“Bukit Asam Enim Culture Festival” Dibuka Hari Ini

0
9

TANJUNG ENIM (Sumsel) | Beritaplatmerah – Pemecahan Museum Rekor Indonesia atau yang sekarang dikenal Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), sebanyak 13.000 ribu bungkus Pepes Ikan Tempoyak akan tersaji di event spetakuler “Bukit Asam Enim Culture Festival 2018”, yang akan dibuka hari ini,  Sabtu, (7/4/2018), di Fasilitas Sosial (Fasos) Lapangan Ex Sentral Lama PTBA Tanjung Enim, kabupaten Muara Enim.

Kegiatan yang akan berlangsung selama dua hari (7-8 April 2018) ini, juga akan menampilkan berbagai pertunjukan kesenian dan perlombaan diantaranya, diawali pertunjukan Persatuan Marching Band Bukit Asam, pertunjukan Pencak Silat Muara Enim, pertunjukan Fashion Show Pakaian Adat Nusantara, pemukulan lesung kopi di panggung sebagai tanda dimulainya rangkaian Festival, dilanjut penampilan Mini Theater Enim Traditional Games, lomba lagu daerah dan penampilan seluruh sanggar Tari di Muara Enim. Kemudian untuk dihari kedua, Minggu (8/4/2018), yakni pembuatan dan sajian Pais Tempoyak Ikan Patin rekor (MURI), sebanyak 13.000 ribu bungkus dengan menggunakan 1,3 ton ikan patin, lomba Stand Up Comendy, lomba Senam Enim, lomba Tari Kreasi Tradisional, dan Malam puncak Bukit Asam Enim Culture 2018, dengan suguhan pertunjukan Orkestra Sriwijaya, penganugerahan Rekor MURI, penampilan bintang tamu, Medley Tatian Nusantara (Srijayanasa Dance School), penampilan Lagu Daerah dan Nusantara, doorprize, dan penutupan oleh Dewan Direksi serta di tutup Dance Together (all team).

Ketua panitia Surtia Ningsih kepada media ini mengatakan, untuk persiapan  pelaksanaan sudah 90 persen. “Alhamdulillah persiapan sudah optimal,hari ini kita lakukan simulasi terkait tehnis pelaksanaan nya agar plot-plotnya bisa terarah, baik untuk pengisi acara, peserta lomba, kemudian ibu-ibu yang ikut dalam pemecahan rekor MURI.

Ketua Panitia Surtia Ningsih (jilbab biru, red) didampingi Rima Abie saat di wawancarai seputar persiapan, Jumat (6/4/2018) malam

“Kemudian kita banyak mengundang dari Provinsi, komunitas-komunitas pemuda di kabupaten lainnya gitu. Kita sudah menyiapkan stage atau panggung utama, tenda, karpet, kemudian persiapan untuk fasilitas untuk ibu-ibu memasak seperti kompor gas, dan lain sebagainya yang sifatnya tehnis,”ujar wanita yang akraf disapa Tia ini, yang juga didampingi panitia pelaksana Rima Abie, Jumat (6/4/2018) malam.

Menurut Tia, materi acara yang disuguhkan pada rangkaian “Bukit Asam Enim Culture Festival 2018” ini sangat spesial, kalau untuk rekor MURI sendiri, kata Tia, ide ini dalam rangka untuk memperingati puncak hari Wanita Internasional, dan pada peringatan ini akan diadakan perhelatan budaya yang akan menyajikan aktivitas budaya Tanjung Enim pada khususnya dan Muara Enim pada umumnya.

Adapun maksud digelarnya kegiatan ini jelas Tia, yang pertama bagaimana wanita itu punya porsi sendiri didalam kehidupannya. Kemudian yang kedua untuk mengkampanyekan gerakan makan ikan, yang memang disosialisasikan oleh Menteri Kelautan Republik Indonesia, ibu Susi Puji Astuti, dan ketiga, menggali lagi nilai-nilai kegotong royongan yang hampir punah, serta ke empat dalam rangka menuju Tanjung Enim sebagai Kota Wisata, seperti yang sudah di gadang-gadangkan sejak sebelumnya.

“Jadi kita juga mengundang dinas Perikanan yang juga mensuport acara ini dan ikut mensukseskan program pemerintah untuk makan ikan.

Disinikan terlihat aktivitas-aktivitas masyarakat Tanjung Enim sendiri untuk bergotong royong, nah kebiasaan itu kan sudah mulai pudar sekarang di tengah masyarakat kita, jadi kita kembali ingin mereaktulisasikannya lagi,”kata wanita Alumnus Mahasiswa Seni Pascasarjana UNS ini.

Dikatakannya, sebagai pemuda/i sudah sewajarnya ikut mensukseskan program-program pemerintah, dan juga program PT Bukit Asam sendiri, untuk mensuport mereka dalam mewujudkan visi misi harapan mereka dan harapan kita bersama, terkait program Tanjung Enim Kota Wisata.

“InsaAllah, acara akan dibuka Direksi dan Bupati Muara Enim. Kita sudah mengundang komunitas Pesona-pesona, seperti Pesona Lahat,  Genpi Sumsel, Pesona Sriwijaya, Pesona Pagar Alam, sekabupaten/kota di Sumatera Selatan, juga Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel, dan juga di tembuskan ke Gubernur Sumsel, dan kita saat ini masih menunggu konfirmasi kehadiran dari beliau,”terangnya.

Tia berharap dengan adanya kegiatan ini bisa menjadi wadah dalam mereaktualisasi nilai-nilai luhur kegotong royongan yang sudah mulai pudar dimasyarakat, mengingat saat On  masyarakat sudah banyak mengenal teknologi kekinian seperti gadget, sehingga menjadikan orang bersikap apatis, dari individu ke individu yang lain.

“Mari kita sama-sama menjadi masyarakat yang sadar wisata. Mari kita buat sesuatu yang bisa menunjang Tanjung Enim sebagai kota Wisata. Karena begini, kalau kita hanya terpaku dalam dunia tambang itu lama kelamaan akan habis, tetapi ketika pemuda pemudi disini bisa kreatif, itu tidak akan habis dan justru kita bisa menghidupi diri sendiri dan menghidupi orang lain.

Tanjung Enim sendiri itu bisa menjadi promotor dan menjadi contoh untuk daerah-daerah lain, orang lain akan bertanya-tanya, kok bisa ya? Tanjung Enim kota kecil, tapi bisa membuat acara yang semegah ini,  jadi kita bisa menjadi tauladan bagi daerah-daerah lainnya,”tutup Tia. (Aldo Dj) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here