img-20161031-wa0003

Benteng Lodenok Pacitan,Situs Peninggalan Perang Dunia ke 2,Tidak Terawat

BERITAPLATMERAH,PACITAN-Obyek wisata sejarah di Pacitan sebenarnya cukup banyak. Selain Monumen Jenderal Sudirman di Desa Pakis Baru Kecamatan Nawangan,ada juga Benteng Lodenok di Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku.

Walaupun tercatat sebagai situs sejarah, benteng peninggalan tentara Belanda itu terkesan tidak terawat. Benteng setinggi empat meter itu dipenuhi lumut dan tumbuhan rambat lain.

Benteng yang dijadikan sebagai tempat pemantauan perairan Pacitan tersebut dibangun oleh tentara Belanda sekitar 1942. Luas area pekarangan di sekitarnya mencapai sekitar 500 meter persegi. Karena minimnya nilai histroris yang dicatat dari benteng tersebut membuat upaya pelestariannya tak maksimal.

Buktinya, sampai saat ini benteng yang berada di dekat Jalan Raya Pacitan-Solo via Dadapan, Pringkuku itu tidak terawat. ‘’Padahal, apabila dirawat dengan baik benteng ini bisa menjadi lokasi melihat panorama alam Pacitan dari puncak bukit,’’ ujar Ipung Suntoro salah seorang warga, baru-baru ini.

Tak terawatnya benteng Lodenok juga diakui Tamami kabid kebudayaan Disbudparpora Pacitan. Menurut dia, terbatasnya anggaran menjadi kendala utama pemeliharaan beberapa situs bersejarah di Pacitan. Sehingga banyak yang kondisinya kurang terawat. ‘’Kalau pun ada, beberapa di antaranya ditangani Balai Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto,’’ terangnya.

Hal senada juga diungkapkan Katno kasi kesenian, sejarah, dan nilai tradisi disbudparpora beberapa waktu lalu. Menurut dia, dari sekitar 276 situs yang telah didata, beberapa di antaranya masih belum mendapatkan perhatian lebih. Hanya situs seperti Song Terus, Song Keplek, Song Gupuh, Ngrijangan, dan Watukuro yang masih dilestarikan keberadaannya. ‘’Bahkan, rencananya tahun ini di Situs Song Terus bakal dibangun sebuah museum,’’ katanya.

Dia menambahkan, pembangunan museum memasuki tahapan penyediaan lahan seluas satu hektare. Situs Song Terus di Desa Wareng, Kecamatan Punung itu nantinya akan dijadikan tempat jujukan bagi para peneliti dari penjuru Indonesia maupun dunia untuk meneliti tentang keberadaan manusia purba. ‘’Pembangunannya akan ditanggung oleh Kemendikbud. Sedangkan, lahannya pemkab yang mengurus,’’ terang Katno.(tyo)