Barang Asal China Membludak, Hambat Industri Nasional

0
7

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menyoroti terjadinya lonjakan impor barang konsumsi.

Fenomena ini, kata Bambang, harus segera disudahi. Karena berdampak buruk bagi industri di dalam negeri.

“Bicara soal trade balance, data Januari menunjukkan ada peningkatan impor. Menurut sebagian ekonom itu, bagus. Kita lihat impor barang modal penolong tumbuh di atas 20 persen. Tapi setelah saya lihat-lihat lagi, ada satu yang agak mengganggu, yaitu impor barang konsumsi,” ujar Bambang saat serah terima jabatan Pelaksana Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP ISEI) di Kantor Bappenas, Jakarta, Kamis (8/3/2018).

Bambang menuturkan, pada 2016, pertumbuhan impor barang konsumsi tercatat minus 15%. Setahun berikutnya, impor barang konsumsi melompak dari minus 15% menjadi kisaran 15%-16%. Padahal, pertumbuhan konsumsi domestik masih melambat.

“Secara year on year, dari Januari 2017 ke Januari 2018, impor barang konsumsi naiknya bahkan 30 persen. Jadi ke mana nih barang-barang yang dikonsumsi tadi,” kata Bambang.

Menurut Bambang, apabila dikaitkan dengan ekonomi digital, kenaikan impor barang konsumsi karena meningkatnya belanja online oleh masyarakat Indonesia.

Ada lonjakan barang impor untuk barang yang diperdagangkan secara online terutama yang berasal dari Tiongkok.

“Kalau impor barang konsumsi merajalela bukan untuk barang yang unik, itu akan berpengaruh terhadap industri dalam negeri,” kata Bambang.

Apabila industri dalam negeri terpengaruh, terutama industri manufaktur, lanjut Bambang, tentunya akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi domestik itu sendiri.

“Apalagi karena ini tidak terekam, makanya ini luput dari pengamatan dari sisi konsumsi,” ujar Bambang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor barang konsumsi pada 2017 meningkat 14,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara, pertumbuhan konsumsi sepanjang 2017 hanya 4,95%, atau turun dibandingkan 2016 yang tumbuh di atas 5%.

Fenomena ini menggambarkan bahwa produk-produk impor membanjiri pasar di Indonesia. Khususnya dicermati dari transkasi perdagangan elektronik (e-commerce) yang dibelanjakan masyarakat, memang cukup tinggi.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here