Mahkamah Memperpanjang Daftar Hukum Mati Gembong Narkoba

0
30

Jakarta – Mahkamah Agung (MA) kembali menjatuhkan vonis mati kepada dua gembong narkoba, Ramlan dan Simon. Vonis mati ini memperpanjang daftar hukuman mati yang harus dieksekusi mati jaksa. Sayang, hukuman mati ini tidak diiringi eksekusi yang berkelanjutan.

Vonis mati terakhir dijatuhkan kepada Ramlan Siregar dan WN Nigeria Simon Ikechukwu, Selasa (23/2) sore. Ramlan dihukum mati karena terkait kepemilikan 25 kg sabu dan 30 ribu butir ekstasi. Sedangkan Simon merupakan terpidana yang mengendalikan jaringan narkoba dari LP Cipinang dengan status terpidana 20 tahun penjara di kasus serupa.

Senyapnya bunyi senapan eksekutor membuat geram Kepala BNN Komjen Budi Waseso. Dalam rapat dengar pendapat DPR, Buwas — demikian biasa ia disapa — mendesak pemerintah segera melakukan eksekusi mati lagi.

“Data kami lengkap. Saya pikir harus segera dilaksanakan, 151 orang ini yang jadi prioritas hukuman mati. Sudah kami sampaikan ke Kemenkum HAM dan Kejaksaan Agung untuk segera dilaksanakan karena masih jaringan besar dan aktif,” kata Komjen Buwas pada 4 Februari 2016.

Vonis Ramli dan Simon menambah daftar panjang gembong narkoba yang dieksekusi mati di 2016 ini, di antaranya:

1. Amir
MA menghukum mati Amir dan menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara kepada istri Amir, Maimunah pada akhir Januari 2016. Mereka berkongsi bersama mengedarkan puluhan kg sabu di Sulawesi bagian barat.

2. Chen Jia Wei
3. Lo Chin Chen
4. Wang Ang Kang

Mereka bertiga merupakan importir sabu Hong Kong-Bandara Soekarno-Hatta pada Oktober 2014. Pada akhir Januari 2016, ketiganya dihukum mati MA.

Daftar di atas menambah daftar panjang gembong narkoba yang menanti eksekusi mati. Di antaranya:

Franola alias Ola
Vonis mati Ola sempat dianulir Presiden SBY. Ia kembali ditangkap BNN dan MA menjatuhkan hukuman mati untuk kedua kalinya. Hingga hari ini, Ola masih bernafas di dalam penjara LP Wanita Tangerang.

Mostafa Moradalivand bin Moradali
WN Iran Mustofa dihukum mati terkait sindikat sabu 40 kg. Ia menanti eksekusi mati di LP Cirebon.

Impor 1,4 Juta Butir Ekstasi
1. Freddy Budiman divonis mati
2. Ahmadi divonis mati
3. Chandra Halim divonis mati
4. Teja Haryono divonis mati

Kasus Pabrik Sabu di LP Cipinang yang Dibekingi Freddy Budiman
Cecep Setiawan Wijaya dihukum mati. Ia tengah menghuni LP Cipinang untuk menjalani hukuman penjara 20 tahun di kasus narkoba.

Kelompok Pabrik Narkoba Terbesar Ketiga di Asia

1. Benny Sudrajat alias Tandi Winardi
2. Iming Santoso alias Budhi Cipto
3. WN China Zhang Manquan
4. WN China Chen Hongxin
5. WN China Jian Yuxin
6. WN China Gan Chunyi
7. WN China Zhu Xuxiong
8. Nicolaas Garnick Josephus Gerardus alias Dick
9. Serge Areski Atlaoui (WN Prancis, sempat masuk daftar tereksekusi mati tetapi tiba-tiba dibatalkan dieksekusi mati).

Benny yang juga Ketua ‘Tangerang Nine’ tidak kapok meski dihukum mati. Ia di LP Pasir Putih, Nusakambangan, kembali asyik mengendalikan pembangunan pabrik narkoba di Pamulang, Cianjur dan Tamansari. Ia memanfaatkan dua anaknya yang masih bebas. Benny lalu diadili lagi oleh pengadilan dan karena sudah dihukum mati maka ia divonis nihil.

Layaknya Benny, mafia narkoba yang lain juga melakukan hal serupa. Seperti Freddy Budiman, Hartoni dan Syafrudin. Mereka membangun jaringan bisnisnya di balik penjara dengan menyuap oknum aparat.

Atas sepinya eksekusi mati itu, Jaksa Agung Prasetyo menyatakan masih pikir-pikir untuk melaksanakannya.

“Kita lihat nanti, belum bisa saya pastikan,” kata Jaksa Agung Prasetyo beberapa waktu lalu.

Lambatnya langkah Jaksa Agung disayangkan anggota DPR.

“Saran saya, negara kita punya kedaulatan tinggi, kalau Pak Jaksa Agung yakin, saya yakin Presiden Jokowi setuju. Kondisi negara kita sudah darurat narkoba. Negara kita jadi surga (narkoba). Kita dianggap main-main. Harus segera eksekusi 151 narapidana itu. Termasuk Freddy Budiman. Wajib itu!” kata anggota Komisi III DPR Sarifuddin Sudding.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here