53 Orang Tertipu oleh Penjualan Rumah Murah di Bandung

0
12

Bandung – Sebanyak 53 orang di Bandung, Jawa Barat, diduga menjadi korban kasus penipuan yang dilakukan pengembang perumahan (developer) PT Bandung International Property, kelompok usaha Syna Group.

Modus yang dilakukan, pengembang menawarkan rumah dengan harga di bawah pasaran. Kemudian, calon konsumen membeli lewat skema cicil langsung kepada pengembang.

Namun, rumah yang dijanjikan terbangun pada Februari 2018 ini tak kunjung terealisasi. Alih-alih terealisasi, rumah yang menurut rencana dibangun di Desa Sindanglaya, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, masih berupa sebidang tanah.

KE, perwakilan konsumen Bandung International Property mengaku, saat ini, ia dan 52 orang lainnya kehilangan uang yang telah disetorkan untuk membeli rumah impian. Total nilainya mencapai Rp3 miliar yang berasal dari uang muka, bahkan sebagain lain sudah melunasi pembayaran.

“Dari sekitar 53 orang saat ini, jumlah kerugiannya lebih dari Rp3 miliar. Uang itu telah disetor ke pengembang,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com ditemui di Bandung, akhir pekan lalu.

KE mengungkapkan, saat ini, masing-masing konsumen membangun komunikasi, dan masih mendata jumlah korban dugaan penipuan. Diperkirakan jumlah korban dan nilai kerugiannya masih akan bertambah.

Lihat juga: Ombudsman Laporkan 3.000 Aduan Masyarakat Soal Kinerja Polisi

Pasalnya, lanjut KE, Syna Group diketahui melakukan pemasaran perumahan di lima lokasi lainnya di Bandung dan Sumedang. Yakni, Desa Cikadut di Kecamatan Cimenyan, Kecamatan Cilengkrang, Kecamatan Ciparay, Kecamatan Cikancung, dan satu di Desa Cigendel, Kecamatan Pamulihan di Sumedang.

“Sebelumnya juga sudah ada aduan dari pembeli di Cikadut dengan masalah yang sama. Sudah setor uang bahkan sampai lunas, tetapi tidak ada pembangunan sama sekali,” katanya.

KE menceritakan, pengembang memberikan gimmick harga rumah sangat murah untuk pembayaran tunai. Misalnya, rumah seharga Rp210 juta per unit dilego Rp100 juta jika pembayarannya lunas di muka.

Saat ini, sebagian besar konsumen masih mengumpulkan bukti-bukti untuk menempuh jalur hukum, meski ada sebagian konsumen yang telah melaporkan kasus ini ke pihak yang berwenang.

Sebagian konsumen lainnya bahkan telah mendesak pengembalian uang kepada pengembang. Namun, pihak pengembang maupun induk usahanya Syna Group, terus mengulur waktu hingga menghilang dan memutus komunikasi.

Sekadar informasi, dugaan penipuan pengembang bodong Syna Group bermula pada awal tahun lalu. Perusahaan menawarkan rumah seharga Rp210 juta per unit dengan uang muka berbeda-beda antara satu konsumen dengan konsumen lain.

Kebanyakan konsumen menyetor uang muka sebesar Rp60 juta per orang. Kemudian, membayar cicilan di kisaran Rp1,25 juta per bulan dengan tenor 10 tahun. Sementara, bagi konsumen yang ingin membayar lunas dikenakan hanya Rp100 juta per unit.

Kejanggalan lain, Syna Group tidak menyediakan skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) lewat bank dan tidak ada sistem pengecekan kelayakan konsumen, seperti layaknya bank yang akan menyalurkan KPR. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here