Gabungan Pelajar Sukasari Deklarasi Anti Hoax, Isu SARA dan Radikalisme

0
5

PURWAKARTA – Maraknya berita hoax yang tersebar di media sosial, menggugah gabungan pelajar se Kecamatan Sukasari Kabupaten Purwakarta untuk mendeklarasikan pernyataan sikap anti Hoax, Isu SARA dan Radikalisme.

Tak tanggung-tanggung, ada 350 massa yang melakukan deklarasi secara serempak di halaman SMAN 1 Sukasari.

Menariknya, deklarasi ini tak hanya diikuti oleh pelajar saja. Ratusan masyarakat yang tergabung dalam Komunitas Pencinta Alam Sukasari (Kompas) dan Guru-guru se Kecamatan Sukasari juga ikut menyatakan sikap anti berita hoax.

Pernyataan sikap juga disaksikan Kapolsek Sukasari, AKP Asep Sukarna serta tokoh masyarakat dan tokoh agama setempat.

Zaenal Arifin, salah satu massa yang ikut Deklarasi Anti Hoax, mengatakan, ada tiga butir pernyataan sikap yang dibacakan serempak. Yakni menolak berita dusta dan hoax yang dapat mengancam disintegrasi bangsa, menolak Isu SARA dan radikalisme serta mendukung keutuhan NKRI.

“Massa juga menyatakan mendukung upaya pihak kepolisian, yakni Polres Purwakarta untuk menangani dan memberantas penyebaran berita hoax,” paparnya, Kamis 22 Maret 2018.

Tambah pria yang akrab disapa Ipin, termasuk mengusut, menindak, memproses hukum pelaku pembuat dan penyebar berita hoax.

“Hoax bikin otak jadi Soak, Hoax sama dengan Sampah dan Hoax Musuh Bersama, jadi mari kita sama-sama tolak hoax,” tegasnya.

Kapolsek Sukasari, AKP Asep Sukarna mengapresiasi deklarasi pelajar, guru dan elemen masyarakat terkait menolak hoax.

“Deklarasi ini sebagai momentum melawan hoax yang dapat memecah belah masyarakat dan mengganggu kamtibmas, apalagi saat ini tahapan Pilkada Serentak 2018 sudah berjalan,” papar Asep, saat ditemui usai Deklarasi Anti Hoax se Kecamatan Sukasari.

Ditambahkannya, deklarasi anti-hoax tersebut merupakan bagian dari kampanye edukasi yang bertujuan mengajak masyarakat lebih selektif memilih, memilah dan menyebarkan informasi.

“Selain itu juga agar lebih bijak di dalam menyikapi dan mengunakan media sosial. Mengingat Indonesia saat ini sedang darurat informasi,” ujar Kapolsek Sukasari.

Menurut Asep, ada bahaya besar yang mengancam bila berita hoax dan juga fitnah dibiarkan terus berkembang. Yakni munculnya ujaran kebencian, ujaran kasar, fitnah, hingga upaya provokatif.

“Semua itu sangat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.Untuk itulah saya meminta masyarakat lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Termasuk tidak asal menshare berita,” tegas Asep.

Lanjut dia, informasi yang diterima terlebih dahulu, harus dipastikan kebenaran berita yang akan dibagikan, apakah fakta atau prasangka. Kemudian apakah berita itu bermanfaat kalau disebarkan, jangan sampai merugikan orang perseorangan maupun kelompok.

“Disinilah peran masyarakat diperlukan untuk memutus mata rantai berita hoax. Kalau memang tak benar, didelete aja gak usah disebarluaskan,” pungkasnya. (Gin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here