Penasehat YKB Muari Enim AKBP Leo Andi Gunawan : Ranking Tak Jadi Acuan, Kreativitas dan Kemandirian Yang Utama

0
4

Muara Enim (Sumsel) l Beritaplatmerah.com – Saat ini ada kencendrungan bahwa pendidikan diperlakukan seperti layaknya sebuah pabrik yang menghasilkan anak-anak didik yang homogen. Seperti halnya pabrik, ketika dimasukan A keluar Z, sama semua dengan standar yang sama. Padahal anak-anak kita punya kreativitas dan karakter sendiri, dan itu harus dikembangkan. Dan tentunya hasilnya tidak akan sama, begitulah karakter anak-anak kita.

“Saya berpendapat bahwa, taman kanak-kanak adalah pendidikan yang ideal. SD, SMP, SMA sudah menganggap mereka seperti pabrik, hasilnya harus dalam bentuk nilai,” demikian diungkapkan Penasehat Yayasan Kemala Bhayangkara Cabang Muara Enim AKBP Leo Andi Gunawan SIK MPP, saat memberikan sambutan lomba Mewarnai, Menyanyi dan Fashion Show tingkat TK Sekabupaten Muara Enim.

Sambutan tersebut dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke 38 Yayasan Kemala Bhayangkari, akhir pekan kemarin, di halaman TK Kemala Bhayangkari, Sabtu (10/3/2018) pagi.

Menurut Leo, perlahan pendidikan saat ini sudah berkembang kearah untuk menghargai kreativitas anak-anak kita. Ranking sudah tidak lagi menjadi acuan, tetapi kreativitas, kemandirian, itu yang utama, karena survey membuktikan orang-orang yang pintar belum tentu berhasil didalam kehidupannya. Tetapi orang yang kreatif, mampu berkomunikasi dan juga sosialisasi dengan lingkungannya, itulah yang berhasil. Mudah-mudahan anak-anak kita akan menjadi anak seperti itu, yang sanggup menghadapi perubahan dan sanggup menghadapi tantangan hidup yang kedepan akan semakin berat.

” Ada suatu kisah, saat saya bersama istri mencarikan sekolah untuk anak-anaknya di Jepang. Saat itu ada suatu kejadian dimana satu anak gagal meloncat suatu rintangan, dan waktu itu adalah pelajaran senam. Meskipun anak itu gagal, tidak ada satupun teman-temannya yang menertawakan. Justru sebaliknya yang terjadi adalah teman-temannya memberikan semangat, tepuk tangan, ada yang mengajarkan cara lompat yang benar, dan setelah tiga,empat kali mencoba, anak itu berhasil. Guru membiarkan proses itu, tidak serta merta kasihan dan meluruskannya, tetapi si anak diberikan pelajaran bagaimana rasanya gagal, bagaimana rasanya tidak berhasil, dan kesadaran itu mendorong si anak untuk menerima masukan,sarat, semangat dari orang lain. Dan ternyata endingnya si anak tersebut berhasil,” terang AKBP Leo Andi Gunawan, yang juga menjabat sebagai Kapolres Muara Enim ini.

Pengurus Bhayangkari Cabang Polres Muara Enim berfose bersama usai kegiatan

Dari adanya kejadian tersebut, lanjut Leo,  bisa ditarik pelajaran bahwa, orang-orang di sekitar kita itu penting untuk tumbuh kembang anak-anak kita. Ketika orang-orang disekitar anak-anak kita  digantikan oleh handphone, semua sibuk mencari folowers,sibuk mencari tanda suka jempol (like,red), sementara teman-teman disekitarnya, seperti dianggap tidak ada, itu menjadi sebuah kesalahan besar, dan itu sudah terjadi di Jepang. Ketika orang tidak punya waktu untuk berinteraksi,susah cari jodoh, sedikit kelahiran, akhirnya orang-orang yang dewasa tadi, diperlakukan seperti anak-anak. Ada biro jodoh dimana mereka dikasih waktu, setengah jam berjalan bergandengan, setiap lima menit berganti pasangan, untuk sekedar lima menit berbicara dengan pasanganya yang mana yang cocok, sampai seperti itu, sangking mereka asik dengan teknologi.

Lebih lanjut, kata Leo, kesadaran itulah yang membuat pendidikan di Jepang diubah, dari TK sampai kelas tiga SD, mereka tidak mengajarkan membaca, tetapi mengajarkan bagaimana si anak punya karakter yang bagus, tahu cara antri, tahu cara membuang sampah, makan yang benar, dan cuci tangan yang benar. Ketika kita tanya, bagaimana nanti anak kita bisa mau membaca?Perkembangan otaknya akan membuat ia akan bisa membaca ketika ia kelas III dan kelas IV. Dan ternyata itu benar, anak saya ketika pindah ke Indonesia stres, ia tidak bisa membaca, tetapi ia akan protes bila orang membuang sampah sembarangan, protes orang tidak budaya antri, dan protes trus selama ia di Indonesia.

“Sakitnya tuh disini ayah,” ujar Leo menirukan ucapan anaknya itu.

Tetapi seiring waktu, lanjut Leo lagi, apa yang dikatakan ibu gurunya benar, bahwa nanti kelas I, II dan III dia akan bisa membaca.

“Jadi mudah-mudahan kita tidak sibuk menuntut anak kita mendapatkan rangking yang bagus, tapi sibuklah ketika anak kita tidak sholat, tidak menjaga kebersihan, dan tidak patuh terhadap orang tua. Itu pesan saya yang perlu saya sampaikan pada kita semua, mudah-mudahan kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka Ulang Tahun Yayasan Kemala Bhayangkara (YKB) ke 38 ini dapat bermanfaat dan membantu ibu-ibu semua, beserta putra putri nya untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah,” pungkas Leo, yang akan berpindah tugas lagi dalam waktu dekat ini. (Aldo Dj) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here