RAHMAN SABON NAMA: WAKIL PRESIDEN EVALUASI PRODUKSI PANGAN “MENJUAL MIMPI SWASEMBADA PADA RAKYAT”

0
29

Beritaplatmerah.com-Jakarta-Wakil Presiden Jusuf Kalla membahas ketahanan pangan di Kementrian Pertanian,  running teks di salah satu Media TV Swasta Nasional hari ini (15/9-2O15) suatu pertanyaan apakah memang Wapres JK  tidak taukah  kalau persoalan pangan itu urusannya  lintas sektoral, bukan sekedar produksi dan produksi.
Pinta Jusuf Kalla pada Mentan untuk lakukan  evaluasi produksi beras dan daging. Menurut Rahman Sabon Nama,Ketua Umum Asosiasi Pedagang dan Petani Tanaman Pangan dan Holtikultura Indonesia,yang juga Pengurus Kadin Indonesia  mengatakan pada Pers  bahwa , yang sering terjadi selama ini   Kementan dan Badan Pusat Statistik dalam laporannya kepada Presiden sering  tidak akurat, karena pejabat Kementan hingga tingkat Kaupaten/Kota “menutupi” data yg sebenarnya, rilis data oleh aparat pertanian dan BPS  dengan penyajian data yang sering diakali,karena mereka “akan terjebak” dalam  rentetan laporan pertangungjawaban proyek .

Penelitian oleh Asosiasi yang kami  pimpin (data admin laporan  proyek tidak sama dengan realitas data fisik di lapangan). Hal inilah yang mem buat data pertanian selalu saja tidak akurat dan  kurang  dapat dipercaya masyarakat, ini bisa terjadi di seluruh komoditas pangan khususnya beras dan daging  sapi.”ungkap Rahaman

Dari fakta dan kenyataan berbeda jauh, Sang Menteri Arman berbual  menjual mimpi pada Presiden dan rakyat  swasembada daging sapi”dan beras. Menurut pengamatan kami  kegagalan mencapai swasembada sejak pemerintahan SBY, oleh karena data sesungguhnya adalah yang abal- abal.

Sistem data “BPS” utama selama ini sesungguh nya bersumber dari oknum aparat Kementan sendiri yang tidak  benar menyajikan data,dan BPS sepertinya hanya menjustifikasi data saja, road map Program  yang kurang  sehingga  menjadi ambisius, sebab sesungguhnya “sapi lokal” tidak dimiliki pemerintah,pemiliknya rakyat dan hak menjual sapi ada pada mereka.

Terkait produksi beras dari hasil panen padi dari panen raya hingga panen musim gadu  menurut Kementan dan BPS 7O juta MT,berarti surplus 2O Juta ton dari kebutuhan beras nasional 5O juta MT/tahun. Anehnya Bulog tidak mampu menyerap beras dari petani sebagai penyangga  pengamanan stok nasional  4,7 juta MT yang ditargetkan presiden pada Bulog,analisa saya tidak mungkin tercapai.

Salah satu solusi  untuk mengatasi pertumbuhan ekonomi nasional dari kelangkaan dan mahalnya harga  daging dan kebutuhan pokok pangan , agar Presiden Joko Widodo segera membentuk sebuah lembaga pangan khusus langsung dibawah Presiden,yang fungsi utamanya mengontrol secara saksama, mengendalikan dan mengatasi berbagai aspek permasalahan pangan nasional.
Lembaga ini sangat urgen dan penting karena menyangkut persoalan lintas sektoral kordinasi untuk mengharmonisasi lebih kurang duapuluh empat kementrian dan lembaga terkait.” tutur Rahman Sabon Nama kepada Platmerah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here