KEMANA ARAH POLITIK KELOMPOK RADIKAL DI PILPRES 2019?

0
7

BERITAPLATMERAH, JAKARTA-Sejak menjadi kekuatan politik pada Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, kelompok radikal dipastikan akan memainkan identitas agama sebagai komoditas politik.

Apalagi dalam Reuni 212 belum lama ini, wacana “memilih calon presiden Muslim” dimainkan sebagai jargon kampanye untuk mengusung agama sebagai daya magis yang memobilisasi dukungan pemilih, terutama 60% pemilih radikal yang kurang pengetahuan politik dan rentan termobilisasi.

Membaca situasi ini, terutama setelah ide “NKRI Syariah” dikumandngkan terus, jelas bagi kita bahwa pertarungan Pilpres 2019 sesungguhnya bukan pertarungan “Jokowi vs Lawan Jokowi” melainkan pertarungan “NKRI vs NKRI Syariah”. Maka, pilihan membela Jokowi dan figur sejenisnya adalah pilihan membela NKRI.

Lantas kemana arah politik kelompok radikal di 2019? Arah politik radikal adalah menggantikan Pancasila dan UUD 1945 dengan sesuatu yang bercorak Syariah. Untuk tujuan ini, mereka memerlukan dukungan partai politik dan memerlukan figur yang bisa diusung menjadi calon presiden.

Pada titik lain, partai dan figur yang ingin melawan Jokowi tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi Jokowi selain memanfaatkan sentimen agama yang dibangun oleh kelompok radikal. Simbiosisme ini akan menjadi pertautan kepentingan paling berbahaya dalam sejarah karena taruhannya adalah nasib Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

Untuk membahas semua kemungkinan ini, termasuk partai apa yang akan bersenggama dengan kelompok radikal, Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) mengadakan diskusi Tutup Tahun 2017 di Hotel Aryaduta Semanggi Jakarta Selatan.

Diskusi yang dilangsungkan pada hari rabu 13 desembar 2017 tersebut mengambil  tema “Kemana Kiblat Politik Kelompok Radikal di Pilpres 2019” pada:

Nara sumber yang akan hadir sebagai pembicara dalam acara itu diantaranya,Suhardi Alius
(Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme/BNPT),Bambang Soesatyo(Ketua Komisi III DPR RI),Soleman B. Ponto (Kepala Badan Intelijen Strategis, 2010-2013)
,Hendardi (Ketua SETARA INSTITUTE),Boni Hargens (Pengamat Politik/Direktur Lembaga Pemilih Indonesia),Nuning K. Susaningtyas
(Pengamat Militer dan Intelijen),Gracia Paramitha (Akademisi/Mahasiswa Doktoral di York University, UK) sementara pemimpin Umum beritaplatmerah.com, Drs Solon Sihombing bertindak sebagai moderator(AN)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here