perpecahan.

“Perupa ikut mangayubagyo dengan nusantara bersatu ini. Perupa juga cinta Indonesia. Yogya itu Indonesia kecil, dengan bahasa rupa kami ingin mengingatkan bahwa bersatu itu lebih indah. Dari Yogya untuk Indonesia,” katanya.

Aksi serupa juga dilakukan di Lapangan Rampal, Kota Malang, Jawa Timur. Massa terdiri dari berbagai lapisan komponen masyarakat yakni tokoh pemerintahan, tokoh agama dan masyarakat, TNI dan Kepolisan, serta pelajar dari Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu memeriahkan aksi tersebut.

“Bukan Indonesia kalau tidak ada Aceh dan keragaman budaya nusantara, bukan Indonesia juga kalau tidak ada muslim dan keragaman agama. Sejak awal berdiri kita memiliki banya perbedaan. Tidak akan rela jika NKRI dipersoalkan,” kata Hasan Abadi, Ketua Banser NU Kabupaten Malang mewakili pemuda, Rabu (30/11).

Di akhir acara, para tokoh agama secara bergantian membacakan doa, termasuk dari Suku Tengger. Doa dibacakan sesuai agama masing-masing dan diamini seluruh massa yang datang.

“Doa bersama menampakkan kalau para tokoh dan pimpinan agama bersatu, bertekad bulat mempertahankan NKRI. Kami semua, tidak rela dari pihak manapun yang akan menganggu keutuhan NKRI apapun motivasinya,” kata HM Nursalim, Ketua Forum Antar Umat Beragama (FKUB) Kota Malang.

Apel Kebangsaan Nusantara Bersatu juga dilaksanakan di kabupaten Bengkalis, Riau. Tak hanya di Bengkalis, masyarakat kabupaten Siak juga melangsungkan Apel Kebangsaan Nusantara di Halaman kantor Bupati Siak. Para Polisi, TNI, PNS, pelajar SD, SMP dan SMA hingga mahasiswa tak ingin ketinggalan mengikuti apel tersebut.

“Indonesia adalah bangsa majemuk, dibangun dan diperjuangkan untuk merdeka oleh semua elemen masyarakat yang beraneka suku, budaya, agama, golongan,” ujar Kapolres Bengkalis AKBP Hadi Wicaksono di hadapan para pelajar.

Ada yang menarik saat aksi Nusantara Bersatu yang diselenggarakan di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Sebagai wujud menjaga keharmonisan dan kerukunan umat beragama dalam bingkai NKRI, pembacaan doa dipanjatkan dengan cara agama Islam, Kristen, Katolik, Kristen, Hindu dan Budha yang dibawakan oleh masing-masing perwakilan pemuka agama tersebut.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan pemuda Muhammadiyah siap menjaga keutuhan NKRI. Tak hanya itu, pemuda Muhammadiyah juga siap melawan pihak-pihak yang memecah belah NKRI.

“Kalau ada isu makar, kami siap ada di belakang NKRI. Kita siap ada di belakang demokrasi. Kami melawan cara-cara yang tidak beradab. Pemuda menjadi lawan utama bagi mereka yang mengganggu NKRI, Bhineka Tunggal Ika,” ungkap Dahnil di hadapan Presiden Joko Widodo dalam acara Tanwir I Pemuda Muhammadiyah di Hotel Narita, Jl KH Hasyim Ashari, Tangerang.

Seruan perkuat NKRI juga digaungkan dari ujung negeri, tepatnya di Kota Sorong, Papua. Ribuan orang yang terdiri dari aparat TNI, Polri, PNS, Mahasiswa, Pelajar dan Masyarakat Kota Sorong, ikut memeriahkan aksi ‘Nusantara Bersatu’ di Lapangan Hoki Kota Sorong. Aksi nusantara bersatu itu diramaikan oleh tari-tarian adat Papua yang menunjukkan bahwa warga Kota Sorong berbeda-beda suku dan agama tapi tetap satu bangsa Indonesia.

Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Sorong, Pendeta Andrikus Mofu mengatakan, saat ini Indonesia sedang dalam ujian tentang persatuan dan kesatuan, kebhinekaan bahkan tentang toleransi umat beragama.

“Namun saya yakin sebagai bangsa yang mengakui Pancasila kita akan tetap bersatu untuk menghadapi berbagai ancaman yang memecahkan kedaulatan negara kita,” ujar dia.

Sumber : merdeka