“DIPERTANYAKAN PERAN KEMENTAN DAN BULOG TERKAIT CARUT MARUT MASALAH PANGAN DAN MAHALNYA HARGA BERAS”

0
18

BERITAPLATMERAH.COM-JAKARTA,Pengamat ekonomi,DR Rahaman Sabon nama mengatan, Melonjaknya impor beras oleh pemerintah tahun 2015 sebesar 2,5 Juta ton,menandakan kurang keberpihakan kepada petani produsen,menurut  saya kebijakan pemerintah harusnya lebih memihak pada petani produsen  dalam negeri mengingat program Trisakti dan Nawacita Presiden Jokowi yang berbasis pedesaan.”Kata Rahman Sabon Nama kepada platmerah (Rabu 15/12/2015)

“Rahman Menambahkan,bahwa peran  Menteri Pertanian  dan Bulog sudah tidak jelas terkait  masalah pangan dan peningkatan produksi swasembada beras dan kebijakan Mentan terkait beras impor.
Konsumen rakyat Indonesia mengeluh  masih mahalnya harga  beras ,maka yang paling bertanggung jawab dan patut disalahkan adalah Kementrian Pertanian dan Bulog.

Seharusnya harga beras dalam negeri harus ditekan dengan  menambah suplay beras  melalui impor dan menjualnya  pada harga  yg terjangkau rakyat Beras yang di impor telah disubsidi pemerintah  dengan subsidi kurs Rp.10.000 per USD ,bandingkan dengan kurs yang terjadi di pasar mencapai Rp.13.735 per USD, subsidi selisih harga pasar dengan HPB  (Harga Pokok Bulog),sehingga seharusnya Bulog dapat menjual beras pada  harga  yg lebih rendah guna menekan laju kenaikan harga beras dipasar,namun harga beras impor OP Bulog mahal sehingga harga terus malaju  naik,sehingga patut dipertanyakan peran pemerintah Bulog dan Kementan yang  diberi tugas dengan anggaran yang besar  untuk  ini.

Asummsi harga beras impor asal Vietnam dan Thailand yang diimpor Bulog dengan harga CIF Indonesian port USD 400/MT maka seharusnya harga Operasi Pasar bisa lebih murah untuk menekan mahalnya harga beras di pasar karena berdasarkan hitungan Nominal Protection Rate yaitu selisih harga di PIC (Pasar Induk Cipinang)maka seharusnya  harga border ditingkat pedagang sudah termasuk biaya handling,transport dan marceting cost sudah bisa dengan harga  Rp.7500/Kg itupun  Bulog sudah untung besar. “Ungkapnya.

Rahman yang juga selaku Ketua Umum AP2TPHI mempertanyakan kenapa Pemerintah DKI harus mensubdi beras OP Bulog Rp.1500/Kg, karena harga beras impor itu tidak perlu di subsidi oleh Pemerintahan Ahok, oleh karena petani tidak dirugikan dan tidak berpengaruh dengan harga penjualan beras dari petani produsen dalam negeri  dan harga penjualan beras oleh pelaku usaha penggilingan padi.”tungkasnya.

EDITOR:AGUS NAINGGOLAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here