Mengenang Pancasila

0
36

Editorial.

Penulis:Batas Harianto Sidabutar., S H

Mungkin ada juga beberapa dari antara kita yang lupa bahkan tidak mengetahui bahwa pada tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila, sebuah momentum dimana para pahlawan Bangsa berusaha mempersiapkan kemerdekaan tanah air kita. Pancasila merupakan pandangan yang tidak dipengaruhi imperialisme dan komunisme, terlahir atas dasar persamaan semua hak hidup seseorang yang ada dimanapun.

Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Kata yang diambil dari bahasa Sansakerta, yang terdiri dari dua kata, pañca berarti lima dan śīla berarti prinsip atau asas. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan tercantum pada paragraf ke-4 Preambule (Pembukaan) Undang-undang Dasar 1945. Meskipun terjadi perubahan kandungan dan urutan lima sila Pancasila yang berlangsung dalam beberapa tahap selama masa perumusan Pancasila pada tahun 1945, tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahirnya Pancasila.

 

Lahirnya Pancasila adalah judul pidato yang disampaikan oleh Soekarno dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (bahasa Indonesia: “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan”) pada tanggal 1 Juni1945. Pidato ini pada awalnya disampaikan secara aklamasi tanpa judul dan baru mendapat sebutan “Lahirnya Pancasila” oleh mantan Ketua BPUPK Dr. Radjiman Wedyodiningrat dalam kata pengantar buku yang berisi pidato yang kemudian dibukukan oleh BPUPK tersebut.

 

Menjelang kekalahan Tentara Kekaisaran Jepang di akhir Perang Pasifik, tentara pendudukan Jepang di Indonesia berusaha menarik dukungan rakyat Indonesia dengan membentuk Dokuritsu Junbi Cosakai (bahasa Indonesia: “Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan” atau BPUPK, yang kemudian menjadi BPUPKI, dengan tambahan “Indonesia”). Selanjutnya Dokuritsu Junbi Cosakai membentuk Panitia Kecil untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dengan berpedoman pada pidato Bung Karno tersebut. Dibentuklah Panitia Sembilan (terdiri dari Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin) yang ditugaskan untuk merumuskan kembali Pancasila sebagai Dasar Negara berdasar pidato yang diucapkan Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, dan menjadikan dokumen tersebut sebagai teks untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

 

Kehidupan bangsa Indonesia yang saat ini terlihat seolah-olah sibuk dengan urusan membangun sebagai upaya memecahkan masalah-masalah dalam negeri seperti kemiskinan, kerusuhan, kejahatan yang terjadi di setiap sudut kota hingga ke pelosok desa, begitu juga dengan kesenjangan sosial lainnya, membuat rasa kepedulian terhadap Pancasila akhir-akhir ini semakin menurun.

Satu-satunya ideologi di dunia yang memberikan dasar untuk berkewajiban mempercayai adanya Tuhan sebagai Pencipta Alam Semesta, seruan kepada setiap warga Negara agar bisa saling menghargai juga mencintai terhadap sesama, bersatu dalam memperjuangkan semua haknya, mendengarkan dan menjungjung tinggi nilai-nilai persatuan sebagai bentuk solidaritas. Namun sikap-sikap dasar yang tertuang dalam Pancasila tersebut terkesan hanya bagian sejarah yang semakin hari semakin bergeser dan tertimbun oleh waktu.

Harapan kita adalah, peringatan Lahirnya Pancasila pada tanggal 1 Juni ini bukan semata-mata sebagai agenda sejarah, akan teteapi dapat lebih sungguh-sungguh dijadikan pedoman oleh nusa dan bangsa kita seluruhnya dalam usaha memperjuangkan dan menyempurnakan Kemerdekaan Negara Indonesia.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here