Pesta Valentine Khusus Jomblo Digelar di Indonesia? Ini Kata Psikolog

0
11

Jakarta – Di Amerika, ada satu hari yang dibuat khusus untuk para lajang. Hari yang disebut dengan nama Single Awareness Day (SAD) ini diperingati setiap tanggal 15 Februari, tepat sehari setelah Hari Valentine. Menurut kabar yang beredar SAD pertama kali dicetuskan oleh seorang mahasiswa asal Mississippi bernama Dustin Barnes pada 2005 silam.

Lain halnya dengan di Korea, para lajang di Negeri Ginseng itu ramai-ramai memakan jajangmyeon, yaitu sejenis mie dengan saus berwarna hitam pada tanggal 14 April atau lebih dikenal dengan sebutan Black Day. Di China, ada suatu hari bernama Single Day yang dikhususkan untuk para lajang. Perayaan tersebut merupakan festival yang dibentuk untuk menunjukkan kepada orang-orang bahwa mereka bangga dengan statusnya yang masih lajang.

Melihat maraknya acara yang digelar di berbagai negara tersebut, lantas bisakah perayaan sejenis itu dihelat di Indonesia? Psikolog Ayoe Sutomo menuturkan, di Indonesia sendiri sebenarnya Hari Valentine masih menjadi kontroversi, ada sebagian yang merayakan dan ada pula yang kontra.

“Mungkin bisa saja perayaan itu menjadi ajang berkumpul para jomblo untuk bercerita, makan bersama, atau bertukar kado. Menurut saya itu tidak masalah. Toh sebenarnya konteksnya konteksnya kalau orang lain merayakan dengan pasangan, mengapa kita tidak merayakan dengan teman-teman,” jelas Ayoe,  Kamis (11/2/2015).


Psikolog yang berpraktik di sebuah klinik di Cikarang ini melanjutkan, ‘pesta’ khusus para jomblo tersebut jika ingin dijadikan suatu perayaan bisa saja dilakukan, asalkan masih sesuai dengan norma dan etika yang berlaku di Indonesia. Karena tentunya, Indonesia memiliki standar norma dan etika yang berbeda dengan luar negeri.

“Dari sisi psikologis saya lihat tidak masalah, sah-sah saja. Karena esensinya berkumpul bersama-sama dan ada aktivitas yang dilakukan bersama-sama. Hal itu adalah hal yang positif,” lanjutnya.

Menanggapi perayaan untuk para lajang tersebut, Indonesia pun ternyata juga memiliki acara serupa. Di Yogyakarta ada sebuah perhelatan yang bernama Festival Melupakan Mantan (FMM). Acara ini digelar tiap tanggal 13 Februari.

Perhelatan yang aslinya merupakan festival budaya ini mengajak para lajang untuk berkumpul, berinteraksi, serta diharuskan untuk membawa barang-barang peninggalan mantan yang nantinya akan didonasikan. Koordinator FMM Seto Prayogi mengatakan acara tersebut dibuat berdasarkan peran media sosial yang banyak membahas kegelisahan para muda-mudi yang tengah mencari jati diri.

“Alasan utama dibuat acara ini sebenarnya sebagai respon yang berkembang dalam masyarakat urban terutama para mahasiswa dan murid. Tujuannya untuk menciptakan hubungan dan interaksi langsung antar masyarakat di sosial media yang cenderung jauh secara fisik,” tutur Seto, Rabu (10/2/2016).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here