Kritik Putin, Nitizen: Bisa Lenyap Tanpa Bekas Kau Tsamara

0
13

Berita mencekam tentang “10 Pengkritik Presiden Putin Ini Nasibnya Berakhir Maut” yang dirilis di media online Liputan6 pada tahun 2017 silam yang mengutip dari News.com.au dan berbagai sumber pada Minggu (12/1/2017), belakangan ini sering muncul di media sosial facebook.

Sepuluh pengkritik Putin yang tewas menurut sumber tersebut adalah:

1. Boris Nemtsov, Tewas Tahun 2015

Boris Yefimovich Nemtsov adalah negarawan dan politisi liberal yang kerap bertentangan dengan pemerintahan Putin. Ia tewas ditembak empat kali dipunggungnya oleh pembunuh tak dikenal dan berhasil kabur. Lokasi penembakan tak jauh dari Kremlin.

Insiden itu terjadi beberapa jam setelah Nemtsov turut ikut unjuk rasa menolak perang Rusia di Ukraina. Meski Putin bilang memerintahkan investigasi kasus ini, tapi pembunuhnya tak pernah ditangkap.

2. Boris Berezovsky, Tewas Tahun 2013

Boris Berezovsky adalah miliarder Rusia yang kabur ke Inggris setelah bertentangan dengan Presiden Putin. Selama di pengasingan, ia mengancam akan menjatuhkan Putin.

Ia ditemukan tewas terkunci dalam kamar mandinya di rumahnya di Berkshire. Di lehernya, terdapat tali dan tampaknya ia bunuh diri.

Namun, menurut koroner penyebab kematiannya tak jelas. Polisi Inggris menelusuri bahwa korban pernah mengalami berbagai ancaman pembunuhan sebelumnya selama di pengasingan.

3. Stanislav Markelov Tewas Tahun 2009

Stanislav Markelov adalah pengacara mewakili para jurnalis (termasuk wartawan Anna Anna Politkovskaya yang tewas dibunuh) yang menulis artikel kritikan kepada Putin. Ia tewas ditembak oleh pria bertopeng di dekat Kremlin.

4. Anastasia Baburova Tewas Tahun 2009

Wartawan Anastasia Baburova yang tengah berjalan bersama Stanislav Markelov juga tewas ditembak saat mencoba menolong pengacara itu.

5. Sergei Magnitsky, Tewas pada 2009

Pengacara Sergei Magnitsky tewas dalam tahanan polisi setelah ia mengalami kekerasan berupa pemukulan.

Tepat sebelum kematiannya ia telah disewa oleh pengusaha Inggris-Amerika William Browder untuk menyelidiki penipuan pajak jutaan dolar terhadap negara Rusia di mana bisnis Browder telah tanpa sadar terlibat dalamnya.

Magnitsky diduga ditangkap setelah mengungkap bukti yang menunjukkan bahwa pejabat polisi berada di balik penipuan.

Pada Juli 2012 ia dihukum karena penggelapan pajak. Browder berhasil melobi pemerintah AS untuk menjatuhkan sanksi terhadap mereka yang terkait dengan kematian Magnitsky, sanksi yang dikaitkan dengan dugaan keracunan Vladimir Kara-Murza.

6. Natalia Estemirova, Tewas pada 2009

Natalia Estemirova adalah seorang jurnalis yang kerap bekerja dengan Anna Politkovskaya (yang juga dibunuh). Dia mengkhususkan diri dalam mengungkap pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara Rusia di Chechnya.

Estemirova diculik di luar rumahnya sebelum ditembak di kepala dan dibuang di dekat hutan. Tidak ada yang dihukum karena pembunuhan itu.

7. Anna Politkovskayam, Tewas pada 2006

Anna Politkovskaya adalah wartawan Rusia yang kritis dengan Putin. Jurnalis perempuan itu menuduh Putin ingin mengubah negaranya menjadi negara polisi dalam bukunya berjudul Putin’s Rusia.

