foto : Andi Rohendi

Kue Ali Agrem Pasirangin Nagreg, Rasanya Khas dan Berbeda

Arip dan Istrinya dibantu dengan pegawainya saat produksi kue ali agrem di rumah produksi miliknya di Kampung Pasir Angin Rt 02 RW 04 Desa Citaman Nagreg, Bandung.

Kue yang satu ini bentuknya pasti selalu bulat dan bolong ditengahnya. Tak ayal, masyarakat sunda menyebutnya sebagai Kue Ali (Cincin-Bahasa Indonesia) Agrem”.

Tidak sulit untuk mendapatkan kue yang satu ini. Sebab, sudah tersebar di pasar-pasar tradisional untuk diperdagangkan di warung-warung masyarakat. Namun masih terbatas dijual hanya di pasar-pasar tradisional, tidak didapatkan di pasar modern.

Tidak diketahui pula asal pemberian nama kue “Ali Agrem,” namun yang jelas sebaran kue ini sudah sejak dahulu dan menjadi ciri khas makanan yang disajikan di berbagai situasi/kondisi.

Diakui Kang Arip Saripudin (43),  salah satu pengusaha kue ini ditemui beritaplatmerah.com di tempat produksinya di Kampung Pasir Angin Rt 02 Rw 04 Desa Citaman Kecamatan Nagreg Kabupaten Bandung.

Iip atau lebih akrab dipanggil kang Arip ini mengatakan, proses pembuatan kue ini sangat sederhana. Hanya berbahan baku beras, gula merah, dan gula pasir. Mulanya beras direndam beberapa jam, ditepung, diadonan di goreng dan pengepakan.

“Dulu saya mulai buat kue ini dengan modal pinjam baik alat produksi maupun modal usahanya,”katanya.

Kang Arip beserta Istrinya Cicih (37) memulai usaha ini sejak 15 tahun silam. Pesanan pun hanya sebatas pasar tradisional terdekat saja. Diantaranya: Pasar Cicalengka, Cikancung, rancaekek dengan kuantitas produksi hanya beberapa kilogram beras saja.

Namun kini, hasil kerja keras dan inovasinya, kini ia sudah mampu memberikan pendapatan kepada lima pegawai setiap bulannya. “Saat ini pasar Cileunyi, Cicalengka, Rancaekek, limbangan (garut), memesan kue buatan saya ini,” katanya.

Tak kurang 50 Kg beras setiap harinya Arip produksi menjadi kue ali agrem, di rumah produksi miliknya yang tepat dipinggir spur/rel kereta api jalur nagreg.

Ia berharap, dapat lebih diperhatikan pemerintah. Pasalnya, untuk mendapatkan sertifikasi saja saat ini sangat sulit. “Saat ini masih sulit mendapat perijinan dari pemerintah,” katanya.

Akibatnya, bantuan permodalan dari perbankan pun sulit didapatkan. Arip pun kadang terpaksa harus menggunakan modal seadanya untuk dapat mempertahankan usahanya.

Padahal, permintaan kue produksinya semakin harI semakin meningkat. “Permintaan pasar terhadap kue ini semakin meningkat, perlu penambahan ruang produksi dan tenaga kerja,” pungkasnya.

Arip mengaku, awalnya banyak masayarakat yang pesan kue untuk pernikahan dengan uang muka lima puluh ribu, “saya dulu hanya memutar uang 50 ribu saja untuk modal usaha ini,” ujar mantan pegawai  pt. Pusri nagreg ini.

Ia bersyukur, pesanan kue selain pasar tradisional pesenan pun mengalir waktu demi waktu, bahkan dari luar daetah sepeti padang, bali. “Ada juga pesanan dari padang, bali bahkan batam,” pungkasnya. (Andi)