Jalur Tambak Dibuka, Harimau di TWNC Terancam

0
5

Lampung – Pembukaan 30 hektare tambak di Desa Enclave Way Haru, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung berdampak pada kelangsungan harimau di kawasan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC)-Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Pasalnya, pembukaan tambak yang diikuti pembukaan jalur disekitar wilayah tambak telah memudahkan pemburu memasuki kawasan taman nasional. Hal ini terbukti dengan ditemukan kulit harimau Sumatera sebanyak 1 ekor pada awal Juni lalu di Sinarogan, Desa Tampang Muda, Kec. Pematang Sawa, Kabupaten Tanggamus, Lampung.

“Kami menduga dampak pembukaan tambak ilegal menyebabkan pemburu liar semakin mudah membantai harimau di kawasan TWNC-TNBBS,” ungkap Willyam dari TWNC di Lampung, Jumat (8/6/2018).

Willyam menuturkan tambak yang berdekatan dengan wilayah konservasi hutan dan cagar alam laut bakal merusak ekosistem. Sebab terjadi perubahan area yang signifikan terhadap kelestarian kawasan hutan dan cagar alam laut di sekitarnya. Mengutip laporan Polda Lampung, ternyata perusahaan itu tidak memiliki izin lingkungan untuk membuka tambak karena belum ada Amdal serta diduga bertentangan dengan tata ruang Pemda.

“Kami meminta semua pemangku kepentingan yang bergerak di bidang lingkungan hidup mendesak pemerintah menghentikan pembukaan tambak ini sebab bisa merusak ekosistem yang berdekatan dengan taman nasional,” ajaknya.

Penggiat TWNC itu meminta penegak hukum untuk dapat menjadikan pemburu harimau sebagai musuh bersama. Untuk itu, Willyam meminta jaksa dan hakim dapat memberikan vonis yang berat kepada pemburu liar harimau. Selama ini menurut catatannya, vonis untuk pemburu liar berkisar 1-2 tahun, tentu saja vonis ini tidak sebanding dengan nilai aset bangsa yang tidak ternilai harganya.

“Patroli TWNC-TNBBS menemukan pembukaan dan pelebaran jalan Way Haru–Way Heni oleh pengusaha tambak . Jalur patroli ini diubah menjadi jalan lintas permanen. Banyak jerat ditemukan di Desa Enclave Way Haru untuk menangkap satwa langka seperti harimau dan badak, adanya pembukaan jalur tersebut juga semakin mempermudah akses orang menjadi bebas keluar masuk kawasan konservasi. Jika hal tersebut dibiarkan, akan terjadi penurunan populasi satwa terutama satwa langka di kawasan,” jelas Willyam panjang lebar.

Willyam mengingatkan sidang kasus perambahan hutan kawasan TNBBS yang digelar di Pengadilan Negeri Bandar lampung sejak Mei lalu diharapkan dapat memberikan vonis setimpal sehingga pelakunya jera. Kasus perambahan hutan ini berawal dari adanya pembukaan tambak udang yang ditemukan oleh tim patroli TWNC.

Dalam sidang sebelumnya, saksi pelapor Kepala Pengawasan TWNC Icuk S Laksito mengatakan, pembukaan jalan telah merusak hutan karena membabat pohon di TNBBS. Padahal untuk pembukaan jalan harus menunggu izin dari Kementerian Kehutanan karena lokasinya di wilayah yang dilindungi oleh negara yaitu TNBBS.

“Panjang jalan yang dibuka mencapai 11,5 kilometer dengan lebar 9 meter ini berarti sudah ada pelanggaran,” ujar Icuk.

Pelanggaran selanjutnya yang dilakukan oleh pengusaha tambak itu yakni memasukan alat berat dan memotong jalur kolaborasi hutan yang dilindungi. Adanya pembukaan jalan ini juga dapat membuka peluang para pemburu liar untuk memburu hewan dilindungi yang ada di TNBBS.

“Lokasi tambak ini merupakan habitat bagi gajah, jika tambak beroperasi maka cagar alam laut rusak. kami tidak ada kepentingan, kami murni menjaga hutan negara,” jelasnya di sidang pengadilan.

Icuk menuturkan TWNC memiliki titik koordinat batas untuk menjaga batasan hutan lindung sedangkan kenyataan dilapang jalan yang dibuka menuju tambak sepanjang 11,5 km, dan 6 km di antaranya masuk wilayah hutan lindung yang dijaga oleh TWNC- TNBBS. Hal ini memperjelas bahwa pengusaha tambak membuka jalan tanpa izin dari TNBBS,” tegasnya. (Amr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here