2017-12-04_08.56.56

Munculnya AHY,Ancaman Buat Prabowo dan Bahkan Jokowi

Screenshot_2017-12-04-10-00-06-12EDITORIAL

Penulis : Agus Nainggolan.SH

Pemimpin Redaksi Beritaplatmerah.com

BERITAPLATMERAH,JAKARTA-Pilpres masih dua tahun lagi tapi konstelasi politik trus menggeliat,terutama sejak dimulainya pilkada DKI,aramo persaingan kubu Jokowi-Prabowo semakin meruncing,masing-masing kubu mengklaim jagoannya akan jadi pemenang di 2019.

Sejak 2016 beberapa,lembaga-lembaga survey terus melalukan survey nama-nama yang berpeluang jadi presiden selanjutnya.

Hampir semua lembaga survey yang terpercaya menujukkan nama Jokowi selalu teratas yang diikuti Prabowo, sementara nama lain relatif tidak masuk radar untuk 2 digit.

Survey per Juni 2016,Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survei yang menyatakan tingkat elektabilitas Presiden Joko Widodo meningkat, yakni mencapai 32,4 persen,.Angka ini naik dari Maret lalu, 31,1 persen. Prabowo Subianto menyusul di peringkat kedua dengan tingkat elektabilitas 9,4 persen, turun dari sebelumnya 12,8 persen.sementara nama lain hanya dibawah 3 persen(tempo)

Kemudia pada periode 4-14 Maret 2017, Indobarometer melakukan survey dan hasilnnya menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat atas kepemimpinan Jokowi mencapai 66,4 persen. Sedangkan 32 persen responden menyatakan tidak tahu dan 1,6 persen tidak menjawab.

Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari  mengatakn “Biasanya kalau tingkat kepuasan masyarakatnya diatas 50 persen, peluang untuk terpilih lagi itu besar,” kata Qodari dalam diskusi bertajuk Evaluasi publik Dua Setengah Tahun Pemerintahan Jokowi-JK di Grand Sahid Jaya Hotel, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (22/3/2017).

Sementara survey Polk Mark pada bulan oktober 217 ada tren menunjukkan akan ada kandidat lain yang siap menantang Jokowi dan Prabowo di Pemilihan Presiden 2019.

Ini diketahui, dari penurunan jumlah persentase mereka keduanya dari Pilpres 2014.

“Pada 2014, angka mereka 54,9 persen untuk Jokowi-JK dan 26,3 persen untuk Prabowo-Hatta. Bila Pilpres dilakukan hari ini angkanya turun menjadi 41,2 persen untuk Jokowi dan berbanding 21,0 persen untuk Prabowo,” kata Direktur PolMark Indonesia, Eep Saefulloh Fatah, di Resto Batik Kuring, SCBD, Jakarta Selatan, Minggu (22/10/2017).

Dari hasil survei yang digelar, muncul nama-nama yang akan menjadi penantang di bursa Pilpres 2019. Seperti Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY, Gatot Nurmantyo,Anies Baswedan, hingga Hary Tanoesoedibjo. Namun, persentase mereka masih terbilang kecil, tidak mencapai lima persen.

Hasil dari beberapa lembaga survey lain relatif tidak jauh berbeda dengan ketiga lembaga diatas.

Sekarang kita kembali ke judul kenapa AHY jadi ancaman sementara dalam survey  terakhir pun menunjukkan relatif nama AHY tidak masuk di radar capres sebagai pesaing tangguh Jokowi,hanya ada di angka satu digit,bebrbeda ketika diposisikan sebagai cawapres,anak presiden ke 6 tersebut memperoleh angka yang cukup tinggi,bahkan sebagin pihak menilai dia akan lebih tepat kalau mengincar jadi pendamping jokowi.

Sekjen Paratai demokrat, Hinca Panjaitan di Hotel Atlet Century, Jakarta Pusat, Minggu 3 Desember 2017. Mengatakan ,AHY disiapkan untuk maju sebagai salah satu kontestan capres maupun cawapres 2019 mendatang.

