Bayar Utang Beli Axis, XL Jual Menara dan Saham

0
13

Jakarta – XL Axiata memastikan akan menerbitkan 265 juta lembar saham baru (rights issue) dan melepas 2.500 menaranya demi mencari dana untuk membayar kembali pinjaman sebesar USD 500 juta dari Axiata Group saat membeli Axis Telekomunikasi Indonesia pada 2014 lalu.

Rencana yang sempat diungkapkan awal Februari lalu akhirnya disetujui oleh lebih dari 99% pemegang saham yang hadir (84,1%) dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan dan Luar Biasa XL Axiata di Hotel Raffles, Jakarta, Rabu (10/3/2016).

Mohamed Adlan bin Ahmad Tajudin, Direktur and Chief Financial Officer XL menyatakan dana yang dihasilkan penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) seluruhnya bakalan digunakan membayar utang kepada Axiata sebagai induk usahanya yang menguasai 66,4% saham XL.

“Harga untuk right issue pastinya akan diumumkan akhir April atau selambat-lambatnya awal Mei setelah menunggu persetujuan OJK dulu karena ada aturan baru lagi,” katanya dalam paparan publik usai RUPS.

Proses ini diharapkan selesai pada semester pertama 2016. Harga saham akan ditentukan dan ditetapkan secara bersama oleh XL Axiata dan para pembeli siaga. Diskon harga saham diperkirakan tidak lebih dari 20% TERP pada tanggal penetapan harga.

Sementara untuk rencana melepas 2.500 menara, Adlan mengatakan sudah ada beberapa perusahaan yang mengambil dokumen tender. Namun ia masih menolak untuk membeberkan detailnya.

“Yang dilepas hanya 2.500 menara saja, dan ini yang terakhir. Kami tidak akan menjual lagi 4.000 menara kami yang tersisa karena sangat krusial bagi core jaringan kami,” jelas Adlan.

XL sebelumnya pada akhir 2014 lalu juga telah menjual 3.500 menaranya kepada Solusi Tunas Persada dengan angka Rp 5,6 triliun. Duit yang dihasilkan dari penjualan itu juga digunakan untuk membiayai akuisisi Axis.

Sementara dalam RUPS ini, XL juga merilis laporan tahunan direksi perseroan. Di rapat besar tahunan perusahaan ini disetujui tidak menyisihkan dana cadangan di tahun buku yang berakhir 31 Desember 2015.

Tak hanya itu, operator telekomunikasi berbasis GSM ini juga menyetujui normalized net profit untuk dijadikan laba ditahan karena nilainya tidak signifikan dijadikan dividen per lembar saham. Kebijakan ini mengacu pada rugi laba dan Pasal 70 UU No.40 tahun 2007

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here