FB_IMG_1501289731591

Jalin Kerja Sama, PT Pupuk Kujang Terima Kunjungan Kementerian Luar Negeri Laos

BERITAPLATMERAH, CIKAMPEK-IKAMPEK,-Dalam menjaga hubungan bilateral yang sudah dibina anatara Indonesia dengan Laos selama 60 tahun, Jumat  27 Juli 2017, PT Pupuk Kujang salah satu anggota holding Pupuk Indonesia (Persero) menerima kunjungan dari kementerian luar negeri RI yang diwakili oleh Abdurrahman Muhammad Fachir dan kementrian Luar Negeri Laos Saleumxay Kommasith diruang rapat dawuan, lantai 3, Gedung Pusat Admin Jawa barat.

Kunjungan ini diterima langsung oleh Direktur Utama PT Pupuk Kujang Nugraha Budi Eka Irianto dan jajaran direksi lainnya.

Dalam agenda ini, dengan adanya kunjungan membahas mengenai peningkatan hubungan bilateral antar kedua negara dan rencana Akan kerjasama Indonesia melalui perusahaan pupuk indonesia group dalam hal pemenuhan kebutuhan bahan baku pupuk NPK.

Kunjungan ini dihadiri juga oleh Direktur Teknologi Pupuk Indonesia, rombongan delegasi kementerian luar negeri Laos dan rombongan kementerian luar negeri Republik Indonesia.

“Saya meyakini, rencana kerjasama ini nantinya akan lebih menguatkan dan memajukan hubungan Laos dan Indonesia diberbagai bidang, khususnya dibidang ekonomi dan pertanian” tandas Anto begitu sapaan akrab dirut Pupuk Kujang.

Kunjungan ini merupakan tindak lanjut  dari peluang investasi penambangan Potassium Chloride (KCL) dinegara Laos oleh Tim Pupuk kujang beberapa bulan yang lalu. Pemerintah laos mendukung rencana investasi Indonesia di pertambangan dan industri pupuk.

Kondisinya saat ini laos belum memiliki perusahan pupuk, namun laos memiliki

tambang KCL yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pabrik pupuk, sehingga sinergi antara Indonesia dengan Laos dapat lebih efektif.
“Kami melihat peluang besar di negara Laos. saat ini Pupuk Kujang membutuhkan 70.000 ton potasium setiap tahunnya dan selama ini Indonesia mengimpor potasium dari Kanada dan Rusia, Sehingga sudah dipastikan biaya operasional cukup tinggi untuk produksinya.

Dengan adanya perusahaan KCL di Laos, sangat memungkingkan dapat menekan biaya lebih rendah karena lokasinya yang lebih dekat” Ujarnya Anto.

Kerjasama tersebut juga bisa diwujudkan dalam beberapa konsep , antara lain, Pupuk Indonesia (PI) Grup membeli saham perusahaan penghasil KCl di Laos, bisa juga dalam bentuk perijinan pertam bangan dimana tambang potassium dikelola oleh PT Antam dan kemudian diolah menjadi KCl oleh  PI Grup.

“Bisa juga dengan membangun pabrik NPK di Laos agar dekat dengan sumber bahan baku, kemudian urea dan fosfat kami datangkan dari pabrik kita di Indonesia dan kemudian hasil produksi NPK tersebut kemudian dijual di wilayah Laos dan sekitarnya”, Ucap Djohan Syafri selaku Direktur Tekhnologi Pupuk Indonesia.

Meskipun bahasan kerjasaman ini masih dalam tahap penjajakan, namun sudah mendapat dukungan dari Pemerintah Laos dalam meningkatkan hubungan bilateran Indonesia dan Laos.(jem)