Buku Nonang-Nonang Ni Siboru Toba Diluncurkan Dalam 3 Bahasa

0
6

Beritaplatmerah | Jakarta – Peluncuran dan Bedah buku “Interlokusi Danau Toba Biru – NONANGNONANG NI SIBORU TOBA – The Blue Toba Interlocutions” dilaksanakan Rabu, 7 Februari 2018 di STT Jakarta.

Buku kumpulan puisi Mangasi Sihombing yang lahir di Lintongnihuta Humbahas dibuat dalam tiga bahasa, yaitu Batak Toba, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Dalam buku ini, Mangasi melakukan percakapan dengan Danau Toba. Puisi-puisi ini merupakan pengalaman, hasil imajinasi, dan pemikiran penulis sejak kecil sampai saat ini mengenai kehidupan, lingkungan, budaya, sejarah yang berkaitan dengan Danau Toba itu sendiri dan Sang Pencipta Tuhan semesta alam.

Sebagai pembahas, ada Prof. Jan S. Aritonang, Ph.D, Pdt. JAU Doloksaribu, M.Min, dan Cecep Syamsul Hari pendiri The Indonesia Literature Translation Foundation (ILTF) dengan moderator Pdt. Emeritus Dr. Lazarus Purwanto.

Acara peluncuran dibuka oleh Ian P. Siagian mewakili Menteri Hukum dan HAM RI Dr. Yasonna H. Laoly, M.Sc. Dalam sambutannya Laoly merangkumnya dalam pepatah tradisional Batak : Sirumpa do siraja ni ompuna, artinya kerjasama adalah kunci setiap keberhasilan.

Menurut Prof. Jan, menulis puisi tidak mudah, apalagi sampai puluhan dan dalam tiga bahasa. Dibutuhkan kemampuan menguasai bahasa yang digunakan dan kemampuan berimajinasi serta berkreasi. Senada dengan Cecep, jarang sekali puisi yang dibuat dalam tiga bahasa.

Cecep mengenal penulis, ketika dia meneliti puisi di Hungaria dimana waktu itu Mangasi Sihombing menjabat Duta Besar di Hungaria merangkap Kroasia, Bosnia, Herzegovina, dan Makedonia.

Pdt. JAU mengatakan dengan mengutif Plato, bahwa seni sastra, syair dan seni musik sangat penting dalam dunia pendidikan. Syair dan musik memiliki pengaruh dan akses yang luas untuk memengaruhi kehidupan seluruh generasi, karena itu jangan diabaikan.

Di akhir bukunya, penulis menyebut Lagu O Tano Batak digubah oleh Suster Elfriede Harder. Pada waktu jubileum 10O tahun HKBP pada tahun 1961, lagu O Tano Batak dinyanyikan suster Elfriede bersama suster lainnya. Dan ini masih perdebatan dalam bedah buku tersebut.

Demikian juga lagu Sinsin si batu manikam, sampai saat ini pengarangnya belum diketahui. Lagu ini pernah dipentaskan choir group Filipina di Budapest.

Pada acara bedah buku ini, turut hadir Prof. Dr. Bungaran Saragih dan St. Prof. PTD. Sihombing.(red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here