BEREDAR ISU, “GELORA BUNG KARNO MENJADIP SAKSI SEJARAH PRESIDEN JOKOWI BERSILATURAHMI DENGAN ANAK EKS KI DAN ANTEKNYA”

0
12

Beritaplatmerah.com-Jakarta,Pengamat Politik dan Ekonomi Rahman  Sabon Nama,tadi malam dalam pernyataan redaksi Plat Merah terkait  isu  Polhukam yang beredar tadi malam (29/9-2015) bahwa hari ini (30/9-2015)Presiden Joko Widodo akan bersilaturahmi dengan anak turunan organisasi terlarang ex PKI di Gelora Bungkarno Jakarta.Suatu pertanyaan bahwa isu ini semakin berkembang luas dimasyarakat,ditengah melemahnya ekonomi dan semakin tertekannya nilai rupiah terhadap Valas.

Terkait dengan isue ini ,Rahman Sabon Nama menyatakan kepada Pers bahwa  bulan May dan 16 Juni 2015 yang lalu  telah memberikan laporan kepada Presiden Jokowi Widodo terkait dengan PKI dan danpaknya,ketika berkembang isu rencana Pidato Presiden RI  tgl.15 Agustus 2015 yg disampaikan oleh
Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen SIP MSi,anak buah Mantan Panglima Kostrad Prabowo Subianto, bahwa dirinya telah mendengar rencana pemerintahan Joko Widodo , akan meminta maaf kepada eks PKI melalui pidato Presiden tanggal 15 Agustus 2015 yang lalu,dan tidak terbukti.

Pernyataan Kiflan bahwa pemerintah akan membentuk :
1).Dewan rekonsiliasi jilid 2, yang unsurnya dari Jaksa Agung, TNI, Kepolisian, Menkopolhukam dan Menkumham dalam rangka menyelesaikan masalah HAM berat di masa lalu, yang focusnya kasus Tri Sakti, Semanggi 1 dan 2, Petrus, Wasiong, dll yang akan diselesaikan supaya tidak menjadi beban Negara.

2).Agar RUU ini bisa berjalan, maka dicarikan solusi yang salah satunya pembentukan Komisi melalui Perpres untuk organisasinya dan Keppres untuk personilnya, supaya tidak bisa dibatalkan oleh MK, dan sesuai aturan, Presiden memang bisa membentuk itu,” kata Kivlan saat berada di Hotel Elmi Surabaya pada Sabtu (4/7/2015).

3).Bahwa rancangannya juga sudah disebutkan, yang salah satu isinya adalah permintaan maaf dari Pemerintah Indonesia kepada para korban 6 peristiwa, termasuk kejadian PKI tahun 1965.
4).Tetapi didalamnya tanpa menyebutkan bagaimana dengan kejadian Tanjung Priuk, PRRI Permesta, RMS, DI-TII, yang disana banyak mengorbankan jiwa putra-putra bangsa, akibat pemberontakan itu, kenapa tidak masuk yang dipersoalkan,” protesnya.

5).Bahwa akibat pemberontakan PKI, karena banyak hak-hak yang dilanggar. Untuk itu Negara harus waspada, karena jika Negara meminta maaf kepada eks PKI dan keturunannya, lantas bagaimana korban-korban pembantaian yang dilakukan oleh PKI pada tahun 60an seperti di Kediri, Blitar ,Jember.dan Flores NTT,dll.artinya sama dg.mengakui legalitas keberadaan PKI Padahal saat itu telah terjadi pembunuhan para ulama yang oleh PKI diberbagai daerah Indonesia, juga di Banyuwangi tgl 1 Oktober 60 pemuda Anshor terbunuh, juga terjadi di Adonara, NTT banyak  tokoh Muslim yg dibunuh dituduh PKI ini tidak disebut mendapatkan kompensasi dan rehabilitasi kepada mereka.

