Plastik Kulit Udang Ramah Lingkungan Buatan Siswi SMA Kharisma Bangsa, Yuke Fadhlillah Kirana.

0
16

Jakarta – Kampanye melawan plastik untuk belanja sedang digaungkan pemerintah. Namun di sisi lain, inovasi plastik yang ramah lingkungan pun terus berjalan. Salah satunya plastik kulit udang karya siswi SMA Kharisma Bangsa, Yuke Fadhlillah Kirana.

Berawal dari kekhawatirannya melihat masalah sampah di Indonesia yang semakin besar, Yuke tergerak membuat penelitian soal plastik dari kulit udang di program proyek sains sekolah. Bersama rekan-rekannya, dia mulai riset di jurnal soal permasalahan sampah, terutama gambaran 10 tahun ke depan.

Penelitian dimulai sejak Agustus 2013 sampai Januari 2014. Setelah itu, riset disempurnakan di Institut Teknologi Indonesia (ITI) dan dikembangkan saat Yuke mengikuti program pertukaran pelajar di China.

“Kulit udang itu mengandung bahan polimer, namanya zat kitin, kayak di udang, di kepiting, kulitnya namanya kitin, kitin itu punya polimer alami. Kalau plastik itu polimer sintesis,” terang Yuke saat berbincang dengan detikcom SMA Kharisma Bangsa, Sabtu (20/2) lalu.

Riset soal kulit udang untuk plastik pernah juga dibahas oleh para peneliti Biologi di Institut Wyss Harvard, Amerika Serikat, pada tahun 2014 lalu. Mereka menyebut zat yang terkandung di kulit udang bernama chitosan, berasal dari kitin. Para peneliti bisa membuat gelas plastik dari 200 gram kulit udang.

Sementara Yuke, membuat plastik dengan cara mengumpulkan kulit udang terlebih dulu, lalu diblender, dicampur dengan bahan kimia tertentu yang disebut ramah lingkungan, kemudian dikeringkan. Setelah menjadi serbuk, bahan-bahan tadi dicampur dengan pati onggok yang terbuat dari pohon aren.

“Lalu dicampur jadi larutan, terus dimasukkan ke cetakan dan ditunggu satu hari,” imbuhnya sambil menunjukkan cara pembuatannya di lab sekolah.

Siswi kelas 12 tersebut mengklaim, butuh 2 kantong kulit udang untuk membuat satu kantong kresek ukuran belanja. Namun karena bahannya yang tidak tahan basah, plastik buatannya untuk sementara hanya bisa dipakai membawa barang-barang kering.

“Kalau misalnya untuk yang kena air, plastik ini ngga bisa, karena akan berubah bentuk gitu, meskipun entar balik lagi ke bentuk awal, berarti nggak safe kan? Jadi plastik ini lebih untuk makanan kering,” ceritanya.

Yang terpenting dari penelitian Yuke adalah kemampuan plastik berbahan kulit udang untuk mudah terurai di dalam tanah. Bila plastik biasa butuh puluhan bahkan ratusan tahun, plastik bikinannya sudah terurai 45 hari di tanah humus dan tanah merah 60 hari.

“Jadi ngesave bertahun tahun untuk degradasi plastik,” imbuhnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here