Kisah Sedih Tukang Sapu Jalanan Gagal Umroh karena Tertipu First Travel

0
10

KARANGANYAR – Persidangan kasus First Travel yang saat ini masih bergulir ternyata membuka luka lama jamaah korban penipuan dan penggelapan oleh perusahaan yang dimotori Andika Surachman, Anniesa Hasibuan, dan Siti Nuraidah Hasibuan alias Kiki.

Sebanyak 45 orang warga lereng gunung Lawu ini terpaksa harus gigit jari karena menjadi korban penipuan biro haji dan umrah First Travel. Padahal mereka semua sudah membayar lunas biaya perjalanan umrahnya.

Ironisnya lagi mayoritas warga Karanganyar yang menjadi korban penipuan adalah kalangan masyarakat kecil seperti pedagang pasar, pensiunan hingga tukang sapu jalanan.

Kuatnya keinginan mereka untuk merasakan ibadah di Tanah Haram membulatkan tekat untuk membobol tabungan yang sudah disisihkan dari cucuran keringat mereka selama puluhan tahun lamanya.

Berawal dari info promo umrah murah yang tersebar, membuat 45 orang warga Karanganyar tertarik untuk berangkat ke Tanah Suci. Setelah melakukan pembayaran lunas melalui transfer ke rekening First Travel mereka dijanjikan akan segera berangkat.

Alhasil setahun lebih berlalu rombongan 45 orang asal Karanganyar tidak juga diberangkatkan. Malah sebaliknya mereka kaget saat mengetahui pasutri dan adiknya pengelola First Travel diamankan atas laporan penipuan jamaah umrah, nasib uang yang sudah disetorkan raib tak berbekas.

Salah satu korban dari First Travel asal Karanganyar adalah Suti (50) warga Karanganyar Kota. Sehari-hari Suti bekerja sebagai tenaga harian lepas (THL) di Dinas Kebersihan Karanganyar. Lebih dari 21 tahun lamanya Suti menekuni profesi sebagai penyapu jalan.

Saat yang lain masih terlelap dalam buaian mimpi dan hangatnya selimut, Suti sudah bangun di pagi buta untuk membersihkan sampah di sekitar Taman Pancasila. Dingin dan gelapnya malam tidak dirasakan oleh Suti, dan profesi tersebut sudah dilakoninya selama lebih dari dua puluh tahun lamanya.

Ditemui di rumah sederhana miliknya Suti menceritakan saat ini dari pekerjaannya sebagai penyapu jalanan, dirinya mendapatkan gaji sebesar Rp1.050.000.

Sebelumnya, gaji yang didapat, tidaklah sebesar saat ini. Namun, meski mendapatkan gaji kecil, namun Suti tetap berusaha bisa menyisihkan untuk tabungan. Terutama tabungan agar bisa ke Tanah Suci. Sisanya digunakan untuk membantu pendapatan Suwanto, suaminya, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Saya kumpulin sedikit demi sedikit lebih dari 20 tahun lamanya. Pingin ke Mekah kados priyantun sanes (ingin ke Mekah seperti orang lainnya). Tapi kok ya batal berangkat, padahal sudah diarep-arep (diharapkan),” jelas Suti, Senin (12/3/2018).

Bagai gayung bersambut, saat dirinya datang ke suatu pengajian, Suti mendengar ada promo murah untuk ibadah umrah. Tidak terbersit sedikitpun dalam benak Suti jika dikemudian hari dirinya batal berangkat dan uang yang sudah disetorkannya hasil keringatnya akan hilang begitu saja. Apalagi yang memberitahukan adannya umrah murah dipengajian itu adalah istri salah satu orang berpengaruh di Karanganyar.

“Saya tidak punya perasaan buruk. Masa orang mau ibadah kok diapusi (dibohongi). Makane saya niat ikut,” lanjut Suti.

Namun betapa kagetnya Suti saat dirinya mendengar bahwa pemilik travel umrah yang akan memberangkatkan dirinya bersama 44 warga Karanganyar lainnya ditahan pihak Kepolisian karena dugaan penipuan.

Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan Suti kala itu. Kaget, marah, kecewa, nangis, jengkel, semua bercampur menjadi satu. Sebagai orang biasa dan tidak paham hukum, dirinya hanya bisa pasrah menjalani takdirnya.