6).Jadi ketika Negara merasa bersalah dan meminta maaf kepada orang-orang PKI, maka pemerintah secara tidak langsung membenarkan gerakan  G 30 S PKI yang mengakibatkan terbunuhnya para jenderal itu,tidak bersalah. Padahal gerakan PKI bisa dibuktikan keterlibatannya,saat itu sempat terbentuk Dewan Revolusi pimpinan Untung.

7).Bahwa itu semua orang-orang PKI, meskipun mereka tidak mengaku terlibat dan merancang, karena dianggapnya urusan internal TNI AD,” tandas Kiflan Alumni Akmil 1971 ini.  Dekrit Untung menyebutkan bahwa gerakan ini adalah gerakan TNI AD yang dibantu oleh angkatan lain, ini kan janggal, disamping itu Untung bukan murni dari satuan AD, karena dia dari satuan Pengawal Presiden  Cakra Bhirawa, dengan demikan bukan persoalan Angkatan Darat ujar Kiflan.

8).Anggota Dewan Revolusi bentukan Untung terdiri dari empat angkatan ditambah orang-orang sipil, yakni orang-orang PKI dan yang pro PKI, sudah terbentuk dari pusat hingga ke daerah dan desa.Euforia saat itu,  akibat pembunuhan 60 pemuda   Anshor disana juga marah, sehingga mereka menyerang seluruh kantor-kantor PKI, dan simpatisannya, karena sudah membuat propaganda  menyerang dan menjelek-jelekkan ulama, dan bisa dibuktikan keterlibatan mereka. 9).Seandainya itu benar, bahwa pemerintah akan meminta maaf,  menurut Kivlan dia  juga mendengar informasi dari Prof Dr Jimly Asshiddiqie SH,  ketika bertemu beberapa waktu yang lalu, bahwa  Presiden atas nama Negara akan meminta maaf kepada seluruh korban PKI. Ketiks itu Kiflan menjawab , kalau pemerintah meminta maaf, maka merekalah yang benar, [GA/SPNews]

Terkait isu sensitif tersebut,Rahman Sabon Nama ketika itu (10/6-2015) memberikan lima point masukan/rekomendasi pada Presiden Joko Widodo   adalah:

1). Presiden dan Negara harus waspada Gerakan G 30 S PKI adalah gerakan penghianatan kepada bangsa dan negara berakibat  banyak korban yg tidak berdosa terbunuh terutama Ulama dan umat Islam.

2).Pemerintah/Presiden  agar tidak terjebak dengan isue ini dan tidak perlu pemerintah meminta maaf atas eks PKI dan turunannya ,apabila permintaan maaf dilakukan maka dikwatirkan rakyat akan marah &menilai bahwa kemesraan hub.kerjasama dengan pemerintah China saat ini dalam rangka menghidupkan kembali PKI

3).Apabila isue ini benar,maka menurut pendapatnya Presiden hendak dijerumuskan  berhadapan dengan rakyat dan TNI, rakyat akan beranggapan bahwa pemerintah mengalihkan masalah krisis ekonomi ke isue PKI,seharusnya isu ini dijadikan peringatan agar rakyat  waspada akan bahaya laten komunis jangan terulang kembali.

4).Pemerintah agar fokus segera mengatasi krisis moneter dan Pangan u saat ini yang sudah menyulitkan perekonomian nasional dan beban hidup rakyat semakin berat  saat ini.

5).Bulan May 2015 yang lalu telah saya laporkan kepada Presiden Jokowi bahwa isue anak turunan eks PKI telah mendirikan organisasi berfaham komunis dengan aktivitas di daerah Manggarai Jaksel menunggu waktu yang  tepat utk mendeklarasikannya jadi suatu pertanyaan  terkait dengan isue pidato presiden  tgl.15 Agustus waktu itu,sehingga Rahman Sabon Nama menduga ada  orang dalam lingkungan Istana coba ikut bermain  dengan menggunakan tangan Presiden atas isue  ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here