Kenapa Surabaya yang Diteror Bom?

0
7

Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran Bandung, Muradi mengemukakan pandangannya terkait rentetan teror bom yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur. Menurut dia, terdapat upaya merusak kondisi sosial masyarakat Surabaya yang selama ini sudah terbentuk dengan kuat.

“Masyarakat Kota Surabaya itu kan toleran, kalau kita ke Surabaya, terlihat karakter masyarakatnya sangat kuat. Itu yang saya kira coba dihancurkan oleh pelaku terorisme,” tutur Muradi, Senin (14/5/2018) pagi, dalam sesi wawancara on air dengan radio PRFM Bandung.

Terkait upaya antisipasi dan penanggulangan aksi teror serupa, Muradi memandang, hal terpenting saat ini adalah memiliki dasar hukum kuat. Seperti diketahui, Revisi UU Terorisme sampai saat ini belum disahkan DPR RI. Dengan demikian, belum bisa menjadi landasan hukum para aparat negara untuk bertindak sebelum teror bom terjadi.

“Kalau Undang-undang itu sudah diketok palu, tinggal ngambil orang-orang (terduga teroris) itu. Karena di UU yang baru, sudah diatur bahwa yang punya potensi (meneror), mengarahkan, punya sentimen, dan semacamnya, itu bisa diproses. Kalau di UU sekarang, tidak bisa. Mereka (aparat) hanya bisa memantau, melihat,” tutur Muradi.

Menurut dia, pembahasan naskah revisi UU Terorisme ini sebenarnya sudah rampung. Muradi pun berharap revisi tersebut bisa segera disahkan dalam waktu dekat. “Pembahasan tentang TNI dengan Polri sudah selesai, soal masa tahanan sudah juga,” kata dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, tiga gereja di Surabaya diteror bom yang menewaskan 11 orang dan melukai 41 orang lainnya, Minggu (13/5/2018), disusul malam harinya juga terjadi ledakan bom di apartemen Wonocolo Sidoarjo yang melukai beberapa orang. Terakhir, bom juga meledak di pintu gerbang Mapolresta Surabaya yang melukai 10 orang, termasuk anggota polisi. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here