AS Bombardir Kamp ISIS di Libya, 43 Orang Tewas

0
36

Tripoli, – Pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap sebuah lokasi yang diduga sebagai kamp pelatihan militan ISIS di Libya. Lebih dari 40 orang tewas dalam serangan tersebut.

Ini merupakan serangan udara AS kedua kalinya yang dilancarkan terhadap ISIS di Libya dalam tiga bulan terakhir. Dalam statemennya seperti dilansir kantor berita Reuters, Sabtu (20/2/2016), Pentagon menyatakan serangan udara tersebut menargetkan sebuah kamp pelatihan ISIS.

Kamp yang berada di kota Sabratha tersebut terkait dengan Noureddine Chouchane, warga Tunisia yang dituduh otoritas Tunisia terlibat dalam serangan-serangan di museum dan resor pantai Sousse di Tunisia. Puluhan turis tewas tewas dalam serangan-serangan pada tahun 2015 tersebut.

Chouchane diyakini termasuk di antara mereka yang tewas dalam serangan udara AS di kamp Libya pada Jumat, 19 Februari waktu setempat tersebut.

“Penghancuran kamp dan tewasnya Chouchane akan menyingkirkan seorang fasilitator berpengalaman dan diharapkan akan berdampak segera pada kemampuan ISIS untuk memfasilitasi aktivitasnya di Libya, termasuk merekrut para anggota baru ISIS, mendirikan basis-basis di Libya, dan potensi merencanakan serangan-serangan eksternal terhadap kepentingan AS di wilayah tersebut,” demikian statemen Pentagon.

Mengenai tewasnya Chouchane dalam serangan udara AS tersebut, juru bicara Gedung Putih Josh Earnest mengatakan, dirinya belum bisa mengkonfirmasi hasil serangan udara tersebut. Namun sejumlah pejabat AS lainnya meyakini tewasnya Chouchane.

Dikatakan Earnest, serangan udara ini menunjukkan kesediaan AS memerangi ISIS. “Ini indikasi bahwa presiden tak akan ragu untuk mengambil tindakan keras, tegas seperti ini,” tandas Earnest.

Menurut Wali Kota Sabratha, Hussein al-Thwadi, pesawat-pesawat perang AS membombardir sebuah bangunan di distrik Qasr Talil, di kota Sabratha, yang banyak dihuni warga asing. Pejabat-pejabat lokal mengatakan, sebanyak 43 orang tewas dalam serangan udara AS itu.

Disebutkan pejabat-pejabat setempat, bangunan tersebut disewakan kepada para warga asing termasuk warga-warga Tunisia yang diduga anggota ISIS. Senjata-senjata api berkaliber menengah, termasuk senapan mesin dan granat berpeluncur roket telah ditemukan di antara reruntuhan bangunan tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here