Jokowi Bagi-bagi Sertifikat, Amin Rais : Ini Pengibulan !

0
8

Mantan Ketua MPR RI Amien Rais menyebut program bagi-bagi sertifikat yang dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah suatu pembohongan.

“Ini pengibulan, waspada bagi-bagi sertifikat, bagi tanah sekian hektar, tetapi ketika 74 persen negeri ini dimiliki kelompok tertentu seolah dibiarkan. Ini apa-apaan?” kata Amien dalam diskusi ‘Bandung Informal Meeting’ yang digelar di Hotel Savoy Homman, Jalan Asia Afrika, Bandung, Minggu (18/3/2018).

Dalam acara itu Amien juga berbicara mengenai kebangkitan PKI yang menurutnya sudah tampak di era pemerintahan Jokowi ini.

“Pemimpin (Jokowi) mengatakan tahun 1965 baru 4 tahun mana ada PKI balita. Memang enggak ada, tapi kenapa rezim ini memberikan angin membangkitkan PKI,” ujarnya.

Amien menyebut era Jokowi ini sebagai era di mana antara ucapan dan kenyataan tidak sejalan. Sehingga dia menilai masyarakat cenderung ditipu oleh pemerintah.

“Kita mengalami satu zaman antara omongan dan kenyataan jaraknya makin jauh. Kita sedang hidup di mana ada penipuan, pengalihan fokus dan pembodohan yang melakukan kadang-kadang dari yang tinggi,” kata Ketua Majelis Kehormatan PAN ini.

Selain itu Amien juga berbicara mengenai kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Amien menuding ada ‘sandiwara’ sehingga kasus tersebut sampai saat ini belum menemui titik terang.

“Kita sedang menyaksikan sandiwara hukum yang memuakkan,” ucap Amien.

Menurut Amien, ‘sandiwara’ yang dimaksud merujuk saat Polri hingga saat ini belum bisa mengungkap kasus penyiraman Novel. Amien kemudian membandingkan dengan masa ketika dirinya masih menjabat sebagai Ketua MPR pada periode 1999 – 2004.

Saat itu, kata Amien, pengungkapan kasus teroris begitu cepat dilakukan Polri.

“Dulu ketika saya ketua MPR, saya memuji waktu bom bali 2002 dalam hitungan hari bisa ungkap dan menangkap pelakunya sekaligus. Sehingga CIA memuji polisi Indonesia hebat. Lalu bom JW Marriot, bilangan hari tertangkap. Tapi Novel Baswedan, hari 149, polisi angkat tangan. Sulit sekali katanya,” tutur Amien.

Amien pun mengaku heran dengan pernyataan yag menyebutkan bahwa tim gabungan pencari fakta (TGPF) untuk kasus Novel belum diperlukan, padahal sudah banyak pihak, termasuk kaum intelektual, mendesak agar tim segera dibentuk.

“Jadi memang tidak ada penyelesaian. Sudah hampir setahun bilangnya belum perlu (TGPF). Semakin lama, makin nggak karuan. Karena itu mungkin kita harus kenceng. Andai kata istana mau buka pintu 20 menit untuk ketemu Ratna (Sarumpaet), sampaikan ‘Pak Jok jangan sandiwara’ dipanggil Kapolrinya,” canda Amien.

Selain Amien Rais, diskusi ‘Bandung Informal Meeting’ itu juga dihadiri sejumlah tokoh, antara lain Ratna Sarumpaet, aktivis Lieus Sungkharisma, dan politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Suripto.

Diskusi ‘Bandung Informal Meeting’ tersebut mengusung tema ‘Kegagalan Negara Memberikan Rasa Aman Kepada Rakyat dan Bangsa’, diselenggarakan oleh ‘Gerakan Selamatkan Indonesia’ yang dipimpin Ratna Sarumpaet.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here