6 Kemundurun DKI Ditangan Anies-Sandi

0
30

BERITAPLATMERAH, JAKARTA-Banyaknya kebijakan-kebijakan baru yang dibuat gubernur dan waklil Gubernur DKI Anies -Sendi yang merupakan antitesis dari kebijakan gubernur sebelumnya membuat banyak pihak meragukan akan adanya perbaikan di DKI dan bahkan bisa mengalami kemunduran kedepan.

Salah satu Pengamat tata kota,Nirwono Joga menyoroti sejumlah kemunduran pengembanganJakarta pada era kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno.

Berikut ini beberapa fakta yang menggambarkan langkuh mundur dari kebijakan-kebijakan Anies-sandi selama memimpin dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan yang diambil dari berbagai sumber :

1. Kawasan Tanah Abang semerawut lagi

Kawasan Tanahabang kembali semerawut. PKL tumpah ke trotoar dan pejalan kalo tersingkir ke bahu jalan.

Nirwono Joga mengatakan, hal itu buah dari ketidaktegasan AniesSandi melibatkan preman dalam penataan Tanahabang.

2. Pemimpin Tidak Kompak

Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahadiansyah menyebut Anies Baswedan dan Sandiaga Uno memimpin Jakarta dengan tidak kompak.

Sandi cenderung lebih dominan, menguasai aspek-aspek strategis seperti dirinya seorang gubernur. Sedangkan Anies hanya diberi ruang mengurusi hal-hal non strategis.

Ini buah perpecahan. Mungkin karena Sandi lebih banyak keluar dana saat kampanye. Ini tinggal tunggu ributnya saja AniesSandi itu,” kata Trubus.

3. Akses Informasi di Balai Kota Dipersempit

publik dengan membatasi gerak media di Balaikota DKI Jakarta.

Salah satu caranya dengan menghilangkan satu ruangan untuk wartawan di dekat ruang wakil gubernur.

Tadinya dari ruangan itu wartawan bisa memantau semua rapat maupun tamu-tamu wakil gubernur atau orang-orang yang rapat dengan gubernur.

Tapi Sandi memilih menutup ruangan itu dan menjadikan tempat timnya bekerja.

 4. Keterbukaan Lewat Youtube Dihilangkan

Ini kebijakan paling baru AniesSandi yang ditertawakan warga Jakarta dan dikritik pengamat sebagai langkah mundur yang paling jauh.

Di era sebelumnya, Ahok mengunggah video rapat pimpinan merupakan bentuk keterbukaan agar masyarakat tahu apa yang sedang direncanakan dan akan dikerjakan Pemprov DKI.

Tapi rupanya Sandi gerah dengan bullying di medsos akibat unggahan video Rapim dan tak membolehkan lagi.

Sandi tak mau masyarakat memberi serangan lewat ‘meme’ di Medsos.

5. Tunduk pada Tekanan Preman

Ini adalah kesalahan terbesar Anies-Sandi dan paling memalukan.

Keduanya dinilai tunduk pada tekanan dan mengikuti kemauan preman seperti pada kasus kesemerawutan Tanah Abang.

Bahkan kebijakan mereka seperti mengamodasi para penguasa di kawasan ekonomi paling strategis di Jakarta ini.

6. Mengeksklusifkan Diri

Trubus Rahadiansyah menyebut Anies-Sandi cenderung lebih eksklusif dan memilih memindahkan pengaduan warga ke kecamatan.

“Mereka (Anies-Sandi) lebih eksklusif sifatnya. Balaikota saja dibuat eksklusif lagi dengan cara memindahkan pengaduan warga ke kecamatan,” kata Trubus, beberapa waktu lalu.

Hal itu membuat Anies-Sandi jauh dari keluhan warga dan mudah dikelabui bawahannya. Keduanya tak bisa langsung mendengar dari keluhan warga yang datang ke Balai Kota DKI. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here