“Kalau dari sisi parpol, sebagai Sekjen Partai, ini mendapatkan tren yang terus naik bagi Partai Demokrat. Tapi memang target kami ke depan itu menuju dua digit,” kata Hinca Panjaitan usai menghadiri diskusi “Siapa Penantang Potensial Jokowi di 2019″

Melihat waktu pilres yang masih tergolong lama,nama besar dan Kepiawaian sang ayah, sangat mungkin menaikkan elektabilitas AHY di dua digit seprti yang ditargetkan mereka.

Menurut analisa penulis,kubu Demokrat akan tetap memainkan pola berdiri di dua kaki dangan mejaga hubungan baik dengan seluruh partai yang jadi kontestan di 2019,hal tersbebut bisa kita lihat dari perintah SBY ke fraksi Demokrat di DPR untuk mendukung pemerintah sampai  2019 dan mendekati JK bahkan mengunjugi Ahok dipenjara sudah dilakukan,sementara hubungan dengan partai-partai diluar pemerintah,selama ini relatif tidal ada masalah. Bahkan SBY Demokrat berhasil mengusung calon kuat seperti Dedi Miswar untuk Pilgub Jabar dan Khofipah untuk Pilgub Jatim sebagai langkah awal untuk memperkuat basisnya di dua walayah  lumbung suara tersbersar  tersebut,dan tidak menutup kemungkinan juga di Jawa Tengah.

Penulis menilai,langah-langkah tersebut bertujuan untuk menaikkan citra Demokrat dan juga  AHY dangan label politik santunnya dan jadi opoisisi yang tidak membabi buta jadi lawan pemrintah.

AHY sudah mulai melakukan itu sesaat setalah kalah diputaran pertama pilkada DKI,dengan gantle,AHY langsung mengucapkan selamat kepada Kubu Ahok-Djarat dan Anies-Sandi dan tindakannya itu berhasil mendapat apresisaai dari banyak pihak,kemungkinan pola-pola ini akan terus dilakukan.

Sebelumnya AHY telah melakukan kunjugannya Ke Jokowi,Gibran dan Ahok di Mako Brimob dan yang terakhir diperhelatan pernikahan Putri Jikowi di Solo.

Penulis menilai, langkah SBY pada pencalonan AHY di DKI bukan lah target utama.mungkin adaikan SBY ngotot, bukan Anies-Sandi yang jadi gubernur DKI sekarang tapi AHY-Silvy.

Beberapa lembaga survey menunjukkan  awal -awal setlah AHY  resmi mendaftar ke KPU saat itu,elketabiltasnya berada diurutan kedua setelah Ahok-Djarot,Anies -sandi diurtan ketiga,baru di injury time, Anies- sandi berada diposisi kedua.

Bahkan pada bulan desember 2016 saat Ahok diterpa Almaida, elektabilitas kandidat nomor urut  satu Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni pada berada di posisi teratas, yakni 33,6%. Sementara pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat mendapatkan 27,1%. Adapun Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahudin Uno menempati posisi terbawah dengan 23,6% suara.

Lantas kenapa raihan suaranya pada saat putaran pertama AHY hanya mendaptkan  17 persen suara?.anilasa publik hanya tertuju ke rumah terapung yang danggap sebagai blunder.

Dalam hal ini penulis punya perspektif berbeda,berikut analisanya

1.SBY sudah mempersiapkan AHY untuk RI satu ataupun RI 2 jauh sebelum Pilkada DKI, berhubung AHY masih Aktif di TNI,langkah pencalonan DKI sebagai alasan kuat yang realistir untuk bisa diterima publik dalam ranga mengunduan dirinya  dari TNI agar punya waktu cukup untuk membangun jaringan hingga 2019.

2.Kegagalan di DKI bukan kerena salah strategi atau hal lain, bisa saja SBY sengaja memberi peluang ke kubu Prabowo dengan memberi jalan ke Anies -sandi agar hubungan Gerindra-PKS tetap terjalin baik  sampai 2019.

Sekarang kita coba menghitung untuk 2019.!!

