Suasana-Pasar-Tanah-Abang-saat-ini

Kemacetan Jakarta Rugikan Masyarakyat 28 Triliun

BERITAPLATMERAH, JAKARTA-Kemacetan Ibukota yang kian parah membuat berbagai aktivitas masyarakat dan ekonomi terganggu. Bahkan Presiden Joko Widodo mengatakan akibat kemacetan di Jakarta menimbulkan kerugian hingga Rp28 triliun. Presiden meminta Gubernur Anies Baswedan dan Wakil Gubermur Sandiaga Uno untuk membereskan persoalan kemacetan tersebut. Salah satunya, dengan mengebut pengerjaan Light Rapid Transit (LRT) dan Mass Rapid Transit (MRT).

Sementara itu Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta Tuty Kusumawati mengatakan, kerugian yang terjadi akibat kemacetan di Jakarta, yakni sekitar Rp 67 triliun per tahun.

Menurutnya, Pemprov DKI berusaha keras mengatasi kemacetan itu agar kerugian bisa dihilangkan. Caranya antara lain dengan membangun transportasi massa dengan baik da terencana.

“Upaya lain membenahi kemacetan dengan membangun mass rapid transit (MRT) dan light rail transit (LRT),” ujar Tuty di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (6/10/17).

Selain transportasi massal, Tuty menyebut kesadaran warga dalam berlalu lintas juga perlu dibenahi. Sebab, perilaku berlalu lintas yang keliru juga menyumbangkan kemacetan di Jakarta.

Rp67 Triliun

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro sebelumnya menjelaskan besarnya kerugian yang terjadi akibat kemacetan di Jakarta.

Menurut dia, salah satu penyebab terjadinya kemacetan tersebut karena Jakarta telat membangun moda transportasi massal berbasis rel, mass rapid transit (MRT) dan infrastruktur lainnya.

“Kemacetan Jakarta mengakibatkan kerugian 5 miliar dollar AS (sekitar Rp 67 triliun) per tahun ya. Karena jumlah jalan kecil,” kata Bambang, di Universitas Indonesia, Depok.

Masalah kemacetan Ibu Kota menjadi salah satu pembahasan antara Presiden Joko Widodo dengan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Jokowi menceritakan isi pertemuannya dengan Anies-Sandi yang membahas solusi kemacetan itu.

Presiden Jokowi mengaku meminta keduanya untuk membereskan kemacetan di Jakarta. Salah satunya, dengan mengebut pengerjaan Light Rapid Transit (LRT) dan Mass Rapid Transit (MRT).

“Dua ini adalah transportasi massa yang akan mengurangi kemacetan banyak di Jakarta. Karena kita kehilangan Rp 28 triliun tiap tahun karena kemacetan di Jakarta,” ujar Jokowi di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (26/10).

Kerugian Warga

Adapun pihak Bank Indonesia perwakilan DKI Jakarta, sempat merilis kerugian ekonomi yang dialami pihak korporasi. Disebutkan, kemacetan dinilai mengurangi laju mobilisasi warga hingga 30%. Kecepatan berkendara di Jakarta pun berkurang hingga rata-rata hanya 14 km/jam.

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Danang Parikesit, mengatakan kerugian ekonomi yang ditimbulkan kemacetan ialah 3% dari produk domestik bruto (PDB) DKI Jakarta atau sekitar Rp12 triliun setiap tahun. Angka itu belum termasuk kerugian kesehatan yang ditimbulkan.

“PDB DKI itu sekitar Rp400 triliun, dikali 3% itu Rp12 triliun. Bicara safety cost yang di dalamnya ada kerugian kesehatan itu 2%-3%. Jadi, totalnya 6%, sekitar Rp20 triliun setiap tahun,” jelasnya.

Danang menjelaskan, angka itu meliputi kerugian biaya transportasi, seperti pembelian BBM serta biaya kesehatan yang harus dibayarkan. “Biaya penyakit saluran pernapasan seperti ISPA, asma, kemudian autisme itu ditimbulkan kemacetan,” lanjutnya.

Menurut Danang, kerugian yang diderita warga Jakarta bisa terus bertambah jika kondisi transportasi di Ibu Kota masih jauh dari harapan.

“Konsumsi bahan bakar kendaraan pribadi jauh lebih tinggi daripada kendaraan umum. Pertaruhannya Pak Ahok itu ialah bagaimana mendorong pengguna kendaraan pribadi ke angkutan umum,” jelasnya

Jika Pemprov DKI menginginkan 60% masyarakat beralih ke transportasi massal seperti yang diharapkan, Danang menegaskan hal itu memerlukan reformasi angkutan umum yang baik.

“Waktu itu kami menghitung untuk mencapai target 60% (beralih ke transportasi massal) itu butuh 15 ribu hingga 12 ribu bus baru. Pemprov DKI mengatakan 800 bus baru didatangkan dari Kementerian Perhubungan. Masih jauh jumlahnya,” ungkapnya.

Selain itu, saat ini baik pemerintah pusat maupun Pemprov DKI memang tengah melakukan pembangunan moda transportasi massal berbasis rel, seperti mass rapid transit (MRT) dan light rail transit (LRT). Diharapkan, moda transportasi itu bisa mengurangi kepadatan lalu lintas di Ibu Kota.

“Kalau itu bisa diatasi dengan baik, saya yakin biaya kerugian yang 3% dari PDB itu bisa dikurangi. Enggak mungkin nol memang. Bisa dikurangi Rp10 triliun per tahun kerugian masyarakat itu sudah bagus banget,” tukas Danang.

Andri (32), warga Mampang, Jakarta Selatan mengaku benar-benar merasakan kemacetan yang terus merambah hingga jalan-jalan pinggiran Ibukota. Ia merasa rugi karena kemacetan kini sudah terjadi saat ia baru keluar dari rumahnya di kawasan Jalan Bangka, Mampang, Jakarta Selatan.

“Dari segi ekonomi saya harus bersiasat untuk menghemat pos pembelanjaan lain dan menambah alokasi pembelian bahan bakar akibat sering terkena kemacetan. Dari segi ekonomi masih bisa diakali, tapi stresnya itu lo,” tuturnya saat ditemui di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (30/10/17). **