Girder Tol Krapyak Jatuh Saat Pengerjaan Tol Semarang-Batang

0
6

Girder di Tol Krapyak jatuh saat dilakukan pengerjaan tol Semarang-Batang. Pejabat Jasamarga membenarkan adanya girder jatuh saat pemasangan di KM 1+200. Girder tersebut jatuh tadi malam sekitar pukul 23.00.

“Kalau teknisnya bisa tanya JSB dan Waskita,” ujarnya dikutip Tribun Jateng, Selasa (15/5/2018).

 

Menurutnya, girder tersebut jatuh dilakukan pemasangan bentang 50. Diakui pemasangan girder memang diperlukan kehati-hatian.

“Tidak ada korban jiwa pada kejadian tersebut,” tuturnya.

Dikatakannya saat kejadian tidak ada kendaraan yang melintas di area pemasangan girder. Sementara arus lalu lintas dialihkan sejak pukul 22.00.

“Pemasangan girder bentang 50 sangat beresiko. Jadi sebelum pengangkatan girder, arus lalu lintas sudah steril,” terangnya.

Ia mengatakan kondisi girder yang jatuh tersebut tidak terlalu parah.

“Girdernya masih utuh. Namun sudah tidak bisa digunakan lagi,” terangnya.

Sekadar info, girder adalah sebuah balok di antara dua penyangga, dapat berupa pier ataupun abutment pada suatu jembatan atau fly over.

Sementara itu, Waskita Karya menyatakan pemasangan girder tol Semarang-Batang di bentang 50,8 terus dalam proses penyelesaian. Dari total 10 girder, telah terpasang enam girder.

Kepala Seksi Teknik PT Waskita Karya selaku pelaksana proyek Tol Batang-Semarang, Yanuar Niko mengatakan, pekerjaan erection girder memang beresiko tinggi yang membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian.

“Karena itu, area pekerjaan kami sterilkan. Termasuk juga ruas tol Manyaran ditutup mulai dari pintu masuk tol Krapyak,” kata Niko, Selasa siang.

Sebelum pemasangan girder, kata Niko, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan semua stakeholder terkait.

Di antaranya PJR Manyaran, Satlantas Polrestabes, Konsultan Pengawas, pemilik proyek, dan pihak terkait lainnya.

Sementara untuk kebutuhan sumber daya baik manusia maupun peralatan kerja yang digunakan, dipastikan layak dan mencukupi.

“Standar operasional (SOP) juga kita jalankan berdasarkan prinsip K3,” ucapnya.

Niko menjelaskan, saat melakukan simulasi dan trial pertama pada pemasangan girder, didapati pemasangan tidak aman karena tidak cukup waktu untuk pemasangan girder kedua dengan kondisi single girder terpasang.

“Waktunya tidak memungkinkan untuk pengangkatan girder kedua, maka kita turunkan lagi karena posisinya tidak aman. Pemasangan girder itu harus dua atau sepasang yang saling mengikat. Tidak bisa satu girder saja. Jadi bukan jatuh, tapi kita turunkan lagi,” jelasnya.

Setelah itu, lanjutnya, pihaknya menata ulang tempat pemasangan agar bisa naik dua balok girder. Walhasil, kedua girder berhasil terpasang dengan baik.

“Dalam satu malam itu memang targetnya naikin dua girder, jadi sepasang agar terikat. Tiap malam dua girder,” paparnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here