Bank Dunia: Pulihkan 2 Juta Ha Gambut Butuh Rp27 Triliun

0
38

Bandung – Bank Dunia menilai rencana pemerintah untuk memulihkan dua juta hektar lahan gambut yang telah mengalami kerusakan akibat pembakaran hutan bakal memakan biaya hingga Rp27 triliun.

Seperti diketahui, pada Januari 2016 Presiden Joko Widodo mendirikan Badan Restorasi Gambut (BRG) untuk mengawasi upaya tersebut. BRG akan memfokuskan pada pemulihan di pulau Sumatra, Kalmantan dan Papua, yang memiliki luas lahan gambut terbesar.

Lead Environmental Specialist Bank Dunia Ann Jeanette Glauber mengatakan, agar efektif, upaya pemulihan tersebut harus direncanakan dengan baik dan menyertakan rencana pengelolaan jangka panjang.

Menurutnya, jika dilaksanakan dengan buruk, maka pemulihan bisa mengakibatkan dampak dan biaya yang tidak diinginkan. Hal itu terutama di daerah dimana penduduk setempat bergantung pada lahan tersebut untuk mata pencaharian.

“Suatu perkiraan awal biaya pemulihan awal guna pemblokiran kanal dasar untuk dua juta hektar adalah Rp27 triliun. Angka itu belum termasuk biaya berulang untuk pengelolaan jangka panjang,” jelasnya di Jakarta, Kamis (25/2).

Angka itu, lanjutnya, juga belum memperkirakan biaya bagi bisnis yang harus beradaptasi dengan praktik-praktik usaha dengan drainase yang rendah atau transisi ke kegiatan yang sesuai dengan lahan gambut basah.

Ia menambahkan, pemulihan lahan yang efektif akan memprioritaskan daerah-daerah di mana investasi menawarkan keuntungan terbesar, seperti di daerah-daerah di mana hanya sebagian kecil dari total lahan gambut yang terkena dampak.

“Pengalaman internasional menunjukkan bahwa konservasi habitat lahan basah yang masih utuh lebih murah biayanya dibandingkan dengan pemulihan,” katanya.

Sebelumnya, Bank Dunia memperkirakan bahwa kebakaran hutan di Indonesia pada 2015 memberikan kerugian hingga Rp221 triliun atau setara dengan 1,9 persen Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2015.

Adapun sektor pertanian dan kehutanan dinilai telah menderita kerugian dan kerusakan mencapai Rp120 triliun pada tahun 2015. Kerusakan sektor tersebut, termasuk kerusakan infrastruktur dan peralatan. Sementara kerugiannya mencakup biaya rehabilitasi lahan yang terbakar untuk penanaman dan hilangnya pendapatan produksi selama periode rehabilitasi.

(CNN indonesia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here