jem

Jema’s, Komoditi Unggulan Kabupaten Bandung

BERITAPLATMERAH, BANDUNG.- Kabupaten Bandung, kini memiliki produk dan komoditas pertanian unggulan terbaru. Yaitu, jeruk manis sadu sabilulungan (jema’s) yang ditanam pada lahan seluas 15 hektare di Kampung Cipicung, Desa Sadu, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung.
Dari belasan hektare lahan tanaman jema’s itu, 5 hekatre sudah mulai panen dan 10 hektare masih dalam proses pertumbuhan setelah ditanam enam bulan silam. Produk unggulan jema’s itu mulai dikembangkan sejak 25 Januari 2013 lalu hingga sekarang ini.
“Setelah ditanam pada 2013, pada 2015 sudah mulai bisa dipanen. Jadi usia 3 tahun, tanaman jema’s itu mulai bisa berbuah dan dipanen. Setiap satu pohon bisa menghasilkan 30 kg, sekali musim panen,” kata petani jema’s, Jasa Bagastara G. S.T., di rumahnya di Komplek Perumahan Soreang Indah, Kecamatan Soreang, Jumat (7/10/2016).
Jema’s memiliki kelebihan dalam rasa. Selain memiliki kandungan rasa yang khas, jema’s itu terasa manis, banyak air dan seratnya lembut. Rasa itu bisa dirasakan langsung, ketika jema’s baru dipanen dengan kondisi masih segar dan pres.
“Kesegaran jema’s itu berpengaruh pada rasa,” kata Jasa.
Jasa menjelaskan, tanaman jema’s itu, berusia tiga tahun mulai berbuah. Tetapi usia 2,5 tahun juga sudah mulai belajar berbuah, namun buahnya “wajib” dibuang karena buah pertama.
Jasa pun berambisi ingin menciptakan kawasan Soreang itu sebagai “kota jeruk”, setelah nama jeruk Garut lebih awal populer. Karena itu, pihaknya terus berupaya mengembangkan tanaman jeruk dengan melibatkan kelompok tani yang turut diberdayakan dalam program ekonomi kerakyatan tersebut.
“Kelebihan tanaman jema’s itu, bisa berproduksi puluhan tahun. Tentunya, dengan proses pemeliharaan, yaitu diberi nutrisi pada tanaman tersebut supaya tetap subur dan berbuah,” katanya.
Menurut Jasa, awal pengembangan tanaman jema’s itu, sebanyak 2.000 pohon yang saat ini sedang berproduksi pada lahan seluas 5 hektare tadi. Sedangkan 10 hekate lagi, masih dalam proses pertumbuhan dan usianya baru 6 bulan.
“Setiap satu hektare itu, ditanami 400 pohon dengan jarak 5 x 5 meter. Sebab, kalau terlalu rapat kurang bagus,” katanya.
Dikatakannya, tanaman jema’s itu sangat cocok jika melihat kondisi cuaca dan iklimnya yang berada posisi 800-900 meter di atas permukaan laut.
Ia mengatakan, benih tanaman jema’s itu, merupakan hasil pembibitan keluarga dirinya. Selain itu, dalam proses pengembangan berusaha untuk komunikasi dengan pemerintahan setempat. “Awalnya, inisiatif pribadi menanam tanaman jema’s ini. Namun lambat laun melibatkan masyarakat setempat yang tergabung dalam kelompok tani,” kata dia.
Terutama dalam pemasarannya, meski masih di wilayah Soreang. Dalam sehari, pemasaran jema’s itu mencapai 5 kwintal.
“Pasarnya, masih di Soreang karena lokasinya di Soreang. Yang menikmati jema’s pun diusahakan warga Soreang,” tuturnya.
Jema’s ini masih bisa bersaing pada kisaran Rp 20.000/kg untuk grade smol (10-12 butir/kg), medium Rp 25.000 (8-9 butir/kg) dan lage Rp 30.000/kg (6-7butir/kg). Untuk itu, besar kecilnya ukuran jema’s menentukan harga pasar. “Yang jelas grade membedakan harga jual jema’s,” katanya.
Melihat perkembangan jema’s itu cukup menggeliat, dia berharap memiliki rumah jeruk atau outlet. Dengan harapan kedepannya, jema’s ini menjadi ikon oleh-oleh Kabupaten Bandung.
“Misi kedepan, jema’s itu menjadi agro wisata sesuai dengan keinginan pemerintah setempat,” pungkasnya. (putri pregina trinata)**