Ketua APT2PHI : Pemerintah Harus Turun Tangan Terhadap Kerisis Beras

0
14

Beritaplatmerah.comBandung – Rahman Sabon Nama, Ketua Umum Asosiasi Pedagang dan Tani Tanaman Pangan Dan Holtikultura Indonesia APT2PHI meminta kepada pemerintah agar segera turun tangan membantu petani produsen padi dari keterpurukan harga gabah diberbagai daerah di pulau Jawa,menurut  pantuan lapangan oleh  organisasi yang dipimpinnya terkait Musim Panen Raya (MPR)diberbagai daerah di Jatim,Jateng dan Jabar,seharusnya HD/HPP Gabah yang ditetapkan pemerintah berguna buat petani dengan harga yang mampu melindungi mereka dari kejatuhan harga pada musim panen raya tahun ini.

Pemerintah harus menyadari bahwa musim panen raya itu berlangsung dari Februari -Mei 2016 dengan HPP yang ditetapkan harusnya mampu melindungi petani dari kejatuhan harga.HPP Gabah Kering Panen Rp.3700/kg dan HPP Gabah Kering Giling GKG Rp.4600/kg patokan harga pemerintah tidak menolong petani karena Bulog tidak kelihatan berperan  menyerap pembelian langsung oleh satgas Bulog dari petani. Bulog harus bertanggung jawab pada stabilisasi kejatuhan harga gabah dan beras petani,agar tidak terjadi krisis beras dan pemerintah tidak impor beras tahun ini,maka Bulog harus berperan maksimal dan bekerja lebih progresif menyerap pembelian gabah dan beras petani kalau tidak akan terjadi kerawanan cadangan stok nasional pemerintah dan Indonesia terancam krisis beras, “Ujar Rahman Kepada PlatMerah.

Perkiraan Ketua APT2PHI tersebut,”luas panen total pada Panen Raya ini mencapai 55,5% dari 11,2 juta Ha areal sawah panen total rata rata pada 2016 ini.Ramalan Badan Pusat Statistik BPS Maret akan panen 2,5 juta Ha dan April 2,3 Juta Ha dengan asumsi per Ha 5 ton, maka akan menghasilkan 29 juta ton GKP.

Rahman Memprediksi harga gabah atau produksi padi oleh Badan Pusat Statistik BPS seharusnya mengikuti pola panen,tidak seperti sekarang dengan berdasar pada catur wulan  yaitu Januari-April,Mei-Agustus dan September-Desember karena peramalan produksi baik oleh BPS dan Kementrian Pertanian dimulai pada bulan Januari hingga Desember sesungguhnya tidak didukung oleh argumentasi yang kuat.

Oleh karena itu menurut saya pola musim panen raya 55,5% berlangsung antara Pebruari-May dan porsi musim panen gadu sekitar 30 % dari Juni-September dan musim paceklik antara Oktober-Januari,agar tidak terjadi silang pendapat soal data produksi Kementrian Pertanian dan data permintaan dan konsumsi beras yang dari Kementrian Perdagangan harusnya menjadi satu kesatuan data integratif resmi pemerintah tidak saling cerca dan mencari kambing hitam ini harus diakhiri pinta Rahman jangan rakyat jadi korban.”Katanya.

Rahman menuturkan,Harga gabah GKP ditingkat produsen di Madiun,Ngawi dan Magetan ,Sragen dan Indramayu saat ini dibawah harga HPP merosot hingga Rp.3300/kg.sedangkan harga paling tinggi di Bondowoso dan Mojokerto Rp.3900/Kg. Intervensi pemerintah melalui HD/HPP tentu berpengaruh positif terhadap peningkatan produksi padi manakala didukung dengan penyerapan pembelian oleh pemerintah/Bulog yang bisa menolong petani.

Untuk itu,”Rahman minta kepada pemerintah agar serius melakukan misi kebijakan stabilisasi harga gabah/beras petani dengan ketepatan waktu pembelian untuk penguasaan stok serta pelepasan stok pada saat yang tepat sehingga bermanfaat untuk petani produsen dan bagi konsumen rakyat Indonesia’.

Editor:Aston

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here