IMG-20170729-WA0023

Garam Langka, Pengusaha Ikan Asin di Tuban Rumahkan Sebagian Pekerjanya

BERITAPLATMERAH, TUBAN-Dampak kelangkaan dan mahalnya garam di Kabupaten Tuban juga banyak dirasakan oleh para pelaku usaha pengeringan ikan asin. Mereka harus memeras otak untuk mendapatkan garam yang notabene bahan baku memproduksi ikan asin.

“Ini kita terkendala garam langka, sulit kita mendapatkan garam. Terus harganya juga mahal,” kata Sujono (35), salah satu pengusaha ikan asin yang ada di Desa Glodok, Kecamatan Palang, Sabtu (29/7).

Salah satu upaya yang dilakukan oleh pelaku usaha pengeringan ikan asin adalah dengan mengurangi pemakaian garam hingga sampai 50 persen dari hari-hari biasanya. Pasalnya garam yang berhasil mereka dapatkan untuk pengeringan ikan tidak bisa mencukupi untuk kebutuhan normal.

“Biasa kita butuh empat kwintal garam per hari, tapi karena ini sangat mahal kita menyiasati hanya gunakan dua kuintal,” tambahnya.

Tak hanya itu, untuk mengurangi beban produksi akibat mahalnya harga garam yang mencapai Rp 5000 per kilogram, Sujono harus menghentikan sementara 4 orang pegawainya. Dengan begitu, saat ini hanya tinggal 4 pegawai yang bekerja di usaha miliknya itu.

“Kita juga melakukan pengurangan penggunaan garam, supaya menekan biaya produksi. Kalau harga ikannya yang kita naikkan, takut pelanggan tidak ada yang beli. Dampak lain, jumlah kartawan yang sebelumnya 8 orang, kini tinggal 4. Mereka kita berhentikan sementara,” ungkap Sujono.

Sementara itu, sejumlah penjual garam yang ada di Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban juga merasakan sulitnya mendapatkan komoditas tersebut. Untuk memenuhi permintaan para pengusaha ikan asin, para pedagang harus import garam dan juga mencari garam dari Madura.

“Kalau garam grasak (biasa) sebagian besar untuk pengasinan ikan dan yang paling dicari itu garam lokal. Kalau pakai garam import sebagian besar pengasinan ikan tidak mau, karena proses pengeringannya lama,” ujar Witono, salah satu pemilik gudang garam yang ada di Kecamatan Palang. (mut/tyo)