IMG-20170415-WA0025

250 Warga Pacitan Positif HIV-AIDS

IMG_20160910_152919BERITAPLATMERAH,Pacitan – Tidak ada penjelasan pasti yang menunjukkan penyebab dan bagaimana virus yang belum ditemukan obatnya itu bisa menjangkiti masyarakat Pacitan.

Yang jelas, data Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat menunjukkan ada 250 warga Pacitan yang positif terjangkit HIV-AIDS, sejak 2010. Parahnya, 114 penderita, di antaranya, sudah meninggal dunia.

Sebulan terakhir, salah seorang penderita HIV-AIDS di Pacitan baru saja menemui ajalnya. Ini, menambah angka kematian menjadi 115 orang.

‘’Penyebarannya sudah sangat parah. Dengan kondisi seperti itu, nyatanya HIV-AIDS masih sulit dideteksi,’’ ujar Kepala Bidang P2PL Dinkes, Wawan Kasianto,(14/4)

Wawan mengatakan, mayoritas penderita HIV-AIDS di Pacitan merupakan para pekerja yang mencari nafkah di luar daerah. Dan di daerah perantauan itulah, mereka tertular HIV-AIDS. Sepulang mereka dari perantauan, penyebaran virus tersebut tidak terdeteksi.

Ia mengaku kesulitan memetakan penyebaran HIV-AIDS, karena para penderitanya cenderung menutup diri. Setelah sakit-sakitan, barulah diketahui orang-orang tersebut positif terjangkit HIV-AIDS.

‘’Kami baru bisa mengetahui seseorang positif terjangkit HIV-AIDS, ketika dia sakit dan gejala klinisnya mengarah kesana. Jadi tidak tahu orang tersebut kontak dan menularkan virus tersebut kepada siapa saja,’’ jelasnya.

Hasilnya, angka penyebaran HIV-AIDS pun meledak. Kondisi itu semakin diperparah dengan banyaknya pekerja dari luar daerah yang menyerbu Pacitan. Terutama, para pekerja di tempat-tempat hiburan malam.

Sebab, disanalah tempat yang rawan menyebarkan virus mematikan tersebut. Wawan mengaku tidak bisa serta merta memeriksa para pekerja malam tersebut. Dia hanya bisa memberikan petunjuk dan arahan, serta menyediakan fasilitas pemeriksaan kepada mereka.

‘’Sekali waktu, para pekerja di Pacitan harus dikumpulkan, dan diberi penyuluhan. Itu juga demi keselamatan mereka. Sebab jika diketahui lebih dini, maka peluang bahaya HIV-AIDS bisa diminimalisir,’’ terangnya.

Sayangnya, wacana dewan yang akan membuat perda inisiatif untuk menekan HIV-AIDS hanya sebatas omong kosong. Sejak wacana digulirkan tahun lalu, belum terlihat action dari para wakil rakyat. Padahal, waktu terus bergulir dan dimungkinkan, penderita-penderita HIV-AIDS baru terus bermunculan.

Menurut Wawan, sejak tahun lalu, DPRD baru sebatas meminta data penderita HIV-AIDS. Mereka tidak sekalipun mengajak serta Dinkes berdialog untuk menyusun raperda tersebut.

‘’Tidak tahu kelanjutannya seperti apa. Sebab, kami baru dimintai data saja, belum pernah sekalipun diajak berdialog atau diberitahu bagaimana progres perda inisiatif itu,’’ tandasnya.(RAP/tyo)