Politikus PDIP Herman Hery Dituduh Menganiaya Suami Istri

0
4

Salah satu pendiri PDIP Erros Djarot mendesak seluruh fungsionaris DPP PDIP mengusut kasus dugaan penganiayaan disertai pengeroyokan yang diduga dilakukan oleh anggota Fraksi PDIP Herman Hery dan ajudannya.

Menurutnya, dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh Herman merupakan tindakan premanisme.

“Kepada fungsionaris DPP PDIP agar secara serius mengusut tuntas kasus anggota DPR RI dari Fraksi PDIP ini (Herman) yang telah melakukan perbuatan sewenang-wenang dan adikuasa,” ujar Djarot, Kamis (21/6).

Lebih lanjut, Erros juga mendesak Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto memberi sanksi tegas jika Herman terbukti bersalah.

Pengurus PDIP, kata Erros, tidak boleh membela Herman meski saat ini menjabat sebagai anggota Komisi III yang membidangi hukum, HAM, dan keamanan.

“Tapi kalau tak benar yang dilaporkan, perlakukan juga dengan baik,” ujarnya.

Sebagai salah satu pendiri PDIP, Erros merasa malu dengan dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh Herman. Sebagai partai tempat ‘wong cilik’, dia menilai, PDIP tidak memiliki kader bermental preman.

“Kelakuan ini tak ada hubungannya dengan PDIP karena sepenuhnya kelakuan pribadi oknum,” ujarnya.

Lebih dari itu, ia mengingatkan PDIP bukan tempat bagi preman berkumpul.

“Yang penting untuk dicamkan, PDIP bukan tempat preman berkumpul. Camkan itu,” ujar Erros.

Sebelumnya, politisi PDIP Herman Hery bersama ajudannya diduga menganiaya seorang pria bernama Ronny dan istrinya di Jalan Arteri Pondok Indah, Jakarta Selatan, Minggu (10/6).

Usai menganiaya, Herman dan ajudannya meninggalkan lokasi kejadian. Ronny beserta istrinya kemudian melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.

Laporan itu tercatat pada tanda bukti lapor nomor: LP/1076/VI/2018/RJS tanggal 11 Juni 2018. Ronny yang menjadi korban melaporkan tindak pidana pengeroyokan dengan dugaan pelanggaran pasal 170 KUHP.

Ketua DPP PDIP, Hendrawan Supratikno mengaku belum mengetahui perihal dugaan penganiayaan yang dilakukan anggota Komisi III DPR F-PDIP, Herman Hery.

“Baru tahu juga,” kata Hendrawan kepada Tirto, Kamis (21/6/2018).

Saat didesak perihal mekanisme yang terdapat di internal PDIP bagi kader pelaku tindakan kriminal, Hendrawan enggan menjawab secara detail.

“Masih kami cek terus. Info lebih detail cek kepada sekjen. Saya masih di Jateng,” kata Hendrawan.

Sementara itu Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto sampai berita ini ditulis belum berkenan memberikan keterangannya mengenai kasus ini.

Herman Hery diduga melakukan penganiayaan terhadap Ronny Yuliarto beserta istrinya pada Minggu (10/6/2018) malam. Hal ini diketahui dari keterangan tertulis kuasa hukum korban, Febby Sagita, yang diterima Tirto, Kamis (21/6/2018).

Menurut Febby, kejadian ini berawal dari mobil korban masuk jalur busway dan ditilang polisi lalu lintas yang sedang bertugas. Sedangkan mobil Herman Hery, Rolls Royce Phantom B 88 NTT tepat berada di belakang mobil korban.

Diduga akibat lama menunggu, Herman Hery langsung turun dari mobil dan memukul korban tanpa alasan yang jelas. Karena tidak terima atas perlakuan Herman Hery, korban mencoba membalas pukulannya, lalu kemudian ajudan-ajudan Herman Hery langsung turun dan mengeroyok korban bersama Herman Hery.

Polisi yang tengah melakukan razia tersebut hanya menonton aksi brutal anggota DPR-RI tersebut tanpa ada upaha melerai.

Istri korban yang membantu melerai bahkan ikut dipukul oleh ajudan Herman Hery tanpa mempedulikan ada dua anak korban yang masih kecil berusia 7 tahun dan 10 tahun.

Kedua anak korban menangis di dalam mobil melihat kedua orang tuanya dianiaya oleh anggota DPR-RI tersebut.

Karena kalah jumlah, akhirnya korban menyerah dan diminta oleh polisi memindahkan mobilnya ke Masjid Pondok Indah untuk penyelesaian lebih lanjut. Akan tetapi, sesampainya di Masjid Pondok Indah, polisi dan Herman Hery malah langsung kabur dan tidak menyusul korban di Masjid Pondok Indah.

Korban yang tetap kena tilang oleh polisi tersebut langsung melakukan visum di RSPP dan melaporkan kejadian tersebut ke kantor polisi, Mapolres Jakarta Selatan. Tapi karena sudah mendekati Idul Fitri, pihak kepolisian mengatakan akan menindaklanjuti perkara ini setelah libur Lebaran, pada Kamis 21 Juni 2018.

Hari ini, kuasa hukum korban melaporkan kejadian ini ke Mapolres Jakarta Selatan.

Sementara itu, saat dikonfirmasi politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini membantah melakukan penganiayana tersebut. Penganiayaan itu bukan dilakukan olehnya melainkan adiknya.

“Bukan saya ternyata adik saya,” ujar Herman saat dihubungi, Kamis (21/6).

Herman pun juga belum mengetahui secara rinci penganiayaan yang dilakukan oleh sang adik. Karena dirinya sampai saat ini masih di Amerika Serikat.

“Saya lagi di luar, jadi saya tidak tahu kejadiannya seperti apa,” katanya.

***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here