IMG-20171028-WA0036

Golkar Mengkhianati Sistim Yang Dibuat Sendiri

BERITAPLATMERAH, PURWAKARTA,-Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Jakarta, Ujang Komarudin mengatakan bahwa DPP Partai Golkar sudah mengkhianati sistem pengkaderan yang tengah mereka bangun sendiri dengan tidak mengusung Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi pada pemilihan Gubernur Jawa Barat, Juni 2018 mendatang.

Menurut dia, telah terjadi pergeseran pengambilan keputusan di internal elit partai berlambang pohon beringin tersebut dari sistem perkaderan sebagai dasar kedalam gaya prag matis. “Ada perubahan pengambilan kebijakan politik. Dulu, Golkar selalu prioritaskan kader sendiri.

Salah satunya Yance,elektabili tasnya di Pilgub Jabar 2013 jauh dari menjanjikan. Karena elit Golkar dulu itu tidak tersandera kepentingan.
Maka Yance dicalonkan oleh Golkar, sekarang keadaannya berbeda,” jelas Direktur Indonesia Political Review tersebut saat dihubungi, Jum’at (27/10) melalui sambungan telepon.

Artinya, kata Ujang, kasus hukum yang tengah mendera Ketua Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto sedang dimanfaatkan oleh kekua tan eksternal untuk bermain dalam konstelasi Pilgub Jawa Barat 2018. Terdapat pihak-pihak diluar partai yang tidak menginginkan Dedi Mulyadi maju dalam kontestasi lima tahunan tersebut.

“Implikasinya adalah perubahan orientasi dari kader menjadi non kader karena tekanan itu,” katanya menam bahkan.

Ujang melanjutkan, posisi Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi adalah bukan hanya sebagai kader, melainkan kader yang mampu menye lamatkan posisi Partai Golkar di Jawa Barat dari serangan isu nasional.

Hasilnya, Partai Golkar di Jawa Barat mampu menjaga tren kenai kan elektabilitas, berbeda dengan didaerah lain.
“Dedi Mulyadi dibesarkan oleh Golkar dan menggunakan pengala manpolitik nya untuk membesarkan Golkar di Jawa Barat. Kita tahu sendiri elektabilitas partai ini terjaga di Jawa Barat,” tuturnya.

Namun, partai yang telah dibesarkannya itu kini malah berbalik menya kiti dirinya. Menurut Ujang, kondisi ini secara psikologis mem buat Dedi Mulyadi ‘tidak betah’ tinggal di rumahnya sendiri.

“Golkar ini sudah menjadi rumah bagi Dedi Mulyadi. Tetapi melihat perkembangan yang saat ini terjadi, rumah itu sudah tidak membuatnya betah. Dedi kini tersakiti.

Jangan lupa, dia punya kekuatan politik kader Golkar. Saya kira ini modal bagi Dedi untuk tetap maju, bisa dari PDIP atau Gerindra,” pungkasnya.(jem)