“Rasane campur aduk. Tapi bagaimana lagi, tidak tahu harus kemana,” jelas Suti sambil berurai air mata.

Sampai pada akhirnya, untuk menebus rasa kecewa dan malu karena batal berangkat, para korban First Travel ini pun sepakat menggunakan biro lain untuk ke tanah suci. Namun, semua peserta yang semula menjadi jamaah First Travel harus membayar kembali sebesar Rp. 17,5 juta lebih.

Awalnya Suti bingung dari mana lagi dirinya punya uang. Sedangkan uang miliknya sudah disetorkan semua ke First Travel. Karena sudah kepalang basah menahan malu, akhirnya, sama seperti jamaah korban umrah lainnya, Suti pun akhirnya setuju dengan saran disampaikan kembali istri dari orang berpengaruh di Karanganyar itu yang juga mengabarkan umrah murah dari First Travel tersebut.

Karena mayoritas perserta umrah sudah tak memiliki dana lagi, maka diaturlah skema pembayaran umrah ke biro lainnya. Dimana, semua dana, untuk sementara dipinjami (ditalangi) oleh salah satu BMT di Karanganyar. Nantinya sesuai kesepakatan mereka harus membayarnya.

Setelah semua proses dan persyaratan terpenuhi, akhirnya Suti bersama rekan lainnya bisa tersenyum gembira melupakan kepahitan sesaat karena ditipu First Travel, berangkat ke Tanah Suci. Kebahagiaan bercampur kesedihan teruntai dalam doa yang disematkan Suti di tanah suci.

“Ya, bojone pejabat niku malih (ya, istri dari pejabat itu lagi) yang mengarahkan BMT-nya. Saya berdoa agar uang saya bisa kembali lagi,” lanjut Suti.

Usai kepulangan ke Tanah Suci, cobaan untuk Suti ternyata belum berakhir. Salah satu BMT yang meminjamkan dana talangan datang ke rumahanya meminta agar Suti segera melunasi. Padahal awalnya mereka diberi kesempatan untuk mencicil dana talangan tersebut.

“Karena saya takut dan gak mau ada masalah saya akhirnya menggadaikan rumah ke bank (konvensional) yang bunganya lebih kecil untuk menutup pinjaman ke BMT. Tiap bulan saya cicil Rp500 ribu lebih selama tiga tahun,” papar Suti.

Terpisah, SP warga perumahan Pelita di Karanganyar yang juga jamaah korban dari First Travel yang enggan disebut namanya mengatakan senada dengan Suti. Dirinya juga tertarik mengikuti promo umrah murah yang ditawarkan.

Apalagi yang memberitahukan adanya umrah murah istri orang berpengaruh di Karanganyar. Sayangnya, seperti halnya Suti, SP juga gagal berangkat ke tanah suci dan beralih menggunakan jasa travel lain untuk berangkat umrah pada bulan Mei 2017 lalu.

Awalnya dirinya mengetahui promo tersebut dari brosur, melihat biayanya murah dan fasilitasnya bagus, dirinya mendaftar ke agen First Travel di Jakarta dan membayar melalui tranver pada bulan November 2016. Semula dirinya membayar sesuai brosur sebesar Rp. 14,3 juta ternyata masih harus nambah lagi Rp. 700 ribu.

“Karena ada promo, maunya berangkat bareng-bareng. Awalnya dijanji-janji, berangkat Desember tapi terus diundur, akhirnya malah begini kejadiannya. Nunggu setahun lebih, sampai pulang umrah gak ada kejelasan sama sekali,” tuturnya.

Menurut SP, meskipun dirinya kesal dengan istri pejabat berpengaruh yang memberitahukan adanya umrah murah dari First Travel, namun SP pun merasa kasihan. Ternyata orang yang memberitahukan adanya umrah murah itu pun tertipu dan gagal berangkat sama seperti dirinya.

Kini SP hanya bisa berharap Persidangan First Travel bisa mengembalikan uang miliknya dan juga jamaah umrah lainnya. Pasalnya uang sebesar itu sangat berharga bagi dirinya.

“Saya berangkat pakai uang taspen suami saya yang sudah meninggal. Harapan saya dan jamaah umrah lainnya uang bisa kembali,” tutupnya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here