Dia dibunuh oleh lima pembunuh bayaran yang menembaknya dari jarak dekat di lift gedungnya.

Kelima orang itu dihukum karena pembunuhan, tapi hakim menemukan bahwa itu adalah pembunuhan bayaran yang dibayar US$ 150.000 oleh “orang tak dikenal.

8. Alexander Litvinenko, Tewas pada 2006

Alexander Litvinenko adalah seorang mantan agen KGB yang meninggal tiga minggu setelah minum secangkir teh di sebuah hotel di London yang telah dicampur dengan cairan mematikan polonium-210.

Sebuah penyelidikan Inggris menemukan bahwa Litvinenko diracun oleh agen Rusia Andrei Lugovoi dan Dmitry Kovtun, yang bertindak atas perintah yang “mungkin telah disetujui oleh Presiden Putin.”

Litvinenko adalah penentang vokal Putin, ia menuduh sang presiden meledakkan sebuah blok apartemen dan memerintahkan pembunuhan wartawan Anna Politkovskaya.

9. Paul Klebnikov, tewas 2004

Paul Klebnikov adalah wartawan investigasi Amerika keturunan Rusia. Ia tewas di luar kantornya di Moskow oleh penembak yang melepas peluru dari sebuah mobil yang tengah berjalan.

Dia pemimpin redaksi majalah Forbes edisi Rusia. Selama hidupnya, Klebnikov telah menulis tentang korupsi dan kehidupan pribadi orang-orang tajir Rusia dan menerbitkan daftar orang-orang terkaya di negara itu.

10. Sergei Yushenkov, Tewas Tahun 2003

Sergei Yushenkov adalah seorang politikus Rusia yang tewas ditembak saat ia mencoba untuk mengumpulkan bukti bahwa pemerintah Putin berada di balik pemboman sebuah blok apartemen perumahan.

Dia tewas dengan satu peluru ke dada hanya beberapa jam setelah organisasinya Liberal Rusia telah diakui oleh Departemen Kehakiman sebagai partai politik.

Berdasarkan penelusuran, isu tersebut muncul berkaitan dengan kritikan dari Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tsamara Amani Alatas terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin beberapa waktu lalu.

Salah satu akun twitter @BudiChe menanggapi cuitan Tasmara pada hari Sabtu (7/4/2018) yang mengingatkan bahwa kritikan Ketua DPP PSI itu berpotensi memberbahayakan bagi dirinya:

Bisa lenyap tanpa bekas kau tsamara. Masih bisa tidur dengan nyenyak kau tsamara? Sementara agen2 Rusia terus mengintaimu.

Sebelumnya Tsamara Amany membuat pernyataan menyinggung soal kepemimpinan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Namun, akibatnya dia malah dikritik oleh salah satu media massa Rusia, Russia Beyond The Headline (RBTH) karena dianggap kurang wawasan.

Dikutip dari akun Twitter PSI @psi_id, Jumat (6/4), Tsamara menyinggung soal kondisi Rusia melalui video berdurasi kurang dari satu menit.

Isi pernyataannya ditujukan sebagai balasan atas cuitan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon. Sebab Fadli sempat menyatakan kalau pemimpin Indonesia selanjutnya diharapkan mempunyai karakter seperti Putin.

Dalam pernyataan di video itu Tsamara menyebut Vladimir Putin bukan contoh pemipin yang baik karena ia membungkam oposisi dan pers di sana.

“Di rusia tidak ada kebebasan beraspirasi seperti di Indonesia,” kata Tsamara.

Bahkan menurutnya, praktik korupsi di Rusia dibiarkan begitu saja.

“Kalau kita lihat dari segi indeks persepsi korupsi, Indonesia jauh di atas Rusia,” katanya.

“Nah kalau sudah tahu begitu, yakin orang seperti itu mau dijadikan standar kepemimpinan? Kalau saya tidak mau ada pemimpin seperti itu di Indonesia. Kalau kamu?” katanya.

