Pers Perlu Dorong Indonesia Menjadi Bangsa Pemenang

0
49

Beritaplatmerah.com-JakartaPers perlu menjadi kekuatan dalam melakukan transformasi di segala bidang, khususnya ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Sudah cukup pers Indonesia asyik dengan bisnis pencitraan. Indonesia memiliki potensi besar untuk maju. Pers wajib membantu Indonesia menjdi bangsa pemenang.

“Indonesia akan menjadi bangsa pemenang jika pers mendukungnya,” kata Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli dalam diskusi yang diselenggarakan PWI di Kantor TVRI, Jakarta, Senin (2/11). Diskusi menjelang Hari Pers Nasional (HPN), 9 Februari 2016 itu menghadirkan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) M Zainul Majdi, Dirjen Pembangunan Kawasan Perdesaan Johozua M Yoltuwu, dan staf ahli Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera), Danis Hidayat Sumadilaga.

NTB terpilih sebagai tuan rumah HPN 2016. Zainul menegaskan NTB siap menjadi tuan rumah HPN 2016. Mendukung Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli, sang gubernur meminta pers untuk mendorong transformasi di Indonesia, khususnya di NTB. Hadir pada silaturahmi itu sejumlah pemerhati dan pemimpin media massa, di antaranya Ketua Dewan Pers Bagir Manan, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Margiono, Ketua Forum Pemred Suryopratomo, dan Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan Primus Dorimulu.

“Sudah waktunya bangsa ini menjadi bangsa pemenang,” kata Rizal. Ekonom alumnus Boston University itu menjelaskan, sebagai kekuatan keempat demokrasi, pers memainkan peranan sangat besar. Pers tidak saja berperan sebagai watchdog, melainkan juga agent of development yang melakukan transformasi.

Dalam berita dan opini, pers perlu menyampaikan substansi masalah utama yang dihadapi bangsa. Pers tidak boleh larut dalam pemberitaan infotainment. Masalah ekonomi, politik, hukum, dan budaya yang serius hendaknya diangkat ke permukaan, tidak sekadar kontroversi yang menarik minat publik.

Indonesia, kata Rizal, sudah kehilangan sejumah golden opportunities atau peluang emas. Pertama, golden opportunity di bidang minyak bumi. Indonesia mengekspor semua minyak mentah tanpa mengolah terlebih dahulu di dalam negeri. Indonesia terlena oleh oil boom, sehingga tidak membangun kilang BBM di dalam negeri.

Peluang kedua yang lepas begitu saja, kata Rizal, adalah kekayaan hutan yang tiada tara. Para pengusaha yang mendapat hak pengusahaan hutan (HPH) membabat begitu saja pohon dan pemerintah mengizinkan ekspor gelondongan. Indonesia kehilangan peluang untuk mendapatkan nilai tambah tinggi dari ekspor hasil kayu olahan.

Belum juga sadar dengan dua losing opportunities itu, demikian Rizal, pemerintah memperkenankan sejumlah produk tambah tanpa kewajiban diolah lebih dahulu di dalam negeri. Paling menonjol adalah ekspor batu bara. Bongkahan batu bara diambil dari permukaan bumi dan langsung diekspor.

Golden opportunities ini, kata Rizal, hilang karena ada pihak berkuasa yang mengambil untung. Praktik ini berlangsung beberapa dekade dan membuat negeri ini kehilangan peluang untuk maju sejajar dengan bangsa lain. “Kini saatnya, kita bangkit. Gas, produk tambang dan gas yang masih ada harus diolah terlebih dahulu di dalam negeri agar mendapat nilai tambah tinggi,” ungkap Rizal.

Kelemahan pejabat Indonesia juga terlihat pada negosiasi dengan PT Freeport. Pejabat Indonesia malah takut ditekan Freeport dan berbalik menakut-nakuti bangsa sendiri. Mereka mudah menyerah pada Freeport. Padahal, royalti sejak 1968 hanya berkisar 1-2 persen dan pengolahan limbah sama sekali tidak dilakukan dengan baik.

“Kita harus berunding dengan benar dan penuh kepercayaan diri agar Indonesia mendapat manfaat lebih besar,” ujarnya.

Rizal menjelaskan, Indonesia sesungguhnya bisa menjadi negara pemenang. Alasannya, bangsa ini kaya akan sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Namun belum diekplorasi secara maksimal. Di sisi lain, kebanyakan rakyat Indonesia adalah orang baik. Hanya saja tumpukan orang baik itu tidak banyak bicara dan tidak berani mengemukakan sesungguhnya apa yang terjadi.

Yang berkuasa malah segelintir orang yang rusak atau berengsek. Dominasi orang berengsek itu membuat bangsa ini lambat bergerak, bahkan sulit bergerak maju.

Dia menilai bangsa ini bisa seperti bangsa Jerman saat dipimpin Adolf Hitler. Bangsa Jerman adalah bangsa yang terdiri atas orang-orang terdidik. Tokoh-tokoh filsafat ada di negara tersebut. Kemudian pemusik-pemusik terkenal dunia berasal dari Jerman. Negara itu juga kaya dan masyarakatnya sangat religius.

Namun anehnya, bangsa yang maju tersebut hanya dipimpin oleh Adolf Hitler yang seorang kopral karena para filsuf, intelektual, dan profesional tidak memiliki keberanian. “Bangsa kita ini bisa seperti Jerman di masa lalu. Segelintir orang berengsek menguasai negara ini. Ini harus diakhiri,” tutur mantan aktivis ini.

Dia meminta media agar bisa menjadi agen perubahan. Pers harus membantu mentransformasi bangsa ini menuju bangsa pemenang. Pers harus bisa melahirkan berita-berita substantif dan mendasar yang membantu pemecahan masalah, bukan sibuk berita infotainment politik atau infotaimen isu.

“Kita tinggalkan Indonesia yang tertinggal, Indonesia yang tidak percaya diri, dan tidak nasionalisme. Kita harus menjadi Indonesia yang kuat, kuat nasionalismenya, punya percaya diri, dan unggul. Pers harus bisa mentransformasikan ini semua,” ujar mantan menteri koordinator bidang perekonomian pada masa Presiden Gus Dur itu.

Rizal juga menjelaskan besarnya peluang sektor pariwisata untuk menggerakkan ekonomi dan meraih devisa. Dalam 10 tahun akan datang, pariwista akan menjaid sektor penghasil devisa terbesar. Indonesia memberikan fasilitas bebas visa kepada semua negara yang tidak mengekspor ideologi berbahaya, terorisme, dan narkotika. Lima tahun ke depan, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) akan mencapai 20 juta dengan devisa US$ 20 miliar.

Sepuluh destinasi baru akan dikembangkan, di antaranya Danau Toba, Kepulauan Seribu, dan NTT. Jika dua-tiga daerah wisata baru sukses, yang lain akan ikut.

Pada kesempatan itu, Gubernur NTB M Zainul Majdi¬†mengingatkan wilayahnya juga masuk daerah tujuan wisata yang harus dikembangkan. “Kami tidak mau lagi NTB di-ledek sebagai ‘Nasib Tergantung Bali’,” katanya.

sumber

pers
Menko Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli (Antara/Sigid Kurniawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here