Ada dua langkah alternatif yang kemungkinan akan  diambil Demokrat.

kemungkinan Pertma : bila elekteabikitas AHY masih tetap di satu digit,kemungkinan besar akan berupaya merapat ke kubu koalisi incumbent, dengan harapn AHY  bisa dampingi Jokowi, bila hal ini terjadi,mungkin cukup satu putaran buat memenangkan Jokowi-AHY mengingat tingkat keterpilihan Jokowi mendekati 50 persen dan ditambah basis Demokrat dan simpul-simpul pengagum SBY masih belum bisa dipandang sebelah mata.

“Tapi hal ini bukan perkara mudah karena sampai saat ini hub SBY-Mega belum juga menunjukkan perbaikan yang signifikan sejak 2004, begitu Juga SBY-Wiranto dan bahkan ke Surya Paloh.ditambah lagi dengan orang-militan di kubu Jokowi yang kurang bisa menerima SBY.

Kemungkinan kedua: Demokrat akan buat poros baru bersama PAN ditambah PKB dan mungkin juga PPP dan kembali memain pola “pilkada DKI”,.

Apa maksud penulis pola di DKI?..

SBY akan bersekutu denga kubu Prabowo dengan segala cara untuk menggalkan Jokowi menang satu putaran dangan kesepakan siapa diantara calon mereka yang maju diputaran kedua akan saling mendukung,karena dengam tiga kontestan akan sulit buat Jokowi dan siapaun cawapresnya menang satu putaran, hal tersebut bisa dilihat dari berbagai survey, walupun tingkat kepusasan publik terhadap Jokowi-JK ada di 70 persen, tapi tingkat keterpilihnnaya untuk 2019 masih berada di bawah 50 persen,prabowo 20 persen sisanya 35 persen masih ngambang.

Lantas kenapa AHY jadi ancaman buat Prabowo?

Apabila AHY diduetkan dengan tokoh Islam berhaluan tengah, sangat mungkin perolehan suara mirip-mirip DKI akan kemungkinan terulang tapi yang lolos di putaran dua duet Jokowi dan duat AHY artinya usaha  Prabowo yang ketiga kali kembali  kandas.

Kalau tidak ada perubahan yang signifikan dari survey-survey yang ada terkhir,kemungkinan duet Jokowi putaran pertama tidak lebih dari  45 persen, dan Prabowo tidak lebih 25 persen, berarti ada sisa 30 persen yang kemungkinan masuk ke AHY,dengan kampenya mirip DKI mengnginkan pemimpin baru dan muda sangat mungkin  suara yang 30 persen diamabil  duat Selain itu, ada juga  pemilih dari  keluarga TNI.

Apabila ini  yang terjadi dan pada putaran kedua Duat AHY dan Duet Jokowi yang duel bisa dipastikan suara prabowo putran pertma 90 persen bahkan 100 persen akan beralih ke kubu AHY dan isu Sara, aseng akan kembali mengudara apalagi duet Jokawi bukan calon yang mewakili Islam.

kita harus ingat 2004,dimana saat itu berhasil menumbangkan Megawati sebagai incombent dengan slogannya bersama kita bisa..Untuk kali ini agar Jokowi tidak bernasib sama dengan Megawati dan elektabilitas Jokowi terus merangkak naik dari angka diatas adalah mejalankan program-progam pemerintah  yang langsung mengena ke masyarakyat terutama berkaitan dengan daya beli masyarkyat dan penegakan hukum  disisa waktu dua tuhun ini.

Jokowi tatap yang jadi pemenang, paling tidak perolahen suara Demokrat untuk senayan pasti membengkak mengingat pilpres dan pileg dilakukan sepaket apalagi dengan keterpurukan yang sedang dialami Golkar berbandingbterbalik dengan Demokrat yang mengalim tren positif menurut berbagai lembaga survey. Dan yang lebih penting lagi  kalaupun kalah paling tidal bisa jadi modal buat modal AHY di 2024.

Kita tunggu apa terobosan baru yang dimainkan mantan Kasospol era Seoherto itu. Kita perlu catat,  SBY baru beberapa tahun saja tidak berda di kekuasaan, orang-orangnya yang loyal semasa dia menjabat masih ada dimana-mana dan bahkam ada di Istana.

Penulis meyakini bahwa kejutan-kejutan akan terjadi mengingat perpoltikam di Indonesia bisa berubah sekejab dan politk dagang sapi masih belum bisa hilang.