Cuitan itu dibalas oleh RBTH melalui akun Twitter mereka, @RBTHIndonesia.

“Selamat malam @TsamaraDKI.

Kami Russia Beyond, media Rusia (yang salah satunya) dalam bahasa Indonesia. Kami pikir di sini ada kesalahpahaman soal pengetahuan anda tentang politik dan bahkan sistem pers di Rusia. Ini sangat disayangkan sekali.

Kami tidak membela siapapun, termasuk @fadlizon atau bahkan Presiden Putin. Namun, pernyataan Anda tentang negara kami, bahwa di Rusia tidak ada kebebasan beraspirasi seperti di Indonesia, ini menunjukkan kedangkalan wawasan.

Kami pikir, Anda perlu lebih banyak riset soal negara kami. Kami tidak ikut campur dengan politik Indonesia. Kalau ada politikus Indonesia yang mengidolakan pemimpin kami, kami bisa apa? Anda bisa juga berdiskusi dengan @RusEmbJakarta untuk tahu lebih banyak tentang negara kami.

Beberapa jam setelah dikritik di dunia maya, Tsamara dan PSI lantas menerbitkan siaran pers. Dia menyampaikan empat pernyataan terkait bantahan RBTH.

Tsamara menyatakan sangat memahami keberatan RBTH. Sebab menurut dia RBTH adalah sarana kampanye Rusia kepada dunia.

“Karena itu, sangat wajar bila RBTH wajib membela citra Putin di dunia internasional,” tulis Tsamara dalam keterangan pers diterima CNNIndonesia.com.

Tsamara mengatakan, komentarnya tentang Putin ditujukan kepada publik Indonesia, terkait pernyataan Fadli Zon beberapa waktu lalu.

“Yang mengimbau masyarakat Indonesia untuk mencari pemimpin seperti Putin sebagai pengganti pemimpin yang ‘planga-plongo’ (yang hampir pasti ditujukan pada Presiden Indonesia Jokowi),” kata Tsamara.

Tsamara melanjutkan, seperti dikatakan dalam status RBTH, tentu saja Fadli berhak untuk mengagumi Putin. Namun, dia merasa wajib mengingatkan masyarakat Indonesia pemimpin seperti Putin bukanlah pemimpin yang layak bagi Indonesia yang saat ini berkomitmen memperjuangkan demokrasi dan memerangi korupsi.

“Ketika saya mengkritik Putin, bukan berarti saya kemudian anti terhadap rakyat Rusia yang memiliki peradaban luar biasa. Ini sama saja ketika kita mengkritik Donald Trump dan cara-caranya memenangkan pemilu dengan menggunakan politik identitas, bukan berarti saya membenci rakyat Amerika Serikat,” kata Tsamara.

Selain itu, Kata Tsamara, penilaian tentang kualitas Putin yang diktator, otoriter dan membiarkan korupsi terorganisir sudah banyak dikemukakan media dan lembaga-lembaga riset ternama di negara-negara demokratis dunia.

“Saya hanya merujuk pada analisis-analisis tersebut. Misalnya, survei The Economist tahun 2017 masih menempatkan Rusia sebagai negara dengan rezim otoritarian,” ujar Tsamara.

Berdasarkan data dari Transparansi Internasional soal Indeks Persepsi Korupsi 2017, Indonesia memang berada pada peringkat 96 di kawasan Asia-Pasifik.

Sedangkan Rusia menduduki posisi 135 di kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah.

Persaingan politik di Rusia juga keras. Kelompok oposisi dipimpin seorang advokat, Alexei Navalny, adalah yang paling keras menentang kepemimpinan Putin. Dia menuding Putin belum bisa memerangi korupsi secara efektif. Dia dan sejumlah pengikutnya juga pernah dipenjara gara-gara beberapa kali menggelar unjuk rasa besar-besaran menentang Putin.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here