PILKADA PEMALANG DIMUNGKIN AKAN MUNCUL CALON TUNGGAL

BERITAPLATMERAH.COM-PEMALANG-Kegalauan akan potensi munculnya calon tunggal makin menguat pada Pilkada yang akan digelar di Kabupaten Pemalang pada 9 Desember 2015 mendatang. Pasalnya hingga H-1 dibukanya pendaftaran Calon Bupati – Wakil Bupati Pemalang ke KPU tanggal 26- 28 Juli 2015, parpol-parpol belum juga memutuskan siapa calon yang akan diusung dan hanya koalisi PDIP dan PPP yang resmi memutuskan mengusung HM Junaedi SH, MM (Bupati Incumbent) berpasangan dengan H. Martono(Sekertaris DPC PDI-P Pemalang/Anggota DPRD Pemalang).

Keadaan pilitik Pemalang yang seperti ini rupanya mendapatkan sorotan tajam dari Direktur Pusat Kajian Publik( PUSKAPIK) Heru Kundhimiarso seperti yang diungkapkannya,” calon tunggal muncul karena tidak ada calon yang berani melawan Incumbent yang kuat, parpol lain pemenang pemilu tidak punya calon, atau calon tidak kuat membayar mahar partai yang nilainya fantastis ?

Munculnya potensi pasangan calon tunggal pada Pilkada jelasnya merupakan bentuk kegagalan partai politik. Fenomena ini menunjukkan parpol telah gagal mencetak calon pemimpin. Jika calon tunggal muncul karena alasan substitusi atau kualitas calon, misalnya kurang kompetitif, itu masih dipahami,”. Masih kata Kundhi,”tapi kalau alasannya karena calon tak mampu bayar mahar ke parpol, ini jelas presiden buruk yang telah merusak demokrasi, jika terjadi demikian, sebagian besar rakyat Pemalang yang menginginkan perubahan harus siap-siap gigit jari dikarenakan perubahan bakal sulit terjadi karena elit politik ternyata baru mau berubah beberapa senti,” pungkasnya.

Senada dengan direktur Puskapik, Budi Sudiarto, SH Ketua DPC Gerakan Rakyat Indonesia Baru ( GRIB) Pemalang ketika dimintai pendapatnya tentang perhelatan pilkada yang pendaftarannya sudah mepet tetapi belum ada paslon dari partai lain selain paslon yang akan diusung oleh PDI-P dan PPP mengatakan,”melihat fenomena politik dari beberapa kandidat paslon cabup, yang tidak siap akan adanya pendanaan untuk menggerakan mesin partai sehingga terjadi tarik ulur,

bahkan seolah-olah terjadi seperti politik dagang sapi, mestinya partai jangan melihat hal tsb tapi melihat kualitas calon untuk pemalang ke depan, apapun hasil pengamatannya selama pilkada berlangsung partai hanya bisa menyumbang suara 20%, selebihnya adalah pergerakan relawan, jadi kuncinya ada di financial.

Pandangan GRIB sebagai ormas sebenarnya kondisi financial jangan dijadikan alasan yang pragmatis, karna akan berakibat kalau paslon itu jadi maka akan berusaha bagaimana cara mengembalikan modal yang telah dikeluarkan pada saat pilkada berlangsung”, ujar Budi yang sudah beberapa kali sebagai pelaku dan ikut terlibat langsung dalam deal-deal politik di Pemalang dalam pilkada.(Joko Longkeyang)