Diduga Salah Sasaran, Densus 88 Tembak dan Tangkap Tukang Becak di Tanjungbalai

0
7

Tanjungbalai – Masyarakat Tanjungbalai (Sumatera Utara) pada hari Jumat (18/5/2018) dihebohkan dengan kabar penembakan oleh Tim Densus 88 Anti Teror terhadap terduga teroris yang ternyata seorang warga yang berprofesi sebagai penarik becak. Dalam hal ini, tindakan aparat Densus 88 tersebut diduga kuat salah sasaran.

Beni (34), warga rusunawa Lingkungan 4, Kelurahan Seiraja, Kecamatan Seitualang Raso, Kota Tanjung Balai yang diduga menjadi korban salah sasaran aparat penegak hukum Tim Densus 88 Anti Teror Polri itu.

Perihal salah sasaran tersebut disampaikan oleh isteri dan keluarga Beni beserta orang-orang terdekat yang mengetahui secara persis keseharian pria penarik becak ini.

Dilansir Publika dari waspadamedan.com, Beni yang semula disebut-sebut sebagai terduga teroris, ternyata tidak pernah sepakat dengan pemikiran Bud Cs. Saat itu, Beni berada dirumah Bud (adik beni), untuk melihat kondisi ibunya, Nuraini (Sempat diamankan Densus lalu dilepaskan) yang sedang sakit.

Beberapa fakta diungkapkan oleh keluarga korban dugaan salah sasaran itu.

Dewi (25) yang merupakan adik korban yang menyaksikan langsung tragedi penembakan itu, menuturkan, saat kejadian Beni datang ke TKP di Jl. Kol. Yos Sudarso Lingk. 4 Kelurahan Betingkuala Kapias dengan menaiki becak miliknya. Beni datang bermaksud untuk menanyakan kondisi ibunya yang sedang sakit.

Namun saat itu beberapa anggota Densus 88 sudah berapad di depan rumah dan mencegat Beni. Anggota Densus 88 bertanya kepada Beni tentang hubungannya dengan Bud, lalu dijawab bahwa Bud adalah adiknya. Seketika anggota Densus itu langsung menembaki kaki dan paha Beni yang saat itu sempat berusaha berlari menjauh.

“Bang Beni tidak cocok dengan bang Bud, karena pemahaman mereka berbeda. Bang Beni enggak salah kok ditembak,” kata Dewi. Nuraini, ibunda korban juga membenarkan jika Beni tidak termasuk kelompok Bud. Sebab Beni dan Bud pemahamannya berbeda, sehingga ia yakin anak tertuanya itu tidak bersalah.

Beni dan keluarganya (Foto: Waspada)

Istri korban, Delima (33) mengungkapkan hal yang sama. Beni katanya tidak pernah ikut perkumpulan iparnya Bud itu. Beni kesehariannya berprofesi sebagai penarik becak dengan penampilan seperti masyarkat pada umumnya yakni bercelana pendek dan sholat juga masih bolong-bolong.

Delima mengaku saat ini dia tidak mengetahui dimana keberadaan suami tercintanya itu apakah masih hidup atau sudah meninggal. Namun, sejak penangkapan suaminya itu, dirinya selalu dilanda kesulitan, terutama soal ekonomi. Sebab sang suami merupakan tulang punggung keluarga.

“Suami saya menarik becak Pak, saya sendiri berjualan makanan dan minuman ringan di depan sekolah, saat ini saya pun tak kerja, entah dari mana lagi kami mencari makan Pak,” kata Delima dengan mata berkaca. Saat ini ungkap wanita itu, dirinya harus berjuang menafkahi dua putrinya yang masih kecil-kecil, apalagi katanya dirinya sedang berbadan dua.

Selain itu, tetangga korban di rusunawa Awal (43), Jai (48), dan Ijul (52) mengaku terkejut saat mendengar Beni ditembak karena terlibat teroris. Mereka tidak percaya, karena keseharian Beni tidak menunjukan gelagat jika dirinya terlibat jaringan teroris. Sebab Beni sangat bergaul dengan masyarakat sekitar.

Dari sisi berpakaian, saat menarik becak Beni sering memakai celana pendek, bila ada tetangga yang meninggal Beni juga sering ikut takziah.

“Masak Beni dibilang teroris, padahal kami sering main kartu sama, kerja membaguskan becak orang, nyari botot sama, tebodoh kami mendengar kabar itu,” ungkap Awal, Jai, dan Ijul seirama.

Sekjen Forum Umat Islam, Lutvi Ananda Hasibuan juga mengaku mengenal dekat pribadi Beni. Menurutnya, Beni ini pengetahuannya awam, jangankan ikut pengajian, shalatnya saja masih ‘bolong-bolong’.

“Saya pernah tinggal dengan bang Beni di Rusunawa, dia sempat bilang ke adiknya Bud agar jangan sering-sering berkumpul di rumah ibu mereka, karena kalau terjadi sesuatu, bukan hanya mereka yang kena, ibu dan adiknya mereka juga nanti terimbas, jadi saya yakin, Beni ini bukan teroris,” kata Luthvi.

Ketua FUI, Indra Syah, menyesalkan tindakan Densus 88 yang diduga tidak prosedural. Seharusnya ungkap Indra, petugas sudah memiliki data akurat siapa saja yang menjadi target. “Kita sangat menyesalkan penembakan ini, banyak masyarakat menjelaskan bahwa Beni bertolak belakang dengan adiknya Bud”.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here