Morning Sickness Parah Dikira Hamil, Ternyata Kanker Otak

0
11

London, Salah satu tanda kehamilan yang biasa dirasakan adalah morning sickness. Namun morning sickness yang dialami perempuan ini justru tanda kanker otak.

Kondisi bermula Christine Tang saat sedang berlibur ke New York pada Oktober 2012 lalu. Di tengah liburan, Christine justru kehilangan nafsu makan dan merasa tidak enak badan.

Sejak itu, Christine selalu mengeluh mual di pagi hari. Karena kehilangan nafsu makan, dia kehilangan bobot hampir 12 kg. Tak tahan dengan kondisinya, Christine pun memeriksakan diri ke dokter. Oleh dokter, dia diminta menjalani tes kehamilan.

“Saya bilang saya nggak hamil. Dan hasil tes ternyata memang negatif. Tapi saya masih juga diminta mengulang tesnya,” ujar Christine, dikutip dari Daily Mail, Kamis (18/2/2016).

Dia juga diberi obat untuk mengontrol asam lambung, namun kondisinya tak juga membaik. Pada Februari 2013, Christine menjalani USG perut di Hemel Hempstead Hospital. Lalu enambulan kemudian menjalani endoskopi, tapi dokter tidak juga menemukan apa penyakitnya.

Setahun kemudian, dilakukan tes Magnetic Resonance Imaging (MRI) pada perutnya. Tapi lagi-lagi tidak ada petunjuk yang bisa memberi tahu apa yang terjadi pada diri Christine.

Pada pertengahan September 2013, Christine kehilangan keseimbangannya. Dokter pun memintanya melakukan MRI secara keseluruahn di Watford Hospital.

Dari pemeriksaan itu ditemukan benjolan di bagian belakang kepalanya. Di hari itu pula, dia dibawa ke National Hospital for Neurology and Neurosurgery di London. Tumor itu besarnya sekitar 4 cm, dan baru diketahui Christine memiliki medulloblastoma stadium 4. Ini merupakan jenis kanker langka pada orang dewasa karena lebih sering dialami anak-anak.

Operasi pun dilakukan. Christine juga harus menjalani radioterapi selama enam minggu untuk membebaskannya dari penyakit tersebut.

Setelah kena penyakit tersebut, Christine merasa hidupnya demikian berubah. Karena penyakit itu, Christine mundur dari pekerjaannya. Saat dirinya sibuk dengan pengobatan, teman-temannya sibuk merintis karir dan bahkan ada yang telah bertunangan.

“Keseimbangan saya juga tidak lagi sama. Kalau berjalan saya harus memakai tongkat. Aryinya tidak ada sepatu berhak buat saya,” tutur Christine yang juga mengeluhkan penglihatan ganda.

Christine mencoba untuk selalu berpikir positif. Meski dia mengakui itu tidaklah mudah. Untunglah dia bertemu dengan komunitas yang mendukung perjuangan orang-orang muda dengan kanker, sehingga langkah Christine jadi lebih ringan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here