Sekolah Inklusi, Sekolah Normal bukan Sekolah Buangan.

0
21

Beritaplatmerah.com-Pemalang-Hak setiap anak, salah satunya adalah hak mendapatkan pendidikan dasar yang layak. Tidak membedakan anak normal maupun anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Pendidikan dasar yang setara antara anak normal maupun berkebutuhan khusus sangatlah dibutuhkan. Menurut Lusy Joewono, salah satu praktisi pendidikan di sekolah inklusi Cahaya Gemilang,  menyatakan pada dasarnya mengacu pada permendiknas th 2006, bahwa sekolah reguler bisa menerima anak berkebutuhan khusus dengan kapasasitas 10% nya. Semisal di kelas sekolah reguler bisa menampung 2 ABK (anak berkebutuhan khusus) utk mengikuti pembelajaran di sekolah tersebut.

Tidak semua anak berkebutuhan khusus masuk SLB, mereka harus melalui proses terapi, test kemampuan dan assestmen , agar mampu di arahkan kemana anak di sekolahkan.
Anak berkebutuhan khusus dengan banyak diagnosa yang di dapat dan semua perkembangan serta kemampuan tidak bisa di target, mereka akan berkembang sesuai dengan kapasitas kemampuan masing-masing, serta  kondisi masing-masing. Memasukkan anak berkebutuhan khusus agar masuk di sekolah reguler ataupun  inlkusi harus memenuhi 10 langkah , dengan sebelumnya melatih anak terlebih dahulu oleh tenaga ahli di bidangnya. Jadi tidak asal memasukkan ke sekolah. Apalagi anak belum pernah di konsulkan ke dokter atau para ahli profesional lainnya.

Sekolah inklusi merupakan sekolah yang menerima siswa normal dan siswa berkebutuhan khusus. Salah satu sekolah dasar inklusi
adalah Sekolah Dasar Negeri 14, Mulyoharjo, Pemalang, yang beralamat di jl. Tentara Pelajar no 5, mulyoharjo, Pemalang. Menurut bapak Abdul Khirom selaku kepala sekolah “SDN 14 Mulyoharjo menyelengarakan program inklusi, dimana menerima murid normal dan murid berkebutuhan khusus. Pola pembelajaraanya dicampur antara anak normal dan berkebutuhan khusus. Anak normal akan menerima materi pembelajar sesuai kurikulum yang berlaku, sedangkan anak berkebutuhan khusus akan menerima pembelajaran khusus dimana anak akan didampingi pula dengan guru khusus sesuai kebutuhnnya. Bagi anak normal hal ini akan memberi pembelajaran empati terhadap anak berkebutuhan khusus, sedangkan anak berkebutuhan khusus tidak merasa terasing maupun direndahkan, sehingga akan tercapai hasil pembelajaran yang maksimal baik dari segi fisik, intelektual maupun segi mental sosialnya, imbuh kepala  sekolah.

Sedangkan menurut Lusy, kebutuhan ABK, mengenai sekolah pada dasarnya tidak mencari dan di haruskan mencapai nilai dan kecerdasan yg sama dg anak yg lain, tetapi mereka lebih di titik fokuskan pada belajar kemandirian, sosialisasi, interaksi sosial dan utk pemahaman serta penggalian potensi dirinya utk modal kehidupan masa depannya agar tidak tergantung pada org lain atau orang tua.

Untuk meningkatkan hasil pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus, sekolah bekerjasama dengan psikolog dari RS Ashari Pemalang. Adanya peran psikolog ini nantinya dapat memetakan kebutuhan, tingkat pendidikan dan capaian apa yang diharapkan oleh anak didik berkebutuhan khusus ini. Disamping itu psikolog juga menentukan apakah anak berkebutuhan  khusus ini layak masuk sekolah normal atau anak harus di didik di Sekolah Luar Biasa.

Adanya informasi yang benar baik dari sekolah, UPPK maupun pemerintah, tentang sekolah inklusi ini maka diharapkan orang tua yang mempunyai anak berkebutuhan khusus dapat menyekolahkan anaknya di sekolah ini, disamping itu juga akan meluruskan bahwa sekolah inkulusi bukan sekolah buangan. Dikarenakan dalam 2 tahun ini hanya menerima murid 7 anak di kelas 1 dan 13 anak di kelas 2.
(Sarwo Edy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here