Kapolri Klarifikasi Soal Pelaku Bom di Surabaya: Keluarga Dita Tidak Pernah ke Suriah

0
8

Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian mengklarifikasi pernyataan yang mengatakan pelaku peledakan tiga gereja di Surabaya pernah ke Suriah.

Tito mengatakan, data validnya adalah keluarga Dita tidak pernah ke Suriah. Hanya saja, ada satu keluarga yang mereka jadikan sumber ideologi.

Dimana keluarga yang masih dalam proses identifikasi itu pernah ditangkap di Turki dan dideportasi ke Indonesia.

“Saya klarifikasi soal keluarga Dita, mereka tidak pernah ke Suriah. Hanya saja, ada satu keluarga yang kita cari yang jadi ideologi (panutan) keluarga Dita,” kata Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Senin (14/5/2018) dikutip Tribun.

Dita diketahui adalah pelaku pengeboman Gereja Pantekosta dengan menggunakan kendaraan roda empat Avanza hitam. Dita juga merupakan ketua dari JAD Surabaya.

“Dita merupakan Ketua JAD di Surabaya. Akibat dari aksinya menimbulkan aksi susulan dari jaringannya, seperti pagi tadi di Polrestabes,” kata Tito.

Namun, keterangan berbeda disampaikan oleh Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (15/5) yang mengatakan Dita pernah berangkat ke Suriah.

Menurut Setyo, aksi bom bunuh diri yang dilakukan bomber tiga gereja Surabaya, Dita Oerpriarto sekeluarga, rupanya sudah diprediksi oleh Polri. Latar belakang Dita yang pernah berangkat ke Suriah, membuat polisi yakin pria tersebut akan melakukan aksi teror.

“Sebenarnya sudah tahu kita kalau Dita baru pulang dari Suriah dan akan lakukan aksi,” kata Irjen Setyo Wasisto di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (15/5), dikutip Kumparan.

Namun Polri tak bisa langsung menangkap Dita, karena terhalang UU Antiterorisme. Ada pasal yang menyebutkan bahwa Polri tidak dapat bertindak bila tak ada pergerakan.

“Kita ini terbatas, kita hanya bisa cium baunya saja karena terhalang oleh UU yang mengatakan sebelum dia bergerak kita enggak boleh ada upaya paksa,” ucap Setyo.

Oleh karena itu Setyo berharap revisi UU Antiterorisme segera disahkan DPR. Hal itu guna mencegah aksi teror yang serupa kembali terjadi di Indonesia.

“Jadi kita harapkan UU bersifat lebih responsif dan pro aktif. Artinya, kita juga bisa melakukan penindakan langsung jika kita punya bukti kuat, seperti dia baru pulang dari Suriah ikut combat disertai foto dan video atau keterangan saksi yang bisa dikenakan dengan tindak pidana terorisme,” jelas Setyo.

Setyo yakin sebelum tanggal 30 Juni revisi UU Antiterorisme akan segera disahkan. Sebab sejumlah pihak sudah satu pemikiran dengan Polri untuk menumpas aksi teror.

“Kemarin malam saya sudah ketemu beberapa tokoh, salah satunya Asrul Sani (Anggota Komisi III DPR). Jadi semua sudah satu frame dan kita harap sebelum tanggal 30 sudah selesai,” pungkas Setyo.

Sebelumnya Kapolri menyatakan, Dita Oepriarto, pelaku bom bunuh diri Gereja Pantekosta Pusat Surabaya, Jawa Timur ternyata pernah berguru perakitan bom dengan ISIS di Suriah. Dita bersama keluarga pernah pergi ke Suriah belajar strategi teror ISIS.

Menurut Tito, keluarga Dita merupakan satu dari 500 pihak yang pulang dari Suriah Ke Indonesia.

Dalam data yang didapat, Tito menjelaskan sekitar 1000 orang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Sementara 500 orang lainnya masih di Suriah, dan 103 diantaranya sudah meninggal di Suriah.

Mereka bergabung dengan ISIS dan kembali ke Indonesia. Tito menjelaskan Dita merupakan sel dari Jemaah Ansorut Daulah (JAD).

“Yang kembali dari Suriah 500,termasuk di antaranya keluarga ini,” ujar Tito saat konfrensi pers di RS Bhayangkara Surabaya, Minggu (13/5) dikutip RMOL.

Hasil identifikasi Polri, keluarga Dita merupakan pihak yang melakukan aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Jawa Timur.

Diketahui bom pertama meledak sekitar pukul 07.30 WIB di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Utara, Surabaya.

Pelaku merupakan dua anak laki-laki Dita bernama Yusuf Fadil (18) dan Firman (16). Keduanya menggunakan motor yang menerobos masuk ke Gereja Santa Maria Tak Bercela. Bom diduga diletakkan di pangkuan pelaku.

Selang sekitar lima menit kemudian bom kedua meledak di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno dan tidak lama kemudian bom meledak di gereja GKI di jalan Diponegoro.

Pelaku yang menyerang di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya yang menggendarai Mobil Avanza adalah Dita.

Dita melakuakn serangan bom bunuh diri dengan cara menabrakkan mobil yang dikemudikannya ke Gereja Pantekosta.

Namun sebelum melakukan aksinya, Dita terlebih dahulu mengantar isteri dan dua anak perempuannya di Gereja GKI Jalan Diponegoro.

Isterinya yang diduga meninggal bernama Puji Kuswati. Kemudian kedua anak perempuan Fadila Sari (12) dan Pamela Rizkita (9).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here