Mahfud MD: Mengucapkan “Gong Xi Fat Cai” Insyaallah tidak ada larangan dalam Islam

0
6

Beritaplatmerah –  Tahun baru Imlek atau tahun baru bangsa Tionghoa yang akan dirayakan pada tanggal 16 Februari 2-18, bagi kalender nasional sudah ditetapkan secara resmi sebagai hari libur bersama sejak tahun 1999.

Menjelang tahun baru Imlek, Guru Besar FH-UII Yogya yang juga Ketua Mahkamah Konstitusi 2008-2013, Mahfud MD, megucapkan Gong Xi Fat Cai, selamat tahun baru 2569.

Menurut Mahfud MD, memberikan ucapan selamat merayakan tahun baru Imlek tidaklah haram, karena dinilai sama dengan mengucapkan selamat tahun banru 2018. Hal tersebut disampakain Mahfud MD melalui cuitan di twitter pada hari Senin (12/2/2018).

Sama dgn mengucapkanDrlamat Tahun Baru 2018, Insyaallah tidak ada larangan dalam Islam utk sekadar mengucapkan Gong Xi Fat Cai, selamat tahun baru 2569. Mari bangun kedamaian.

Dok. on twitt Mahfud MD, Senin (21/2/2018)

Cutitan tersebut disanggah oleh salah seorang warganet dengan nama akun Wawan Nunyai Cane ( @CaneYoyok) yang tidak sepaham dengan Mahfud MD.

Pak, jelas adalah larangan dalam islam mengucapkan Selamat Tahun baru China….Istifar pak…mohon maaf tanpa mengurangi rasa hormat…saya terhadap pak Mahfut…tp mengucapkan selamat tahun baru china atau imlek sangat tidak tepat…

Menanggapi sanggahan tersebut Mahfud MD membalas dengan santu dan bijaksana:

“Anda tak usah ngucapkan saja kalau Anda anggap itu dosa. Saya akan tetap mengucapkan: selamat tahun baru 2018, srlamat tahun baru Imlek 2569, Gong Xi Fat Cai,” tandasnya.

Terkait hal tersebut, dilansir tribun, sebagai Muslim bagaimana seharusnya kita menilainya? Bolehkah mengucapkan Gong Xi Fa Cai kepada sahabat, kerabat serta kepada orang tercinta?

Dikutip dari Alhamdulillah It’s Friday Magazine, media internal Pusat Studi Quran yang dipimpin Direktur, Prof Quraish Shihab, menyampaikan penjelasan soal hukum bagi Muslim apabila ikut merayakan Imlek.

Dalam penjelasan media internal tersebut, sebagaimana dikutip,  Kamis, 19 Februari 2015, disampaikan bahwa hingga saat ini, hukum ikut merayakan atau mengucapkan Gong Xi Fa Cai masih pro dan kontra di kalangan Muslim.

Pihak yang pro menyatakan Imlek hanyalah bagian tradisi budaya leluhur. Yang kontra menyatakan, Imlek adalah bagian integral dari ajaran agama Kong Hu Cu. Perdebatan ini belum mendapat titik terang karena MUI pun belum mengeluarkan fatwa tentang Imlek.

Belum jelasnya ketentuan hukum Imlek, apakah halal atau haram salah satunya disebabkan munculnya beberapa versi tentang sejarah Imlek.

Secara umum, versi yang satu lebih menitikberatkan bahwa Imlek adalah tradisi budaya China. Versi yang satu lagi Imlek lahir dari agama Kong Hu Cu. Imlek sebagai budaya mengacu pada literatur China.

Konon warga Tionghoa sudah merayakan Imlek secara turun temurun sejak ribuan tahun lalu. Dimulai sejak Dinasti Huang Ti. Imlek pun sebagai perayaan para petani pada musim semi.

Mengacu dari sejarah ini, Imlek bukanlah sebagai perayaan agama. Sebaliknya, versi yang menyebut Imlek adalah perayaan Kong Hu Cu salah satunya mengacu pada buku berjudul Mengenal Hari Raya Konfusiani yang ditulis Hendrik Agus Winarso. Dalam buku tersebut Hendrik menyatakan Imlek adalah bagian dari ajaran Kong Hu Cu. Imlek disebut juga sebagai hari permulaan tahun [Liep Chun] yang dijadikan sebagai Hari Agung untuk bersembahyang.

Adanya dua kutub pandangan tersebut, bagaimana umat Muslim harus menilainya? Apakah harus menghindarinya karena haram atau membiarkannya karena hanyalah budaya? Jika kita melihat pemberitaan beberapa media, Imlek ternyata dirayakan juga oleh umat Muslim Tionghoa. Mereka yang Muslim merayakan Imlek sesuai dengan nilai-nilai budaya China, tanpa harus pergi ke kelenteng.

Oleh karena itulah, memang seyogyanya Muslim harus menilai Imlek hanya sebagai bagian budaya Tionghoa dan tidak menganggapnya sebagai bagian dari ajaran atau tradisi suatu agama. Dengan penilaian seperti inilah, sebenarnya sudah menjalankan toleransi dan ukhuwah Islamiyah dengan etnis Tionghoa yang beragama Islam.

Yang pasti, perayaan Imlek yang tidak sesuai dengan kehidupan Muslim adalah cara ritualnya dan perayaannya yang berlebih-lebihan, seperti pesta berfoya-foya [tabzir] yang melupakan ibadah sesuai ajaran Islam.

Allah SWT berfirman: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap [memasukimasjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” [QS al-A’râf [7]: 31].(*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here