Mahkamah Agung : Sistem pemidanaan di Indonesia masih sangat rendah

0
31

Jakarta – Di Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya, pelaku kejahatan bisa dihukum 45 tahun penjara hingga ratusan tahun penjara. Tapi di Indonesia, maksimal hanya dihukum 20 tahun penjara. Hal ini dinilai Mahkamah Agung (MA) menunjukkan rendahnya sistem pemidanaan di Indonesia.

“Sistem pemidanaan di Indonesia masih sangat rendah, berbeda dengan negara lainnya yang bisa menjatuhkan hukuman penjara hingga puluhan tahun bahkan ratusan tahun,” demikian pertimbangan MA dalam putusan peninjauan kembali (PK) warga Prancis Serge Atlaoui dan WN Belanda Nicolas Garnick Josephus Garardus yang dilansir website MA, Kamis (25/2/2016).

Pertimbangan itu dibuat oleh ketua majelis hakim agung Dr Artidjo Alkostar dengan anggota hakim agung Prof Dr Surya Jaya dan hakim agung Dr Suhadi.

“Di Indonesia maksimal pidana penjara 15 tahun dan boleh dijatuhkan selama-lamanya 20 tahun berturut-turut (gabungan kejahatan) dan sekurang-kurangnya 1 hari,” ucap majelis dengan suara bulat.

Hakim di Indonesia dilarang menjatuhkan hukuman di atas 20 tahun penjara. Jika pelaku kejahatan melakukan perbuatan di luar batas kemanusiaan, maka pilihannya adalah penjara seumur hidup atau pidana mati. Dengan rendahnya sistem pemidanaan di Indonesia ini maka sudah sepantasnya hukuman mati tidak dihapuskan dalam sistem pidana Indonesia.

Rendahnya hukuman penjara itu belum dipotong dengan sistem pemberian remisi. Pemerintah berhak memotong lamanya hukuman penjara dengan alasan pelaku berkelakuan baik di dalam bui. Padahal, saat ini Indonesia menjaji negara tujuan kejahatan khusus bagi peredaran narkotika internasional.

“Remisi bagi pelaku tindak pidana yang signifikan mengurangi masa pidana penjara,” cetus Artidjo-Suhadi-Surya Jaya.

Saat ini DPR juga tengah menggodok RUU KUHP yang mendegradasi hukuman mati. Hukuman mati bisa diubah pemerintah menjadi hukuman hitungan tahun asalkan terpidana mati berbuat baik di dalam penjara selama 10 tahun.

Siapakah Serge dan Nicolas? Mereka berdua dengan 7 orang lainnya dihukum mati karena membangun pabrik narkoba terbesar ketiga di Asia di Tangerang pada 2005. Lokasi pabrik ini sempat ditinjau langsung oleh Presiden SBY dengan bukti ribuan ton bahan baku dan 128 kg sabu siap pakai.

Tujuh orang yang dihukum mati di kasus itu adalah:

1. Benny Sudrajat alias Tandi Winardi
2. Iming Santoso alias Budhi Cipto
3. WN China Zhang Manquan
4. WN China Chen Hongxin
5. WN China Jian Yuxin
6. WN China Gan Chunyi
7. WN China Zhu Xuxiong

Benny yang juga Ketua ‘Tangerang Nine’ tidak kapok meski dihukum mati. Ia di LP Pasir Putih, Nusakambangan, tetap leluasa mengendalikan pembangunan pabrik narkoba di Pamulang, Cianjur dan Tamansari. Ia memanfaatkan dua anaknya yang masih bebas. Benny lalu diadili lagi oleh pengadilan dan karena sudah dihukum mati maka ia divonis nihil.

Serge sempat akan dieksekusi mati pada 2015 tetapi tiba-tiba Jaksa Agung Prasetyo menundanya.

Setelah proses eksekusi mati April 2015, Prasetyo tidak lagi melakukan eksekusi mati. Padahal puluhan gembong narkoba masuk dalam daftar terpidana mati, di antaranya malah mengendalikan narkoba dari dalam penjara. Saat ditemui usai rapat dengan Presiden Jokowi (25/2) kemarin, Prasetyo berdalih saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengeksekusi mereka.

“Ya nanti kita lihat lah. Selama ini kita masih prioritaskan hal lain yang tentunya perlu diskalaprioritaskan, seperti perbaikan ekonomi,” kata Jaksa Agung M Prasetyo di Istana Negara, Jakarta, Kamis (25/2) kemarin.

(detik.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here