Dedi Mulyadi: Kebohongan Ratna Sarumpaet Beda Jauh Dengan Janji Jokowi

0
2

Mantan bupati Purwakarta yang juga Ketua Tim Kampanye Jokowi-Ma’ruf Amin Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengatakan, saat ini sejumlah netizen kerap mengaitkan kebohongan publik Ratna Sarumpaet dengan janji kampanye Jokowi.

Menurut Dedi, keduanya jauh berbeda karena tidak tercapainya janji Jokowi bukanlah sebuah kebohongan dan tidak bisa disamakan dengan pengakuan Ratna Sarumpaet.

“Itu beda jauh. Ratna Sarumpaet itu jelas kategorinya adalah bohong. Tetapi, Pak Jokowi belum mencapai target apa yang dulu dikampanyekannya. Jangan disamakan,” kata Dedi, Sabtu (6/10/2018).

Meski demikian, kata Dedi, banyak capaian Jokowi yang sudah dilakukan. Misalnya, pembangunan infrastruktur yang manfaatnya akan terasa dalam jangka panjang. Lalu program pemerataan listrik, sertifikasi tanah dan lainnya. Termasuk juga pengendalian stabilitas harga.

Menurut Dedi, rupiah terhadap dollar AS melemah hingga Rp 15.000, namun harga-harga kebutuhan pokok tetap stabil. Tidak ada gejolak berarti di masyarakat. Daya beli masyarakat tetap bagus.

“Memang, target penurunan nilai dollar AS belum tercapai. Tetapi, faktornya bukan di Pak Jokowi. Itu karena masalah global. Itu tidak disebut bohong, hanya belum ada capaian,” ujar Ketua DPD Golkar Jawa Barat ini.

Dedi pun menyinggung soal kampanye dulu yang dilakukan mantan gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Menurutnya, dulu, di Jabar, Ahmad Heryawan dalam kampanyenya menjanjikan pendidikan gratis SMA, Citarum akan harum dan bersih, serta target 1 juta tenaga kerja.

“Pada akhir jabatan 10 tahun, itu tercapai atau tidak? Tidak kan. Apa Pak Aher itu berbohong? Tidak. Hanya Pak Aher tidak tercapai apa yang dijanjikan,” katanya.

Artinya, kata Dedi, bahwa kebohongan itu adalah nol besar. Sementara, target tak tercapai sebelumnya ada upaya, namun belum berhasil.

Misalnya, menekan angka pengangguran. Dari target 9 persen, baru tercapai 6 persen.

Menurut Dedi, kalau target tak tercapai disebut bohong, hampir semua pemimpin bisa disebut pembohong.

Termasuk juga anggota DPR, bupati, gubernur yang kerap menjanjikan sesuatu dalam kampanye, namun belum tercapai.

“Karena memang target tak tercapai itu bukanlah sebuah kebohongan. Jadi harus bisa dibedakan antara kebohongan dengan target tak tercapai,” ujar mantan Bupati Purwakarta dua periode ini.

Bahkan, kata Dedi, sekelas Soeharto yang sudah 32 memimpin juga menjanjikan ekonomi tinggal landas pada tahun 1998.

“Namun, ekonomi malah terpuruk. Dan ekonomi kita malah tinggal di landasan. Apakah Pak Harto disebut pembohong? Tidak. Itu karena targetnya belum tercapai,” ujar Dedi.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here